Sukses

FimelaMom

Mengenal Conscious Parenting: Pola Asuh dengan Kesadaran Diri untuk Hubungan Lebih Harmonis

Fimela.com, Jakarta Menjadi orangtua adalah perjalanan panjang yang penuh dinamika. Mulai dari memastikan anak mendapat gizi seimbang, pendidikan terbaik, hingga tumbuh menjadi pribadi yang baik, semuanya membutuhkan tenaga, waktu, dan pikiran. Namun di tengah kesibukan itu, sering kali orangtua lupa untuk berhenti sejenak dan bertanya mengenai kondisi diri sendiri. 

Tak jarang orangtua menuntut diri terlalu keras agar anak tumbuh sempurna. Padahal, kondisi mental dan fisik orangtua juga berpengaruh besar pada cara anak merespons dunia. Anak belajar bukan hanya dari perkataan, tapi juga dari cara orangtua bersikap dan mengelola emosinya. Jika orangtua selalu stres, mudah marah, atau terlalu mengontrol, anak pun bisa meniru pola yang sama.

Dilansir dari Cleveland Clinic, konsep conscious parenting hadir sebagai pendekatan pola asuh yang berfokus pada kesadaran diri orangtua. Metode ini mengajarkan orangtua untuk memahami emosi, pikiran, dan kebutuhannya terlebih dahulu, agar bisa mendampingi anak dengan lebih tenang, positif, dan penuh empati.

Apa Itu Conscious Parenting?

Conscious parenting bukan sekadar bagaimana mendidik anak, melainkan bagaimana orangtua mengenal dirinya sendiri. Psikolog Chivonna Childs, PhD, menjelaskan bahwa pola asuh ini mengajak orangtua untuk melakukan refleksi diri, menyadari bagaimana kondisi mental maupun fisik mereka memengaruhi interaksi dengan anak.

Dengan kesadaran ini, orangtua bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan, menahan emosi, serta merespons situasi dengan tenang. Alih-alih sekadar memberi aturan keras atau hukuman, orangtua diajak untuk lebih mendengarkan, berdialog, dan mengajarkan anak dengan contoh nyata.

Mengapa Conscious Parenting Penting?

Banyak penelitian menunjukkan, pola asuh orangtua sangat memengaruhi perkembangan mental anak. Orangtua yang sehat secara emosional cenderung menggunakan gaya komunikasi positif, sehingga anak merasa aman, dihargai, dan lebih mudah mengembangkan rasa percaya diri.

Sebaliknya, jika orangtua sering stres, lelah, atau tidak bahagia, anak bisa merasakan energi negatif itu. Kondisi ini berisiko menimbulkan pola hubungan yang penuh konflik. Maka dari itu, conscious parenting menekankan pentingnya orangtua merawat diri terlebih dahulu. Dengan begitu, anak akan mendapatkan contoh nyata bagaimana cara mengelola emosi dan menjalani hidup dengan seimbang.

Tips Menerapkan Conscious Parenting

Bagi sebagian orangtua, pola asuh ini mungkin terdengar idealis. Namun, sebenarnya ada beberapa langkah sederhana yang bisa mulai diterapkan sehari-hari:

  • Rutin melakukan check-in keluarga

Jangan hanya bicara soal masalah besar. Luangkan waktu khusus seminggu sekali atau beberapa kali dalam sebulan untuk duduk bersama anak dan pasangan. Tanyakan kabar, perasaan, serta hal apa saja yang sedang mereka hadapi. Lakukan dengan suasana santai, tanpa gangguan gadget. Cara ini membuat setiap anggota keluarga merasa penting dan didengarkan.

  • Mengajarkan aktivitas menenangkan

Baik anak maupun orangtua bisa sama-sama mudah marah ketika stres. Ajarkan cara sederhana seperti menarik napas dalam, jalan santai, yoga, atau sekadar bermain di luar rumah. Aktivitas ini tidak hanya menenangkan, tapi juga memperkuat ikatan keluarga.

  • Menjaga kesehatan mental diri sendiri

Orangtua yang kelelahan emosional cenderung lebih cepat marah. Jika merasa terbebani, jangan ragu mencari dukungan, baik dari pasangan, keluarga, maupun profesional. Ingat, merawat diri bukan egois, tapi justru penting agar bisa mendampingi anak dengan baik.

  • Berbicara sesuai tingkat pemahaman anak

Anak berhak untuk didengar. Libatkan mereka dalam percakapan, terutama saat membuat aturan atau keputusan keluarga. Jelaskan alasan di balik keputusan itu dengan bahasa yang bisa mereka mengerti. Dengan begitu, anak merasa dihargai dan belajar berpikir kritis.

Belajar dari Kesalahan

Penting untuk diingat, tidak ada orangtua yang sempurna. Conscious parenting bukan berarti tidak pernah marah atau tidak pernah salah, melainkan menyadari kesalahan dan berusaha memperbaikinya. Anak pun akan belajar bahwa membuat kesalahan adalah hal yang wajar, selama ada usaha untuk bertanggung jawab dan memperbaikinya.

Dengan pola ini, setiap konflik bisa menjadi kesempatan untuk belajar, bukan sekadar hukuman atau kemarahan. Hubungan orangtua dan anak pun menjadi lebih hangat, saling memahami, dan penuh kasih sayang.

Menerapkan conscious parenting berarti hadir secara utuh dalam mendampingi anak, sekaligus tidak melupakan kebutuhan diri sendiri. Dengan menjaga keseimbangan antara peran sebagai orangtua dan individu, hubungan keluarga akan terasa lebih sehat, harmonis, dan penuh empati. Pada akhirnya, anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, penuh kasih, dan siap menghadapi dunia dengan bijak.

Penulis: Siti Nur Arisha

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading