7 Sikap agar Bisa Memaafkan Kesalahan Seseorang

Endah WijayantiDiterbitkan 26 Februari 2026, 10:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Memaafkan bukan perkara mudah, apalagi jika luka yang ditinggalkan terasa dalam dan membekas lama. Ada rasa kecewa, marah, bahkan mungkin merasa dikhianati. Semua itu wajar. Tidak ada yang salah dengan perasaan tersebut. Namun menyimpan luka terlalu lama sering kali justru melelahkan diri sendiri. Di titik inilah memaafkan menjadi proses penting, bukan untuk membenarkan kesalahan orang lain, melainkan untuk membebaskan hati.

Sahabat Fimela, memaafkan bukan berarti melupakan atau berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Memaafkan juga bukan berarti kembali mempercayai secara utuh tanpa pertimbangan. Memaafkan adalah keputusan sadar untuk tidak lagi membiarkan kesalahan orang lain mengendalikan ketenangan batin. Agar proses ini lebih sehat dan matang, berikut tujuh sikap yang bisa dilatih.

2 dari 8 halaman

1. Mengakui Perasaan tanpa Menyangkal

1. Mengakui Perasaan tanpa Menyangkal./Copyright depositphotos.com/itchaz

Langkah pertama untuk memaafkan adalah jujur terhadap diri sendiri. Jika marah, akui bahwa memang marah. Jika kecewa, terima bahwa memang kecewa. Menekan emosi atau berpura-pura baik-baik saja hanya akan membuat luka tersimpan lebih dalam.

Mengakui perasaan bukan berarti larut tanpa kendali, tetapi memberi ruang agar emosi diproses dengan sehat. Ketika emosi diakui, hati menjadi lebih tenang untuk berpikir jernih. Dari situ, keputusan untuk memaafkan bisa diambil dengan kesadaran penuh, bukan karena terpaksa.

3 dari 8 halaman

2. Memisahkan Kesalahan dari Pribadi Orangnya

2. Memisahkan Kesalahan dari Pribadi Orangnya./Copyright freepik.com

Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Ada yang karena ketidaktahuan, ada yang karena emosi, ada pula yang karena kelemahan karakter yang belum dibenahi. Penting untuk belajar memisahkan tindakan yang salah dari nilai diri seseorang secara keseluruhan.

Sikap ini membantu melihat bahwa satu kesalahan tidak selalu mewakili seluruh kepribadian. Tentu, ada batas untuk kesalahan yang berulang dan merugikan. Namun dalam banyak kasus, memahami bahwa manusia tidak sempurna membuat hati lebih lapang untuk memberi kesempatan kedua.

4 dari 8 halaman

3. Menghindari Sikap Menghakimi Berlebihan

3. Menghindari Sikap Menghakimi Berlebihan./Copyright depositphotos.com/marchmeena

Menghakimi sering kali terasa lebih mudah daripada memahami. Saat disakiti, pikiran cenderung membangun narasi yang memperburuk citra orang tersebut. Semua kebaikannya terasa hilang karena satu kesalahan.

Padahal, menghakimi berlebihan justru memperpanjang rasa sakit. Cobalah melihat situasi secara lebih utuh. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada miskomunikasi? Apakah ada tekanan tertentu yang tidak terlihat? Bersikap adil dalam menilai membuat proses memaafkan lebih realistis dan dewasa.

5 dari 8 halaman

4. Menguatkan Batasan Diri

4. Menguatkan Batasan Diri./Copyright depositphotos.com/reezky11

Memaafkan bukan berarti membiarkan diri disakiti berulang kali. Sikap dewasa dalam memaafkan selalu disertai dengan penegasan batasan. Jika ada perilaku yang tidak bisa diterima, sampaikan dengan jelas dan tenang.

Batasan adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Dengan batasan yang sehat, memaafkan tidak berubah menjadi sikap permisif. Justru sebaliknya, hubungan bisa menjadi lebih sehat karena masing-masing memahami konsekuensi dari tindakan.

Sahabat Fimela, sering kali rasa sulit memaafkan muncul karena takut kejadian serupa terulang. Dengan batasan yang tegas, rasa aman akan lebih terjaga.

6 dari 8 halaman

5. Berlatih Empati tanpa Mengorbankan Harga Diri

5. Berlatih Empati tanpa Mengorbankan Harga Diri./Copyright depositphotos.com/bongkarngraphic

Empati membantu melihat dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin orang tersebut sedang menghadapi tekanan berat. Mungkin ia belum cukup matang secara emosional. Mungkin ia tidak sepenuhnya sadar dampak dari tindakannya.

Namun empati bukan berarti mengabaikan luka sendiri. Empati yang sehat tetap menghargai perasaan diri. Ketika mampu memahami tanpa membenarkan, hati menjadi lebih seimbang. Dari keseimbangan itu, memaafkan terasa lebih tulus dan tidak dipaksakan.

7 dari 8 halaman

6. Melepaskan Keinginan untuk Membalas

6. Melepaskan Keinginan untuk Membalas./Copyright depositphotos.com/reezky11

Ada dorongan alami untuk membalas ketika disakiti. Ingin membuat orang lain merasakan hal yang sama. Tetapi balas dendam jarang membawa ketenangan. Ia hanya memperpanjang rantai luka.

Melepaskan keinginan membalas bukan berarti lemah. Justru di situlah letak kekuatan emosional. Ketika memilih tidak membalas, kendali tetap berada di tangan sendiri. Energi yang sebelumnya habis untuk memikirkan pembalasan bisa dialihkan untuk hal yang lebih membangun.

Keputusan untuk memaafkan sering kali menjadi tanda bahwa seseorang tidak lagi ingin terikat pada peristiwa yang menyakitkan.

8 dari 8 halaman

7. Fokus pada Pertumbuhan Diri

7. Fokus pada Pertumbuhan Diri./Copyright depositphotos.com/bongkarngraphic

Setiap pengalaman, termasuk yang menyakitkan, selalu membawa pelajaran. Alih-alih terus mengulang kejadian dalam pikiran, lebih baik bertanya: apa yang bisa dipelajari dari situasi ini?

Mungkin ini saatnya lebih selektif dalam mempercayai orang. Mungkin ini pengingat untuk berkomunikasi lebih jelas. Mungkin ini tanda bahwa batasan pribadi perlu diperkuat.

Ketika fokus pada pertumbuhan diri, luka berubah menjadi proses pendewasaan. Memaafkan pun terasa sebagai bagian dari perjalanan menjadi pribadi yang lebih matang.

Memaafkan memang tidak bisa dipaksakan dalam semalam. Ada proses yang perlu dilalui. Ada waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar merasa siap. Tidak perlu terburu-buru hanya demi terlihat bijak. Yang terpenting adalah kejujuran terhadap diri sendiri.

Sahabat Fimela, memaafkan bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah semata. Memaafkan adalah tentang memilih ketenangan dibanding terus memelihara kemarahan. Tentang memilih bergerak maju dibanding terjebak pada masa lalu.

Jika saat ini masih terasa sulit, itu tidak apa-apa. Beri ruang untuk proses. Namun jangan biarkan luka mengeras menjadi kepahitan yang menetap. Hati yang terlalu lama menyimpan amarah akan lelah sendiri.

Memaafkan adalah hadiah untuk diri sendiri. Bukan untuk membenarkan kesalahan orang lain, tetapi untuk menjaga kedamaian batin. Ketika hati lebih ringan, langkah pun terasa lebih mantap. Dan dari situ, kehidupan bisa dijalani dengan lebih tenang dan bermakna.