Sukses

FimelaMom

Tangis dan Amarah Saat Kecewa, Cara Efektif Menenangkan Anak Tanpa Mengabaikan Perasaannya

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, momen ketika anak tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan, entah hadiah yang tidak sesuai keinginan, permainan yang tidak berjalan mulus, atau rencana yang berubah tiba-tiba sering kali berakhir dengan tangis atau kekecewaan besar.

Dan wajar, karena di usia mereka, kemampuan mengelola emosi masih jauh dari matang. Namun, di balik momen sulit ini, ada kesempatan emas bagi orang tua untuk membantu anak belajar menghadapi rasa kecewa dengan cara yang sehat.

Dilansir dari natgeokids.com, mengelola kekecewaan adalah bekal hidup yang akan mereka gunakan sepanjang masa. Berikut cara membantu anak memproses dan melewati perasaan kecewa dengan lebih baik.

1. Pahami Ilmu di Balik Rasa Kecewa

Secara ilmiah, anak belum mampu mengontrol emosi sebaik orang dewasa. Ketika rasa kecewa muncul, bagian otak mereka yang bertugas untuk berpikir logis “offline”, sementara amygdala, pusat emosi, mengambil alih. Itu sebabnya mereka bisa langsung menangis, marah, atau tantrum. Anak tidak sedang “berlebihan”. Mereka memang belum memiliki kemampuan menenangkan diri secara mandiri.

 

 

2. Jujur dan Realistis Saat Memberi Penjelasan

Jika anak tidak bisa mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, sampaikan dengan jujur dan lembut.Contohnya:“Bunda tahu kamu sangat menginginkannya. Tapi tahun ini Bunda belum bisa membelinya.” Penjelasan yang jelas membantu anak memahami situasi dan merasa dihargai secara emosional.

3. Terima dan Validasi Emosi Mereka

Biarkan anak merasakan kekecewaan tanpa disalahkan. Hindari kalimat seperti “Ah, cuma begitu saja kok nangis.” atau “Harusnya kamu bersyukur.” Sebaliknya, coba katakan:“Kamu kecewa, ya? Bunda mengerti kok.” Validasi adalah langkah pertama agar anak merasa aman untuk memproses perasaannya.

4. Bantu Anak Menamai Perasaan Mereka

Tidak semua anak tahu apa yang mereka rasakan. Bisa jadi mereka marah padahal sebenarnya sedih.Dengan memberi label pada perasaan, misalnya:“Kamu sedang merasa kecewa dan bingung, ya?”anak belajar memahami emosi mereka. Ini adalah fondasi penting dari emotional intelligence.

 5. Gali Penyebab Kekecewaan yang Sebenarnya

Kadang, yang membuat anak kecewa bukan sekadar “hadiah tidak dapat”.Bisa jadi karena teman-temannya punya, atau karena mereka ingin merasa termasuk. Luangkan waktu berbicara sambil menggambar atau berjalan santai, tanpa tekanan tatap muka. Dari situ, anak lebih mudah bercerita tentang apa yang mereka rasakan.

6. Atur Ekspektasi Sejak Awal

Membantu anak membuat ekspektasi yang realistis sangat efektif mencegah kekecewaan yang berlebihan.Misalnya, beri pilihan terbatas:“Kamu boleh memilih satu hadiah dari daftar ini, ya.” Ini juga menjadi latihan untuk mengambil keputusan secara bijak.

7. Ajarkan Teknik Menenangkan Diri

Saat emosi memuncak, anak butuh bantuan untuk menenangkan tubuhnya.Beberapa teknik yang bisa dipraktikkan, seperti deep breathing sederhana, menggambar, menulis perasaan, meremas slime, ataupun merobek kertas dengan terkontrol. 

Latihan ini sebaiknya dilakukan bukan hanya saat krisis, tetapi juga saat suasana hati sedang baik.

8. Tunjukkan Cara Dewasa Mengelola Kekecewaan

Anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan hanya dari apa yang mereka dengar. Orang tua bisa mencontohkan dengan berkata:“Ayah juga kecewa karena rencana kita berubah. Ayah butuh beberapa menit untuk menenangkan diri, ya.” Ini memberikan pesan penting bahwa kecewa itu normal dan ada cara sehat untuk menghadapinya.

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading