Sukses

FimelaMom

Kenali 9 Buku dan Permainan Seru untuk Mengasah Anak Berpikir Kritis Sejak Dini

Fimela.com, Jakarta Berpikir kritis adalah keterampilan penting yang perlu dikenalkan pada anak sejak dini. Dengan kemampuan ini, anak bisa lebih mudah membedakan mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan, sekaligus terbiasa melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang.

Mengasah kemampuan berpikir kritis tidak selalu harus melalui pelajaran formal. Justru, buku bacaan dan permainan sederhana bisa jadi media menyenangkan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan menganalisis pada anak. Saat anak terbiasa dengan aktivitas yang merangsang logika, mereka akan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.

Dilansir dari Common Sense Ethics, ada banyak pilihan buku dan permainan yang bisa disesuaikan dengan usia anak. Mulai dari tahap awal usia sekolah hingga remaja, jenis bacaan dan aktivitas ini dapat membantu melatih logika, berpikir kritis dan mengenali kesalahan berpikir, hingga belajar menyusun argumen dengan baik.

Untuk Usia 5–11 Tahun: Tahap Grammar

Di tahap ini, anak-anak sedang senang-senangnya bermain, mengeksplorasi, dan mudah mengingat banyak hal. Buku dan permainan yang cocok biasanya berbentuk aktivitas sederhana, fakta menarik, hingga puzzle seru.

1. Children’s Book of Philosophy (Usia 8–12)

Buku ini menjadi pengantar ringan tentang filsafat untuk anak-anak. Dengan ilustrasi menarik dan cerita singkat tentang tokoh-tokoh besar, anak terdorong untuk mulai bertanya “mengapa” dan berpikir lebih dalam.

2. 101 Fresh & Fun Critical-Thinking Activities (Usia 6–9)

Buku ini berisi kegiatan interaktif seperti permainan logika, kuis, dan aktivitas menyenangkan yang melatih anak memecahkan masalah sekaligus berkomunikasi lebih baik.

3. 81 Fresh & Fun Critical Thinking Activities (Usia 9–12)

Melalui teka-teki dan aktivitas lintas mata pelajaran, anak-anak bisa melatih kemampuan mengenali, mengingat, serta mengevaluasi informasi. Cocok untuk anak yang sudah mulai senang menantang diri dengan soal-soal sulit.

Permainan tambahan: Puzzle, teka-teki silang, atau permainan papan seperti Guess Who? dan Scrabble Junior juga sangat bermanfaat untuk melatih daya analisis.

Untuk Usia 12–15 Tahun: Tahap Logic

Memasuki usia remaja awal, anak-anak mulai kritis, gemar bertanya, dan mampu berpikir lebih abstrak. Buku pada tahap ini banyak membantu mereka memahami logika, mengenali kesalahan berpikir, serta belajar menyusun argumen yang jelas.

4. Cartoon Introduction to Philosophy (Usia 11+)

Novel grafis ini membuat filsafat terasa lebih seru. Diceritakan dengan gaya komik, anak-anak bisa mengenal pemikiran para tokoh besar sambil tetap terhibur.

5. The Fallacy Detective (Usia 11–15)

Buku ini berisi 38 pelajaran praktis untuk mengenali kesalahan logika yang sering muncul dalam percakapan sehari-hari maupun media. Ada latihan tertulis juga yang membuat anak lebih terlatih menganalisis.

6. The Art of Argument (Usia 12–15)

Ditulis khusus untuk anak SMP, buku ini membantu mereka berpikir jernih, menilai argumen, sekaligus memahami cara kerja persuasi. Dengan contoh sehari-hari, logika terasa lebih mudah dipahami.

Permainan tambahan: Debat ringan di rumah bisa jadi aktivitas seru. Orangtua bisa memberi topik sederhana, lalu meminta anak menyampaikan argumen pro dan kontra.

Untuk Usia 15–18 Tahun: Tahap Rhetoric

Di tahap ini, remaja sudah mulai siap mempelajari seni berbicara, menulis, dan berdebat dengan cara yang lebih matang. Buku yang cocok biasanya berhubungan dengan retorika, penyusunan argumen, hingga filosofi tingkat dasar.

7. A Rulebook for Arguments (Usia 15+)

Buku populer ini mengajarkan cara menyusun argumen dengan jelas, ringkas, dan logis. Sangat membantu remaja dalam menulis esai maupun berdiskusi.

8. Rhetoric Alive!: Principles of Persuasion (Usia 15+)

Berdasarkan karya klasik Aristoteles, buku ini mengajarkan teknik persuasi yang bisa membuat remaja lebih percaya diri saat berbicara di depan umum maupun menulis.

9. Mastering Logical Fallacies (Usia 15+)

Buku ini membekali pembaca dengan kemampuan mengenali dan menghindari kesalahan logika dalam debat. Dengan banyak contoh dari kehidupan nyata, remaja bisa belajar bagaimana cara berargumen dengan lebih kuat dan efektif.

Permainan tambahan: Simulasi debat atau lomba pidato kecil bersama teman sebaya dapat menjadi latihan retorika yang menyenangkan sekaligus bermanfaat.

Sahabat Fimela, mengajarkan anak berpikir kritis bukan sekadar soal pelajaran di sekolah, tetapi juga tentang memberi mereka pengalaman belajar yang menyenangkan. Dengan buku-buku menarik dan permainan seru sesuai usia, anak-anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih analitis, terbuka, dan bijak dalam menghadapi tantangan hidup.

Penulis: Siti Nur Arisha

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading