Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, hubungan antara kekasih atau istri dengan ibu mertua seringkali digambarkan sebagai salah satu konflik tertua dan paling rumit dalam sejarah hubungan manusia. Fenomena ini kembali menjadi sorotan publik menyusul pernyataan mengejutkan Brooklyn Beckham mengenai hubungan yang tegang antara keluarganya dan istrinya, Nicola Peltz. Lydia Spencer-Elliott dari Independent.co.uk menggali lebih dalam isu ini, berbicara dengan para spesialis untuk memahami siapa yang sebenarnya "menang" dalam pertarungan ini.
Berbagi kasih sayang seorang pria dengan wanita lain bisa menjadi hal yang sulit, dan ini mungkin paling dirasakan oleh para ibu dan menantu perempuan mereka. Secara historis, hubungan ini seringkali diwarnai perselisihan yang epik. Perayaan besar seperti ulang tahun atau Natal sering memicu konflik mengenai siapa yang berhak menjadi tuan rumah. Sementara itu, peristiwa penting dalam hidup, seperti pernikahan, dapat memicu keretakan yang membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk pulih.
Survei YouGov tahun lalu menemukan bahwa hampir sepertiga wanita pernah "bertengkar" dengan ibu mertua mereka pada suatu titik dalam hubungan mereka. Penelitian terpisah juga menunjukkan bahwa 60 persen wanita mengakui hubungan dengan ibu mertua menyebabkan ketidakbahagiaan dan stres jangka panjang.
Mengapa Konflik Kekasih dan Ibu Mertua Sulit Dihindari?
Dinamika antara kekasih atau istri dan ibu mertua memang kerap menjadi sumber ketegangan yang kompleks. Seringkali, akar masalahnya terletak pada perasaan "berbagi" kasih sayang seorang pria yang dicintai oleh kedua belah pihak. Bagi seorang ibu, melepaskan sebagian kontrol atas putranya kepada wanita lain bisa menjadi tantangan emosional yang besar, begitu pula bagi menantu yang ingin membangun keluarganya sendiri.
Konflik ini seringkali memuncak pada momen-momen penting dalam keluarga. Perayaan seperti ulang tahun atau Natal, yang seharusnya menjadi ajang kebersamaan, justru bisa memicu perselisihan mengenai siapa yang akan menjadi tuan rumah atau bagaimana tradisi akan dijalankan. Hal ini menunjukkan betapa sensitifnya isu kepemilikan dan peran dalam keluarga baru.
Lebih jauh lagi, peristiwa besar dalam hidup, seperti pernikahan itu sendiri, seringkali menjadi pemicu keretakan yang mendalam. Ketidaksepakatan seputar perencanaan atau ekspektasi bisa meninggalkan luka yang membutuhkan waktu lama untuk pulih. Statistik pun mendukung fenomena ini; sebuah survei YouGov mengungkapkan bahwa hampir sepertiga wanita pernah berselisih dengan ibu mertua mereka.
Penelitian lain bahkan lebih mengkhawatirkan, menunjukkan bahwa 60 persen wanita mengakui hubungan dengan ibu mertua menyebabkan ketidakbahagiaan dan stres jangka panjang. Angka ini menyoroti betapa seriusnya dampak konflik ini terhadap kesejahteraan emosional menantu perempuan.
Peran Pria dalam Dinamika Hubungan Ibu Mertua dan Menantu
Dalam segitiga hubungan antara ibu mertua, kekasih/istri, dan pria di tengahnya, seringkali pria tersebut secara tidak sadar "turut serta" dalam konflik yang terjadi. Menurut ahli, pria perlu "dididik untuk keluar dari situasi itu" agar tidak memperkeruh suasana. Ketidakpahaman atau sikap pasif pria dapat memperpanjang dan memperburuk ketegangan yang ada.
Contoh nyata dari fenomena ini dapat ditemukan dalam novel "The Girlfriend" karya Frances, di mana putra Laura, Daniel, banyak menghabiskan waktunya dalam keadaan koma saat Laura dan Cherry berseteru. Apter, seorang ahli yang diwawancarai, berpendapat bahwa plot ini sangat pas, karena pria yang terlibat dalam perselisihan seringkali tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua wanita penting dalam hidupnya.
Pria seringkali merasa terjepit di antara ibu dan pasangannya, sehingga mereka cenderung menghindari konfrontasi atau tidak menyadari nuansa konflik yang lebih halus. Padahal, peran mereka sebagai penengah sangat vital untuk menjaga keharmonisan keluarga. Komunikasi yang efektif dan empati dari pihak pria dapat membantu meredakan ketegangan dan mencari solusi bersama.
Strategi Meredakan Ketegangan: Bisakah Ada Pemenang?
Sahabat Fimela, meskipun hubungan kekasih dan ibu mertua sering diwarnai ketegangan, Apter menyatakan bahwa ada cara untuk meredakan ibu mertua yang sulit. Salah satunya adalah dengan menjelaskan bahwa Anda menginginkan kehadirannya dalam hidup Anda dan melibatkannya sesuai kebutuhan. Pendekatan ini dapat membantu menciptakan ikatan yang lebih positif.
Namun, penting untuk diingat bahwa tidak ada pihak yang benar-benar bisa "memenangkan" pertarungan ini. Sama seperti konflik dengan kerabat sedarah, tidak ada kemenangan mutlak yang bisa dicapai. Fokusnya harus pada pengelolaan konflik dan membangun hubungan yang sehat, bukan pada upaya untuk "mengalahkan" pihak lain.
Hal terburuk yang bisa dilakukan saat ketegangan memuncak adalah memberikan ultimatum "aku atau dia". Apter menyebut tindakan ini "merusak – dan merupakan jenis pelecehan". Ultimatum semacam itu sama dengan mengatakan, "Patuhi kebutuhanku, atau aku tidak akan berhubungan denganmu," yang hanya akan memperburuk situasi dan merusak hubungan secara permanen.
Membangun Hubungan yang Tangguh dengan Keluarga Pasangan
Secara realistis, Sahabat Fimela, kita akan mengalami gesekan sesekali dengan keluarga pasangan kita, sama seperti kita bertengkar dalam keluarga sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana kita bangkit kembali dan memperbaiki hubungan tersebut. Menerima bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar adalah langkah pertama menuju hubungan yang lebih sehat.
Apter menjelaskan bahwa "tidak ada hubungan yang selalu seimbang". Akan selalu ada "sedikit gangguan" atau ketidaksepakatan. Kunci untuk menghadapinya adalah mengetahui bahwa menegur perilaku seseorang tidak selalu mengancam hubungan. Ini adalah bagian dari proses belajar dan adaptasi dalam setiap interaksi keluarga.
Kemampuan untuk "berpisah dan kemudian memperbaiki" adalah tanda hubungan yang tangguh. Ini berarti kita bisa menghadapi konflik, menyelesaikannya, dan kemudian membangun kembali jembatan komunikasi. Sedikit pengampunan dan sedikit fleksibilitas dapat membantu semua pihak untuk rukun dan menjaga keharmonisan.
Membangun komunikasi terbuka, menetapkan batasan yang sehat, dan melibatkan pasangan sebagai penengah adalah strategi penting. Dengan dukungan dan pemahaman bersama, hubungan dengan ibu mertua dapat berkembang menjadi lebih positif dan mendukung kebahagiaan rumah tangga Anda.