Fimela.com, Jakarta - Moms, sebagai orangtua kita hampir selalu ingin memberikan yang terbaik. Kita ingin anak tumbuh percaya diri, berani bermimpi, punya empati, dan mampu menghadapi hidup dengan tenang. Kita mendukung mereka, menyemangati, dan tak jarang mendorong agar mereka bisa menjadi versi terbaik dari dirinya.
Hanya saja di tengah niat baik itu, ada satu kenyataan yang semakin sering ditemui: banyak anak justru tumbuh dengan kecemasan. Bukan karena kurang cinta, melainkan karena mereka menyimpan keyakinan batin yang pelan-pelan menggerogoti kepercayaan dirinya: “Aku tidak cukup.”
Anak yang merasa “tidak cukup”, seperti yang dilansir dari laman drsandygluckman.com, akan hidup dalam tekanan yang tak terlihat. Mereka cemas saat membuat kesalahan, takut mengecewakan orangtua, dan terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain. Kecemasan ini membuat otak mereka berada dalam mode siaga, sehingga sulit fokus, sulit tenang, dan sulit menikmati proses belajar maupun bermain.
Ironisnya, semakin cemas anak, semakin sulit pula bagi mereka untuk memenuhi ekspektasi orang dewasa. Di sinilah lingkaran stres terbentuk: anak berusaha keras, gagal memenuhi harapan, merasa tidak cukup, lalu semakin cemas. Berikut beberapa kesalahan pola asuh yang bisa berdampak negatif bagi kesehatan emosional anak.
Terlalu Fokus Memperbaiki Anak
Saat anak kesulitan mengatur emosi, belajar, atau bersikap, respons alami orangtua adalah ingin segera membantu. Sayangnya, bantuan ini sering datang dalam bentuk koreksi yang terus-menerus. Percakapan sehari-hari dipenuhi nasihat, evaluasi, dan penekanan pada apa yang belum berhasil.
Ketika fokus lebih banyak tertuju pada kekurangan daripada kelebihan, anak merasa dirinya adalah masalah yang harus diperbaiki. Pesan yang tertangkap bukan “Aku peduli padamu,” melainkan “Ada yang salah denganmu.”
Akibatnya, kecemasan anak meningkat dan rasa percaya dirinya menurun.
Ingin Anak Berubah, tapi Orangtua Lupa Berkaca
Moms, anak belajar lebih banyak dari apa yang kita lakukan dibandingkan apa yang kita katakan. Orangtua yang sering merasa tidak puas dengan dirinya sendiri, mudah stres, dan keras secara emosional, tanpa sadar menjadi cermin bagi anak.
Jika kita ingin anak tumbuh percaya diri, tenang, dan merasa cukup, kita perlu terlebih dahulu mempraktikkannya dalam hidup kita sendiri. Anak merasakan energi emosional orangtuanya. orangtua yang damai cenderung membesarkan anak yang lebih tenang.
Kita tidak bisa memberikan sesuatu yang belum kita miliki.
Melihat Anak sebagai Pribadi yang Penuh Kekurangan
Ketika anak mengalami masalah, label sering muncul tanpa sadar. Anak dianggap malas, terlalu sensitif, sulit fokus, atau kurang disiplin. Padahal, keyakinan orangtua tentang anak sangat memengaruhi cara kita memperlakukan mereka.
Apa yang kita yakini akan menentukan cara kita bersikap. Dan cara kita bersikap akan membentuk cara anak melihat dirinya sendiri. Ketika anak terus dipandang sebagai “bermasalah,” mereka akan tumbuh sesuai dengan label itu.
Sebaliknya, ketika orangtua melihat anak sebagai pribadi yang terus bertumbuh dan memiliki potensi, respons yang muncul akan lebih penuh empati dan harapan.
Mencari Solusi di Luar, padahal Kuncinya di Rumah
Banyak orangtua langsung mencari bantuan profesional saat anak menunjukkan tanda kecemasan. Bantuan ini tentu penting, tetapi tidak akan maksimal jika pola hubungan di rumah tetap sama.
Hubungan orangtua dan anak adalah fondasi utama kesehatan emosional. Jika anak pulang ke rumah yang penuh tekanan, kritik, dan tuntutan, proses penyembuhan menjadi jauh lebih sulit. Perubahan kecil dalam cara berinteraksi sehari-hari justru sering membawa dampak besar.
Langkah Sadar untuk Membantu Anak Lebih Tenang
Langkah pertama adalah melihat kecemasan anak sebagai sinyal, bukan sifat bawaan. Ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi dengan cara yang sesuai bagi anak tersebut.
Langkah kedua, lepaskan rasa bersalah. Tidak ada orangtua yang sempurna. Menyalahkan diri sendiri hanya akan menambah stres, dan stres orangtua sering kali menular pada anak.
Langkah ketiga, perbanyak percakapan yang menyembuhkan. Bicarakan hal-hal baik tentang anak. Akui usaha mereka, bukan hanya hasilnya. Terapkan prinsip lima pesan positif untuk setiap satu koreksi. Pola ini membantu anak membangun keyakinan baru bahwa dirinya berharga.
Langkah keempat, kenali keunikan anak. Setiap anak memiliki minat, bakat, dan ritme belajar yang berbeda. Saat anak merasa diterima dan dihargai atas keunikannya, tekanan batin akan berkurang dengan sendirinya.
Moms, anak bukannya membutuhkan orangtua yang sempurna. Mereka membutuhkan orangtua yang hadir, mau belajar, dan bersedia memperbaiki diri. Rumah yang penuh penerimaan akan menjadi tempat anak pulang dengan rasa aman, bukan rasa takut.
Saat anak merasa cukup di mata orangtuanya, dunia tidak lagi terasa terlalu menekan. Dari rumah yang hangat dan penuh empati, anak belajar satu hal penting yang akan mereka bawa sepanjang hidup: “Aku cukup. Aku berharga. Dan aku dicintai.”