5 Hal Penting tentang Tangisan Bayi yang Bukan Sekadar Rewel

Endah WijayantiDiterbitkan 02 Februari 2026, 13:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Tangisan bayi sering kali menjadi suara paling pertama yang mengubah hidup seseorang. Bagi banyak orangtua khususnya para orangtua baru, tangisan itu bisa terasa mengharukan, membingungkan, melelahkan, bahkan menguji kesabaran dalam waktu yang bersamaan. Ada hari-hari ketika tangisan terdengar singkat dan mudah ditenangkan, tetapi tak jarang ada saat-saat ketika tangisan itu seolah tak kunjung berhenti, membuat hati cemas dan pikiran penuh tanya.

Tangisan merupakan bahasa pertama bayi untuk berkomunikasi. Di balik setiap tangisan, selalu ada pesan. Berikut lima hal penting yang perlu Moms ketahui seperti yang dirangkum dari laman Help Guide, agar dapat memahami, merespons, dan menghadapi tangisan bayi dengan lebih tenang dan penuh empati.

2 dari 6 halaman

1. Tangisan adalah Bahasa Utama Bayi

1. Tangisan adalah Bahasa Utama Bayi./Copyright depositphotos.com/geargodz

Bayi belum bisa berbicara, menunjuk, atau menjelaskan apa yang mereka rasakan. Tangisan adalah satu-satunya cara mereka “berbicara” kepada dunia. Melalui tangisan, bayi memberi tahu bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi atau ada rasa tidak nyaman yang sedang mereka alami.

Tangisan bisa berarti lapar, mengantuk, popok basah, perut kembung, rasa tidak nyaman akibat suara bising, atau bahkan kelelahan karena terlalu banyak stimulasi.

Ada juga tangisan yang berkaitan dengan kolik, refluks asam lambung, alergi makanan, rasa sakit, atau rasa takut pada orang asing.

Pada awalnya, semua tangisan mungkin terdengar sama. Namun seiring waktu, Moms akan mulai mengenali perbedaannya, seperti nada yang lebih tinggi, ritme yang berbeda, atau ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang menyertainya. Proses ini memang butuh kepekaan yang akan tumbuh seiring kedekatan emosional yang terbangun setiap hari.

3 dari 6 halaman

2. Tidak Semua Tangisan Bisa Langsung Diselesaikan

2. Tidak Semua Tangisan Bisa Langsung Diselesaikan/Copyright depositphotos.com/leungchopan

Salah satu hal yang sering membuat orangtua tertekan adalah anggapan bahwa setiap tangisan harus segera berhenti. Padahal, ada kondisi di mana bayi tetap menangis meski kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi.

Sebagian bayi mengalami fase puncak tangisan di usia sekitar enam minggu, dan pada beberapa bayi, fase ini bisa berlangsung lebih lama. Ini bukan kesalahan Moms, dan bukan pula pertanda ada yang salah dalam pola asuh.

Mengetahui bahwa tangisan bisa menjadi bagian dari proses perkembangan justru bisa membantu Moms untuk lebih sabar. Tangisan memiliki batas waktunya sendiri.

Yang terpenting bukan menghentikan tangisan secepat mungkin, melainkan hadir dan responsif terhadap bayi selama proses tersebut berlangsung.

4 dari 6 halaman

3. Bayi yang Terlalu Pasif Juga Perlu Diwaspadai

3. Bayi yang Terlalu Pasif Juga Perlu Diwaspadai. (Foto: blankitaua/Pixabay)

Sebagian besar bayi akan terus menangis atau menunjukkan ketidaknyamanan sampai ada respons dari orang dewasa. Hanya saja, ada pula bayi yang justru menjadi sangat diam, tampak “mudah diurus”, dan tidak banyak bereaksi terhadap lingkungan.

Sekilas, bayi seperti ini terlihat tenang dan tidak merepotkan. Tapi, bayi yang tidak responsif terhadap sentuhan, suara, atau interaksi bisa jadi sedang mengalami kesulitan emosional atau sensorik.

Jika Moms merasa bayi tampak acuh, tidak menunjukkan ekspresi, atau jarang merespons, penting untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis.

Bayi membutuhkan hubungan timbal balik. Respons orangtua, melalui suara lembut, sentuhan hangat, dan kontak mata, sangat penting untuk perkembangan emosional dan keterikatan yang sehat.

5 dari 6 halaman

4. Mengguncang Bayi Bukan Solusi, dan Sangat Berbahaya

4. Mengguncang Bayi Bukan Solusi, dan Sangat Berbahaya/Copyright depositphotos.com/prathancorruangsak

Saat menghadapi tangisan yang berkepanjangan, rasa lelah dan frustrasi bisa memuncak. Inilah mengapa penting untuk menegaskan satu hal krusial: mengguncang bayi tidak pernah boleh dilakukan, dalam kondisi apa pun.

Mengguncang bayi dapat menyebabkan Shaken Baby Syndrome, sebuah kondisi serius yang dapat mengakibatkan kerusakan otak permanen, kejang, gangguan penglihatan, bahkan kematian. Kondisi ini sering terjadi bukan karena niat jahat, melainkan karena orang dewasa yang berada di titik kelelahan emosional.

Jika Moms merasa sudah berada di batas kesabaran, meletakkan bayi di tempat aman lalu mengambil jeda sejenak, lalu menarik napas, minum air, atau meminta bantuan, adalah langkah yang jauh lebih aman dan bijak. Menjaga bayi juga berarti menjaga diri sendiri.

6 dari 6 halaman

5. Menenangkan Bayi Dimulai dari Menenangkan Diri Sendiri

5. Menenangkan Bayi Dimulai dari Menenangkan Diri Sendiri./Copyright freepik.com

Bayi sangat peka terhadap emosi orang dewasa di sekitarnya. Ketika Moms merasa cemas, marah, atau kewalahan, bayi sering kali ikut merasakan ketegangan tersebut dan menjadi lebih sulit ditenangkan.

Salah satu pendekatan yang banyak membantu adalah metode 5 S yang diperkenalkan oleh Dr. Harvey Karp, yaitu membedong (swaddling), menggendong miring atau tengkurap (saat terjaga), membuat suara “shushing” atau white noise, gerakan mengayun lembut, dan memberikan kesempatan bayi untuk mengisap. Metode ini meniru kondisi dalam rahim dan dapat mengaktifkan refleks menenangkan pada bayi.

Dari semua teknik tersebut, kondisi emosional Moms tetap menjadi kunci penting. Mengakui batas diri, meminta bantuan, dan tidak memaksakan kesempurnaan adalah bagian penting dari pengasuhan yang sehat. Parenting bukan tentang selalu benar, melainkan tentang terus belajar dan hadir dengan niat baik.

Para ahli menyebutkan bahwa merespons kebutuhan bayi secara konsisten sekitar setengah dari waktu saja sudah cukup untuk membangun keterikatan yang aman. Artinya, Moms tidak harus sempurna setiap saat.

Tangisan bayi memang melelahkan, tetapi di baliknya tersimpan proses penting dalam membangun hubungan antara orangtua dan anak.

Setiap kali Moms mencoba memahami, menenangkan, dan hadir, bayi belajar bahwa dunia adalah tempat yang aman dan responsif.

Jika suatu hari Moms merasa lelah, sedih, atau bahkan merasa jauh dari bayi, ketahuilah bahwa perasaan tersebut valid. Dukungan, baik dari pasangan, keluarga, teman, maupun profesional, bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan buah hati.

Tangisan bayi tidak akan berlangsung selamanya. Akan tetapi, kehangatan, kesabaran, dan keterikatan yang Moms bangun hari ini akan menjadi fondasi emosional yang dibawa anak seumur hidup.