5 Langkah Kecil untuk Bangkit saat Merasa Paling Terpuruk

Endah WijayantiDiterbitkan 19 Februari 2026, 09:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Hidup kadang membawa kita pada fase yang terasa begitu berat tanpa banyak peringatan. Bangun pagi terasa sulit, pikiran penuh, dan hati seperti kehilangan arah. Hal-hal sederhana yang biasanya bisa dijalani dengan ringan mendadak terasa menguras tenaga. Di titik seperti itu, wajar jika kamu merasa lelah, kecewa, bahkan kehilangan harapan.

Sahabat Fimela, ketika berada di kondisi paling terpuruk, kamu tidak membutuhkan perubahan besar yang instan. Kamu tidak harus langsung kembali kuat, produktif, atau terlihat baik-baik saja. Bangkit sering kali dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan sadar dan penuh kesabaran. Berikut lima langkah yang bisa membantumu perlahan berdiri kembali.

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

1. Mengakui bahwa Kamu Sedang Tidak Baik-Baik Saja

1. Mengakui bahwa Kamu Sedang Tidak Baik-Baik Saja./Copyright depositphotos.com/liufuyu

Langkah pertama adalah kejujuran pada diri sendiri. Banyak orang semakin tenggelam karena menolak mengakui bahwa dirinya sedang lelah atau terluka. Kita terbiasa memasang wajah tegar dan berkata bahwa semuanya baik-baik saja, padahal di dalam hati terasa kacau.

Mengakui bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan. Itu justru bentuk keberanian. Saat kamu berkata dalam hati, “Ini memang berat untukku,” kamu sedang memberi ruang bagi emosimu untuk diakui. Penerimaan seperti ini membantu mengurangi tekanan yang selama ini kamu tahan sendirian.

Kamu tidak perlu langsung mencari solusi. Tidak perlu buru-buru memperbaiki semuanya. Fokuslah pada menerima kenyataan bahwa kamu sedang berada di fase yang sulit. Dari penerimaan itu, ketenangan perlahan bisa tumbuh.

3 dari 6 halaman

2. Mengambil Kendali Lewat Hal-Hal Kecil

2. Mengambil Kendali Lewat Hal-Hal Kecil./Copyright freepik.com/author/prostooleh

Ketika hidup terasa berantakan, sering kali yang paling menyakitkan adalah rasa kehilangan kendali. Maka, kembalikan rasa kendali itu melalui tindakan sederhana yang bisa kamu lakukan hari ini.

Rapikan tempat tidur. Bersihkan meja kerja. Selesaikan satu tugas kecil yang tertunda. Tindakan-tindakan sederhana ini mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya besar secara psikologis. Kamu memberi sinyal pada dirimu sendiri bahwa kamu masih mampu melakukan sesuatu.

Bangkit tidak selalu dimulai dari keputusan besar. Sering kali ia dimulai dari satu tindakan kecil yang dilakukan dengan konsisten. Saat kamu berhasil menyelesaikan satu hal, rasa percaya diri yang sempat meredup perlahan kembali menyala.

4 dari 6 halaman

3. Menjaga Diri dari Tekanan yang Tidak Perlu

3. Menjaga Diri dari Tekanan yang Tidak Perlu./Copyright depositphotos.com/mumemories

Saat kondisi mental sedang rapuh, kamu menjadi lebih sensitif terhadap lingkungan. Melihat pencapaian orang lain di media sosial atau mendengar komentar yang tidak peka bisa membuat luka terasa lebih dalam.

Memberi jarak dari hal-hal yang memicu tekanan bukan berarti kamu lari dari kenyataan. Itu adalah bentuk perlindungan diri. Kurangi paparan yang membuatmu semakin membandingkan diri. Pilih konten, percakapan, dan aktivitas yang membuatmu merasa lebih tenang.

Sahabat Fimela, kamu berhak menciptakan ruang yang aman untuk dirimu sendiri. Lingkungan yang sehat akan sangat membantu proses pemulihan. Ketika energi tidak lagi terkuras oleh hal-hal negatif, kamu memiliki lebih banyak ruang untuk membangun kembali kekuatanmu.

5 dari 6 halaman

4. Berani Berbagi Cerita pada Orang Terpercaya

4. Berani Berbagi Cerita pada Orang Terpercaya./Copyright Fimela - Abel

Memendam semuanya sendirian hanya akan membuat beban terasa lebih berat. Berbagi cerita bukan tanda ketergantungan, melainkan bentuk keberanian. Kamu tidak perlu membuka diri kepada banyak orang. Cukup satu orang yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi.

Ketika kamu mengungkapkan apa yang kamu rasakan, pikiran yang tadinya terasa penuh mulai lebih teratur. Perasaan yang selama ini berputar di kepala mendapatkan tempat untuk keluar. Terkadang, kamu tidak membutuhkan solusi. Kamu hanya perlu didengar dan dipahami.

Jika berbicara terasa sulit, menulis bisa menjadi langkah awal. Menuangkan isi hati ke dalam kata-kata membantu mengurai emosi yang kusut. Proses ini membuatmu lebih mengenal dirimu sendiri dan menyadari bahwa kamu tidak benar-benar sendirian.

6 dari 6 halaman

5. Memasang Target Kecil untuk Beberapa Hari ke Depan

5. Memasang Target Kecil untuk Beberapa Hari ke Depan./Copyright depositphotos.com/pb20th

Memikirkan masa depan yang panjang saat sedang terpuruk bisa terasa menakutkan. Karena itu, perkecil jaraknya. Fokuslah pada beberapa hari ke depan. Tanyakan pada diri sendiri, apa satu hal kecil yang bisa aku lakukan minggu ini untuk membuat hidupku sedikit lebih baik?

Target itu tidak perlu besar. Bahkan langkah sederhana seperti berjalan kaki sebentar setiap sore atau menyelesaikan satu kewajiban yang tertunda sudah cukup berarti. Saat kamu berhasil melakukannya, muncul rasa mampu yang selama ini mungkin hilang.

Konsistensi dalam hal kecil jauh lebih penting daripada ambisi besar yang tidak bertahan lama. Dari langkah-langkah kecil yang diulang setiap hari, momentum perlahan terbentuk. Dan dari momentum itulah kekuatanmu kembali tumbuh.

Merasa terpuruk bukan akhir dari perjalanan hidupmu. Itu adalah bagian dari proses menjadi manusia yang utuh. Tidak ada orang yang selalu kuat, dan tidak ada kehidupan yang selalu stabil. Masa sulit bukan bukti bahwa kamu gagal, melainkan kesempatan untuk mengenal dirimu lebih dalam.

Sahabat Fimela, jika hari ini kamu hanya mampu melakukan satu langkah kecil, itu sudah cukup. Jika hari ini kamu hanya mampu bertahan tanpa membuat keadaan semakin buruk, itu juga sebuah kemajuan. Jangan meremehkan usaha kecil yang kamu lakukan.

Bangkit tidak selalu terlihat dramatis. Ia sering kali terjadi secara pelan dan sunyi. Akan tetapi, selama kamu masih memilih untuk melangkah, sekecil apa pun langkah itu, kamu sebenarnya sedang bergerak menuju versi dirimu yang lebih kuat dan lebih bijaksana.