5 Sikap yang Membuat Orang Tidak Nyaman Bicara Denganmu

Endah WijayantiDiterbitkan 29 Januari 2026, 09:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Berbicara seharusnya menjadi ruang bertukar energi, bukan arena tarik-menarik emosi yang menguras tenaga. Hanya saja dalam praktiknya, ada percakapan yang terasa berat bahkan sebelum kalimat pertama selesai diucapkan. Bukan karena topiknya, melainkan karena sikap-sikap tertentu yang tanpa sadar menciptakan jarak. Sikap ini jarang disadari pemiliknya, tetapi sangat terasa bagi orang di seberang.

Kali ini kita akan membahas komunikasi dari sudut yang jarang dibahas: bukan soal kata yang salah, melainkan sikap-sikap tertentu yang memengaruhi interaksi. Lima sikap berikut sering membuat orang enggan membuka diri, meski niat awal sebenarnya baik.

 

 

 

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

1. Mendengar dengan Pikiran Sibuk Sendiri, Bukan dengan Kehadiran yang Utuh

1. Mendengar dengan Pikiran Sibuk Sendiri, Bukan dengan Kehadiran yang Utuh./Copyright Fimela - Adrian Utama Putra

Ada sikap mendengar yang tampak sopan, tetapi kosong dari kehadiran. Tatapan ada, anggukan muncul, namun pikiran sibuk menyusun respons, sanggahan, atau cerita tandingan. Lawan bicara menangkapnya sebagai jarak emosional yang dingin.

Sahabat Fimela, ketika seseorang merasa tidak benar-benar didengarkan, tubuhnya secara alami menutup. Nada suara melemah, kalimat dipersingkat, dan keinginan berbagi menghilang. Bukan karena topik tidak penting, melainkan karena ia merasa tidak benar-benar ditemui.

Kehadiran utuh bukan soal teknik, melainkan sikap batin yang bersedia berhenti sejenak dari diri sendiri. Saat itu terjadi, percakapan berubah menjadi ruang aman, bukan sekadar pertukaran informasi.

 

 

 

3 dari 6 halaman

2. Menghakimi Terlalu Cepat, Seolah Semua Cerita Perlu Putusan Akhir

2. Menghakimi Terlalu Cepat, Seolah Semua Cerita Perlu Putusan Akhir./Copyright freepik.com/author/tirachardz

Beberapa orang masuk ke percakapan dengan refleks menilai. Nada suaranya mungkin lembut, tetapi kalimatnya cepat mengarah pada kesimpulan. Cerita belum selesai, respons sudah menghakimi.

Ssikap ini membuat orang merasa harus berhati-hati sebelum berbicara. Setiap kalimat disaring, setiap emosi ditahan, karena ada rasa takut disalahkan atau dilabeli. Percakapan pun kehilangan kejujurannya.

Manusia tidak selalu butuh penilaian, apalagi solusi instan. Banyak cerita hanya ingin diakui keberadaannya. Ketika ruang bicara bebas dari vonis, kepercayaan tumbuh dengan sendirinya.

 

 

4 dari 6 halaman

3. Menyamaratakan Pengalaman, Seolah Semua Hidup Berjalan di Jalur yang Sama

3. Menyamaratakan Pengalaman, Seolah Semua Hidup Berjalan di Jalur yang Sama./Copyright Fimela - Abel Risang

Niat menghibur kadang berubah menjadi pengabaian ketika pengalaman orang lain langsung dibandingkan. Kalimat yang terdengar akrab justru memotong keunikan cerita di hadapan kita.

Sahabat Fimela, setiap pengalaman memiliki konteks emosional yang tidak bisa dipindahkan begitu saja. Saat seseorang merasa kisahnya diperkecil atau disamakan, ia akan memilih diam daripada menjelaskan lebih jauh.

Menghormati perbedaan pengalaman bukan berarti setuju dengan segalanya, melainkan memberi ruang pada kenyataan bahwa setiap orang memikul bebannya dengan cara berbeda.

 

 

5 dari 6 halaman

4. Mendominasi Arah Bicara, Seakan Percakapan Harus Selalu Dikendalikan

4. Mendominasi Arah Bicara, Seakan Percakapan Harus Selalu Dikendalikan./Copyright Fimela - Abel Risang

Ada sikap yang membuat percakapan terasa satu arah meski berlangsung dua orang. Topik bergeser mengikuti kehendak sendiri, cerita orang lain dipotong dengan versi pribadi, dan ruang bicara menjadi sempit.

Dominasi halus seperti ini sering tidak disadari. Namun dampaknya jelas: lawan bicara merasa hanya menjadi pendengar tambahan, bukan rekan dialog.

Percakapan yang sehat bertumbuh dari keseimbangan. Saat kontrol dilepaskan, muncul rasa setara yang membuat orang berani hadir apa adanya.

 

 

6 dari 6 halaman

5. Menampilkan Kepedulian yang Sarat Agenda Tersembunyi

5. Menampilkan Kepedulian yang Sarat Agenda Tersembunyi./Copyright Fimela/Adrian Utama Putra

Ada kepedulian yang terasa berat karena disertai tujuan lain: ingin terlihat bijak, ingin diakui paling paham, atau ingin mengarahkan keputusan. Kepedulian seperti ini cepat tercium, meski dibungkus kata manis.

Ketika kepedulian memiliki agenda, orang akan menjaga jarak. Bukan karena tidak butuh dukungan, melainkan karena tidak ingin dimanipulasi secara emosional.

Ketulusan selalu terasa ringan. Ia tidak menuntut balasan, tidak ingin menang, dan tidak memaksa arah. Dari sanalah kenyamanan bicara lahir.

Percakapan yang nyaman tidak dibangun dari teknik komunikasi yang rumit, melainkan dari sikap batin yang bersih dan hadir. Saat sikap-sikap yang menciptakan jarak mulai disadari, hubungan pun bergerak ke arah yang lebih jujur dan menenangkan.

Sahabat Fimela, menjadi tempat yang aman bagi orang lain bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang bersedia menanggalkan ego demi pertemuan yang lebih manusiawi. Di sanalah percakapan menemukan maknanya sebagai ruang saling menguatkan, bukan sekadar saling bersuara.