Mengapa Anak Perempuan Lebih Bahagia di Sekolah Dibanding Anak Laki-Laki?

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 02 Februari 2026, 18:19 WIB

ringkasan

  • Penelitian terbaru dari NTNU menunjukkan bahwa anak perempuan secara signifikan lebih bahagia di sekolah dibandingkan anak laki-laki, sebuah temuan yang konsisten di berbagai pengukuran kesejahteraan dan preferensi.
  • Perbedaan kebahagiaan ini dijelaskan oleh faktor biologis, di mana anak perempuan mendapatkan dopamin melalui hubungan sosial, sementara anak laki-laki melalui perilaku berpusat pada diri sendiri
  • Lingkungan sekolah saat ini, dengan hari belajar yang panjang dan tuntutan untuk duduk diam, dianggap lebih cocok untuk anak perempuan, sehingga memengaruhi kesejahteraan anak laki-laki

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, sebuah penelitian inovatif baru-baru ini menunjukkan temuan menarik tentang pengalaman anak-anak di sekolah. Studi ini mengungkapkan bahwa anak perempuan secara signifikan lebih bahagia di lingkungan sekolah dibandingkan dengan anak laki-laki. Perbedaan ini menyoroti aspek penting dalam kesejahteraan siswa yang mungkin belum banyak disadari.

Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Hermundur Sigmundsson dari Departemen Psikologi di Norwegian University of Science and Technology (NTNU) ini melibatkan 1.620 anak. Anak-anak yang menjadi subjek penelitian berusia antara 6 hingga 9 tahun di Norwegia, dengan usia rata-rata 7,5 tahun.

Hasil studi ini memberikan pemahaman baru mengenai perbedaan mendasar dalam pengalaman belajar antara kedua gender, yang diduga kuat berakar pada faktor biologis dan juga lingkungan sekolah. Mengapa ada disparitas kebahagiaan ini? Mari kita telusuri lebih lanjut.

2 dari 4 halaman

Perbedaan Tingkat Kebahagiaan yang Jelas

Ilustrasi anak sekolah. (dok. unsplash/Novi Thedora)

Profesor Sigmundsson dengan tegas menyatakan adanya perbedaan yang mencolok antara anak perempuan dan laki-laki terkait kesejahteraan mereka di sekolah. Menurutnya, anak perempuan menunjukkan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi, baik saat berada di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah secara keseluruhan.

Kesenjangan ini tidaklah halus; ketika ditanya bagaimana perasaan mereka di sekolah, anak perempuan memberikan skor yang jauh lebih tinggi. Hal yang sama berlaku ketika mereka ditanya seberapa besar mereka menyukai kelas mereka, anak perempuan kembali mencetak skor lebih tinggi.

Perbedaan ini konsisten di berbagai pengukuran, mulai dari kesejahteraan umum hingga preferensi mata pelajaran dan persepsi kompetensi. Tampaknya, anak perempuan merasa lebih nyaman dan cocok dengan seluruh kegiatan di sekolah.

3 dari 4 halaman

Peran Hormon Dopamin dan Testosteron

Salah satu penjelasan utama yang diajukan oleh penelitian ini adalah perbedaan biologis yang berkaitan dengan hormon dopamin dan testosteron. Perbedaan ini dapat menjadi kunci untuk memahami mengapa anak perempuan lebih bahagia di sekolah.

Anak perempuan mendapatkan lebih banyak aktivitas dopamin, sering disebut sebagai 'hormon kebahagiaan', melalui hubungan sosial, termasuk interaksi dengan teman-teman dan teman sekelas mereka. Dopamin dilepaskan tubuh saat kita merasa senang.

Sebaliknya, anak laki-laki mendapatkan dopamin melalui perilaku yang lebih berpusat pada diri sendiri. Selain itu, anak laki-laki juga memiliki kadar testosteron yang lebih tinggi, yang menimbulkan kebutuhan lebih besar akan aktivitas fisik. Hari-hari sekolah yang panjang dengan tuntutan untuk duduk diam dalam waktu lama, tidak cocok dengan neurokimia anak laki-laki.

4 dari 4 halaman

Lingkungan Sekolah yang Lebih Cocok untuk Anak Perempuan

Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa lingkungan sekolah saat ini mungkin secara inheren lebih sesuai untuk anak perempuan. Profesor Sigmundsson bahkan menyatakan, "Dapat dikatakan bahwa sekolah lebih cocok untuk anak perempuan. Ini mungkin memiliki penyebab biologis, antara lain."

Faktor-faktor seperti durasi hari sekolah yang panjang dan tuntutan untuk duduk diam dalam waktu lama kurang sesuai dengan kebutuhan biologis anak laki-laki yang memiliki dorongan lebih besar untuk beraktivitas fisik. Hal ini dapat memengaruhi kesejahteraan mereka secara keseluruhan di lingkungan belajar.

Studi ini menunjukkan korelasi yang kuat antara kesejahteraan dan perasaan aman di sekolah. Profesor Sigmundsson menekankan bahwa menikmati sekolah dan merasa aman di sekolah sangat terkait erat. Korelasi terkuat ditemukan antara pertanyaan tentang keamanan di sekolah dan keamanan selama waktu istirahat. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya mempertimbangkan perbedaan gender dalam merancang lingkungan belajar yang mendukung kesejahteraan semua siswa.