5 Tips Membesarkan Anak yang Bahagia dan Sehat Emosinya

Endah WijayantiDiterbitkan 31 Januari 2026, 08:45 WIB

Fimela.com, Jakarta - Menjadi orangtua sering kali dimulai dari perhatian pada hal-hal yang bersifat fisik. Sejak anak lahir, Moms mungkin lebih terbiasa mencatat berat badan, tinggi badan, jadwal imunisasi, hingga memastikan asupan gizinya tercukupi. Semua itu adalah bentuk cinta yang nyata. Hanya saja, di balik perhatian pada kesehatan fisik, ada satu aspek yang tak kalah penting dan sering luput dari keseharian, yaitu kesehatan emosional anak.

Anak yang sehat secara emosional bukan berarti anak yang selalu ceria atau tidak pernah menangis. Justru sebaliknya, anak yang sehat emosinya adalah anak yang mampu mengenali perasaannya, mengekspresikannya dengan aman, dan merasa diterima apa adanya. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh tekanan, kehadiran orangtua secara emosional menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak.

Berikut ini lima tips seperti yang dirangkum dari laman Psychology Today, yang bisa Moms terapkan untuk membantu membesarkan anak yang sehat secara emosional, dengan pendekatan yang hangat, realistis, dan relevan dengan kehidupan keluarga masa kini.

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

1. Peka terhadap Perubahan Emosi, Bukan Sekadar Perilaku

1. Peka terhadap Perubahan Emosi, Bukan Sekadar Perilaku./Copyright depositphotos.com/ramirezom

Sering kali, emosi anak berbicara melalui perubahan sikap. Anak yang mendadak pendiam, lebih mudah marah, atau terlalu larut dengan gawai dan makanan, bisa jadi sedang menyimpan perasaan yang belum mampu ia pahami atau ungkapkan.

Moms, penting untuk melihat perubahan ini sebagai sinyal, bukan sekadar kenakalan atau fase sementara. Sama seperti ketika anak demam dan kita segera waspada, perubahan emosi pun layak mendapat perhatian yang sama. Kepekaan ini membantu orangtua hadir lebih awal sebelum masalah kecil berkembang menjadi beban emosional yang lebih besar.

3 dari 6 halaman

2. Validasi Perasaan Anak, tanpa Harus Membenarkan Semua Perilaku

2. Validasi Perasaan Anak, tanpa Harus Membenarkan Semua Perilaku./Copyright Fimela/Adrian Putra

Mengatakan “Ah, itu kan sepele” mungkin terasa menenangkan bagi orang dewasa, tetapi bagi anak, kalimat tersebut bisa membuat perasaannya terasa tidak penting. Dunia emosional anak memang sederhana, namun justru karena itu perasaan mereka terasa begitu nyata dan intens.

Memvalidasi perasaan anak bukan berarti membiarkan semua tindakannya. Moms tetap bisa memberi batasan sambil mengatakan bahwa perasaannya dimengerti. Saat anak merasa diterima secara emosional, ia belajar bahwa emosi bukan sesuatu yang harus disembunyikan atau ditekan, melainkan sesuatu yang bisa dikelola dengan sehat.

4 dari 6 halaman

3. Hadir dengan Empati, Bukan Reaksi Spontan

3. Hadir dengan Empati, Bukan Reaksi Spontan./Copyright Fimela/Adrian Putra

Dalam dinamika pengasuhan, reaksi spontan sering kali muncul sebelum empati sempat bekerja. Padahal, saat anak bercerita, mereka tidak selalu membutuhkan solusi atau nasihat panjang. Yang mereka butuhkan adalah didengar.

Menjadi orangtua yang hadir secara emosional berarti mampu menahan diri untuk tidak langsung menghakimi, membela diri, atau menggurui. Dengarkan dengan penuh perhatian, dan biarkan anak menyelesaikan ceritanya. Jika Moms merasa pernah bereaksi kurang tepat, meminta maaf kepada anak justru menjadi contoh nyata tentang kedewasaan emosional dan tanggung jawab atas perasaan sendiri.

5 dari 6 halaman

4. Bangun Komunikasi yang Hangat dan Setara

4. Bangun Komunikasi yang Hangat dan Setara./Copyright depositphotos.com/marucco

Aturan memang penting, tetapi hubungan yang sehat dibangun dari kepercayaan. Anak akan lebih terbuka ketika mereka merasa aman untuk jujur tanpa takut disalahkan atau diremehkan.

Moms bisa mulai dari hal sederhana, seperti menepati janji, bersikap konsisten, dan memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapatnya. Komunikasi yang hangat dan setara mengajarkan anak bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling menghargai, bukan yang didominasi oleh rasa takut atau kewajiban semata.

6 dari 6 halaman

5. Ciptakan Waktu Berkualitas dan Lingkungan Aman untuk Bercerita

5. Ciptakan Waktu Berkualitas dan Lingkungan Aman untuk Bercerita./Copyright depositphotos.com/geargodz

Di tengah kesibukan sehari-hari, waktu bersama anak sering kali terasa terbatas. Namun, kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Waktu berkualitas adalah ketika perhatian Moms benar-benar utuh, tanpa distraksi pekerjaan atau gawai.

Sesekali, biarkan anak memilih aktivitas yang ingin dilakukan bersama. Dari permainan sederhana, obrolan santai, atau kegiatan kreatif, orangtua bisa memahami dunia batin anak dengan lebih dalam.

Jika suatu saat anak tidak nyaman bercerita langsung kepada orangtua, bantu ia menemukan figur dewasa lain yang aman dan tepercaya. Hal ini bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk dukungan agar anak tetap memiliki ruang aman untuk mengekspresikan perasaannya.

Tanpa disadari, anak belajar paling banyak dari apa yang mereka lihat. Cara Moms mengelola stres, mengekspresikan emosi, dan menyelesaikan konflik akan menjadi contoh nyata bagi anak.

Ketika orangtua mampu mengakui rasa lelah, kecewa, atau sedih dengan cara yang sehat, anak belajar bahwa emosi bukan sesuatu yang memalukan.

Ketika konflik diselesaikan dengan dialog, anak belajar bahwa masalah tidak harus disikapi dengan kemarahan. Teladan inilah yang akan tertanam kuat dan membentuk karakter emosional anak di masa depan.

Moms, membesarkan anak yang sehat secara emosional adalah perjalanan panjang yang penuh proses. Akan ada hari-hari yang terasa melelahkan, dan ada pula momen-momen kecil yang menghangatkan hati. Semua itu adalah bagian dari tumbuh bersama.

Dengan hadir secara emosional, mendengarkan dengan empati, dan terus belajar memahami dunia batin anak, Moms sedang menanamkan bekal yang akan mereka bawa seumur hidup.

Kesehatan emosional bukan hanya tentang masa kanak-kanak, tetapi tentang kemampuan anak kelak untuk mencintai dirinya sendiri, membangun hubungan yang sehat, dan menghadapi hidup dengan hati yang kuat serta penuh rasa percaya diri.