7 Kebiasaan Orang yang Tetap Humble saat Sukses

Endah WijayantiDiterbitkan 26 Februari 2026, 17:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Kesuksesan sering kali mengubah cara seseorang diperlakukan. Pujian datang lebih sering. Pengakuan terasa lebih nyata. Kesempatan terbuka lebih lebar. Akan tetapi, di tengah semua itu, ada satu hal yang tidak semua orang mampu jaga: kerendahan hati.

Menjadi sukses bukan perkara mudah. Tapi tetap humble setelah sukses justru jauh lebih menantang. Banyak orang bisa bekerja keras untuk mencapai puncak, namun tidak semua mampu tetap humble ketika sudah berada di atas.

Sahabat Fimela, ada orang-orang yang tetap tenang, tidak merasa lebih tinggi, dan tidak berubah menjadi pribadi yang sulit dijangkau meski hidupnya sudah jauh berkembang. Dari pengalaman dan pengamatan terhadap banyak karakter seperti ini, ada beberapa kebiasaan yang konsisten mereka lakukan. Berikut tujuh kebiasaan orang yang tetap humble saat sukses.

What's On Fimela
2 dari 8 halaman

1. Tetap Mau Mendengar, Bukan Hanya Didengar

1. Tetap Mau Mendengar, Bukan Hanya Didengar./Copyright freepik.com/author/lifestylememory

Orang yang sukses biasanya punya banyak hal untuk dibagikan. Pengalaman, wawasan, strategi, bahkan inspirasi. Tapi yang membedakan mereka yang humble adalah kemauan untuk tetap mendengar.

Mereka tidak merasa sudah tahu segalanya. Saat berbicara dengan orang lain, mereka hadir sepenuhnya. Tidak memotong pembicaraan. Tidak tergesa menunjukkan pencapaian pribadi. Tidak merasa perlu selalu menjadi pusat perhatian.

Kebiasaan mendengar ini membuat orang di sekitarnya merasa dihargai. Dan rasa dihargai itu jauh lebih berkesan daripada sekadar mendengar cerita keberhasilan seseorang.

3 dari 8 halaman

2. Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil

2. Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil./Copyright freepik.com/author/katemangostar

Orang yang tetap rendah hati sadar bahwa kesuksesan tidak datang dalam semalam. Ada kerja keras, kegagalan, bantuan orang lain, dan kesempatan yang tidak selalu bisa dikendalikan.

Karena menyadari hal itu, mereka tidak melihat pencapaian sebagai bukti bahwa diri mereka paling hebat. Mereka melihatnya sebagai hasil dari proses panjang yang melibatkan banyak faktor.

Sikap ini membuat mereka tidak mudah meremehkan orang lain yang mungkin masih berada di tahap awal perjalanan. Mereka tahu, setiap orang punya waktunya sendiri.

4 dari 8 halaman

3. Tidak Menggunakan Kesuksesan untuk Merendahkan

3. Tidak Menggunakan Kesuksesan untuk Merendahkan./Copyright freepik.com/author/lifestylememory

Ada perbedaan besar antara membagikan pengalaman dan memamerkan pencapaian. Orang yang humble tahu batasnya.

Mereka tidak menjadikan kesuksesan sebagai alat untuk menunjukkan superioritas. Tidak menyelipkan perbandingan yang membuat orang lain merasa kecil. Tidak menggunakan kalimat yang secara halus merendahkan.

Sebaliknya, mereka lebih sering menggunakan keberhasilan sebagai sarana untuk menguatkan orang lain. Bukan untuk membuat jarak, tetapi untuk membuka peluang.

5 dari 8 halaman

4. Tetap Menghargai Semua Orang tanpa Memandang Status

4. Tetap Menghargai Semua Orang tanpa Memandang Status./Copyright freepik.com/author/benzoix

Salah satu tanda paling jelas dari kerendahan hati adalah cara seseorang memperlakukan orang lain, terutama mereka yang dianggap “tidak berpengaruh”.

Orang yang tetap humble tidak berubah sikap hanya karena posisi atau kekayaan bertambah. Mereka tetap sopan pada siapa pun. Mengucapkan terima kasih. Menghargai waktu orang lain. Tidak merasa lebih penting.

Kesederhanaan ini bukan dibuat-buat. Ia lahir dari pemahaman bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh jabatan atau penghasilan semata.

6 dari 8 halaman

5. Mau Mengakui Kesalahan dan Keterbatasan

5. Mau Mengakui Kesalahan dan Keterbatasan./Copyright depositphotos.com/BongkarnGraphic

Kesuksesan sering kali membuat seseorang terlihat kuat dan tidak tersentuh. Namun orang yang benar-benar rendah hati tidak takut terlihat manusiawi.

Mereka berani mengakui ketika salah. Tidak defensif saat dikritik. Tidak mencari kambing hitam saat terjadi kegagalan.

Mengakui keterbatasan bukan tanda kelemahan. Justru itu menunjukkan kedewasaan. Mereka tahu bahwa terus berkembang lebih penting daripada menjaga gengsi.

Sahabat Fimela, sikap ini membuat mereka tetap relevan dan terus belajar, meski sudah berada di posisi yang tinggi.

7 dari 8 halaman

6. Tidak Lupa pada Orang-Orang yang Pernah Membantu

6. Tidak Lupa pada Orang-Orang yang Pernah Membantu./Copyright depositphotos.com/mentatdgt

Di balik setiap keberhasilan, hampir selalu ada peran orang lain. Keluarga yang mendukung. Teman yang memberi semangat. Mentor yang membimbing. Tim yang bekerja keras.

Orang yang humble tidak pernah melupakan kontribusi itu. Mereka menyebut nama orang lain ketika bercerita tentang pencapaian. Mereka mengakui bahwa keberhasilan bukan kerja satu orang saja.

Kebiasaan ini bukan hanya soal etika. Ini soal integritas. Ketika seseorang tetap mengingat akar perjalanannya, ia akan lebih sulit terjebak dalam kesombongan.

8 dari 8 halaman

7. Tetap Menjalani Hidup dengan Sederhana

7. Tetap Menjalani Hidup dengan Sederhana./Copyright depositphotos.com/p_jirawat

Kesederhanaan bukan berarti menolak menikmati hasil kerja keras. Orang yang rendah hati tidak merasa perlu menunjukkan segala hal secara berlebihan.

Mereka tidak menggantungkan harga diri pada validasi publik. Tidak selalu ingin terlihat lebih unggul. Tidak terobsesi membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Fokus mereka bukan pada bagaimana terlihat sukses, tetapi bagaimana tetap menjadi pribadi yang utuh dan seimbang.

Kesederhanaan ini membuat mereka lebih tenang. Tidak mudah terpengaruh pujian berlebihan. Tidak mudah goyah oleh kritik tajam. Karena identitas mereka tidak sepenuhnya ditentukan oleh pencapaian.

Mengapa Tetap Humble Itu Penting?

Kesuksesan tanpa kerendahan hati sering kali terasa kosong. Ia mungkin memberi pengakuan, tetapi tidak selalu menghadirkan kedekatan yang tulus.

Sebaliknya, orang yang tetap humble justru cenderung memiliki relasi yang lebih sehat dan panjang. Mereka dipercaya. Dihormati. Bukan karena kekuasaan, tetapi karena karakter.

Sahabat Fimela, menjaga kerendahan hati juga melindungi diri dari rasa cepat puas. Saat seseorang merasa sudah cukup hebat, ia berhenti belajar. Hanya saja saat tetap rendah hati, ruang untuk berkembang selalu terbuka.

Kerendahan hati bukan tentang merendahkan diri. Bukan pula tentang menolak pencapaian. Ini tentang keseimbangan. Tentang tahu nilai diri tanpa harus merasa lebih tinggi dari orang lain.

Kesuksesan yang paling bermakna bukan hanya tentang seberapa tinggi posisi yang diraih, tetapi tentang bagaimana karakter tetap terjaga sepanjang perjalanan.

Jika suatu hari pencapaian datang lebih besar dari yang dibayangkan, semoga kebiasaan-kebiasaan ini tetap dipegang. Karena yang membuat seseorang benar-benar dihormati bukan hanya apa yang berhasil diraih, tetapi bagaimana ia tetap humble saat berada di atas.