5 Cara Cerdas Menghadapi Orang yang Meremehkanmu

Endah WijayantiDiterbitkan 22 Februari 2026, 09:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Tidak semua orang melihat kita dengan cara yang positif. Ada yang meremehkan kemampuan kita. Ada yang memandang sebelah mata usaha kita. Bahkan ada yang terang-terangan meragukan kapasitas kita di depan orang lain.

Menghadapi situasi seperti itu memang tidak nyaman. Rasa kesal, kecewa, bahkan marah bisa muncul bersamaan. Tapi Sahabat Fimela, cara kita merespons perlakuan seperti itu jauh lebih menentukan daripada sikap mereka sendiri.

Meremehkan adalah sikap orang lain. Harga diri adalah pilihan kita.

Berikut lima cara cerdas yang bisa kamu lakukan ketika menghadapi orang yang meremehkanmu.

2 dari 6 halaman

1. Jangan Bereaksi Berlebihan, Kendalikan Emosi Terlebih Dahulu

1. Jangan Bereaksi Berlebihan, Kendalikan Emosi Terlebih Dahulu./Copyright freepik.com/author/benzoix

Reaksi spontan sering kali lahir dari emosi yang belum selesai. Ketika diremehkan, dorongan untuk membalas atau membuktikan diri saat itu juga terasa kuat. Namun, bereaksi secara emosional justru memberi kesan bahwa ucapan mereka berhasil menggoyahkanmu.

Tenang bukan berarti lemah. Diam sejenak bukan berarti kalah.

Ambil jeda. Tarik napas. Pilah mana yang memang perlu ditanggapi dan mana yang cukup dibiarkan. Tidak semua komentar layak mendapatkan energi dan perhatianmu.

Orang yang meremehkan sering kali berharap kamu terpancing. Ketika kamu tetap tenang, mereka kehilangan panggungnya. Sikap ini menunjukkan bahwa kamu punya kendali atas diri sendiri. Dan itu adalah bentuk kekuatan yang tidak bisa diremehkan.

3 dari 6 halaman

2. Evaluasi Diri dengan Jujur, Bukan dengan Minder

2. Evaluasi Diri dengan Jujur, Bukan dengan Minder./Copyright depositphotos.com/bongkarngraphic

Ada kalanya kritik yang terasa seperti meremehkan sebenarnya menyimpan sedikit kebenaran. Bukan berarti cara penyampaiannya benar, tetapi mungkin ada hal yang memang bisa kita perbaiki.

Di sinilah kedewasaan diuji.

Tanyakan pada diri sendiri dengan jujur: apakah ada bagian dari diriku yang memang perlu berkembang? Jika ada, jadikan itu bahan perbaikan, bukan bahan untuk merendahkan diri.

Namun jika kamu tahu bahwa komentar itu murni merendahkan tanpa dasar, jangan biarkan ia merusak rasa percaya dirimu.

Membedakan mana kritik membangun dan mana sekadar meremehkan adalah keterampilan emosional yang penting. Kamu tidak perlu menelan semuanya mentah-mentah. Pilah, saring, lalu ambil yang memang berguna.

4 dari 6 halaman

3. Tunjukkan Kualitas Lewat Tindakan, Bukan Perdebatan

3. Tunjukkan Kualitas Lewat Tindakan, Bukan Perdebatan./Copyright depositphotos.com/bongkarngraphic

Berdebat panjang untuk membuktikan diri jarang membawa hasil. Orang yang sudah punya pandangan meremehkan biasanya tidak berubah hanya karena argumen.

Yang lebih efektif adalah konsistensi.

Jika mereka meragukan kemampuanmu, tingkatkan kualitas kerja. Jika mereka meremehkan komitmenmu, tunjukkan kedisiplinan. Jika mereka menganggapmu tidak mampu, biarkan hasil yang berbicara.

Tidak perlu pamer. Tidak perlu mencari pengakuan. Cukup fokus pada progres.

Sahabat Fimela, pembuktian terbaik adalah peningkatan diri yang nyata. Orang bisa meragukan kata-kata, tapi sulit menyangkal hasil.

Dan ketika hasil itu konsisten, sikap meremehkan perlahan akan kehilangan pijakan.

5 dari 6 halaman

4. Tetapkan Batasan dengan Tegas dan Elegan

4. Tetapkan Batasan dengan Tegas dan Elegan./Copyright depositphotos.com/pb20th

Ada situasi di mana diam bukan lagi pilihan terbaik. Jika sikap meremehkan sudah masuk ke ranah merendahkan martabat atau mengganggu pekerjaanmu, kamu berhak bersikap tegas.

Tegas bukan berarti kasar. Tegas berarti jelas.

Kamu bisa mengatakan, “Saya kurang nyaman dengan cara penyampaian seperti itu,” atau “Jika ada masukan, saya lebih terbuka untuk membahasnya secara konstruktif.”

Kalimat sederhana, tapi menunjukkan bahwa kamu menghargai dirimu sendiri.

Banyak orang meremehkan karena merasa tidak akan mendapat perlawanan. Ketika kamu menunjukkan batasan yang sehat, mereka belajar bahwa kamu bukan orang yang bisa diperlakukan sembarangan.

Menetapkan batasan adalah bentuk self-respect. Dan orang lain akan memperlakukanmu sesuai standar yang kamu tetapkan.

6 dari 6 halaman

5. Jangan Jadikan Penilaian Mereka sebagai Identitasmu

5. Jangan Jadikan Penilaian Mereka sebagai Identitasmu./Copyright depositphotos.com/liufuyu

Ini yang paling penting.

Orang yang meremehkan sering kali berbicara dari sudut pandang terbatas: pengalaman mereka, ketakutan mereka, bahkan rasa tidak aman mereka sendiri.

Jika kamu terlalu sering mendengar komentar negatif, ada risiko kamu mulai mempercayainya. Di sinilah kamu perlu waspada.

Penilaian mereka bukan identitasmu.

Kamu lebih dari satu opini. Kamu lebih dari satu komentar sinis. Kamu lebih dari satu kegagalan, jika memang ada.

Bangun identitasmu dari nilai, usaha, dan integritas yang kamu pegang. Ketika kamu tahu siapa dirimu dan apa yang kamu perjuangkan, suara meremehkan akan terdengar semakin kecil.

Percaya diri bukan berarti merasa paling hebat. Percaya diri berarti tahu bahwa kamu tetap layak dihargai, bahkan ketika orang lain belum melihat nilaimu.

Mengubah Cara Pandang: Tidak Semua yang Meremehkan Perlu Dilawan

Ada satu sudut pandang yang mungkin jarang dibahas. Kadang, orang meremehkan karena mereka sendiri merasa terancam. Keberadaanmu, potensi kamu, atau konsistensimu membuat mereka tidak nyaman.

Ini bukan tentang membenarkan sikap mereka. Tapi memahami motif di baliknya membantu kita tidak mengambil semuanya secara pribadi.

Semakin kamu berkembang, semakin kamu akan bertemu orang-orang dengan respons beragam. Tidak semua akan mendukung. Tidak semua akan percaya.

Tugasmu bukan membuat semua orang mengakui nilaimu. Tugasmu adalah tetap bertumbuh, tetap berintegritas, dan tetap menghormati diri sendiri.

Fokus pada Lingkungan yang Mendukung

Satu hal lagi yang tak kalah penting: perhatikan lingkunganmu.

Jika kamu terus-menerus berada di sekitar orang yang meremehkan, perlahan kepercayaan dirimu bisa terkikis. Carilah lingkungan yang sehat. Lingkungan yang bisa memberi kritik tanpa menjatuhkan. Lingkungan yang mendorongmu berkembang.

Sahabat Fimela, kita tidak bisa selalu memilih siapa yang kita temui. Tapi kita bisa memilih siapa yang kita dengarkan.

Isi hidupmu dengan orang-orang yang menghargai prosesmu. Bukan yang sibuk meremehkannya.

Menghadapi orang yang meremehkan memang menguji kesabaran dan kematangan emosi. Namun dari situ juga kita belajar satu hal penting: nilai diri tidak berasal dari validasi orang lain.

Kamu tidak perlu membuktikan diri kepada semua orang. Kamu hanya perlu konsisten pada standar yang kamu yakini.

Tenang saat diremehkan adalah kekuatan. Tegas saat dibutuhkan adalah keberanian. Fokus pada peningkatan diri adalah strategi.

Waktu dan kualitas akan berbicara lebih lantang daripada komentar siapa pun.

Dan ketika kamu tetap berdiri dengan kepala tegak, orang yang dulu meremehkan mungkin akan menyadari satu hal: mereka keliru menilaimu sejak awal.