5 Kebiasaan Orang yang Hidupnya Sukses tapi Tetap Humble

Endah WijayantiDiterbitkan 19 Februari 2026, 11:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Kesuksesan sering kali terlihat dari pencapaian: jabatan, bisnis yang berkembang, karya yang diakui, atau finansial yang stabil. Akan tetapi, ada hal lain yang jauh lebih bernilai dan tidak selalu terlihat di permukaan: kerendahan hati. Banyak orang bisa sukses, tetapi tidak semuanya mampu tetap bersikap rendah hati atau humble saat berada di puncak kesuksesan.

Menariknya, orang-orang yang benar-benar berhasil justru cenderung lebih tenang, tidak merasa perlu membuktikan diri terus-menerus, dan tahu persis bahwa pencapaian bukan alasan untuk meninggikan diri. Mereka memahami bahwa sukses adalah perjalanan panjang, bukan garis akhir.

Sahabat Fimela, berikut lima kebiasaan yang sering dimiliki oleh orang-orang yang hidupnya sukses tapi tetap humble.

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

1. Tidak Berhenti Belajar, Bahkan saat Sudah Dianggap Mahir

1. Tidak Berhenti Belajar, Bahkan saat Sudah Dianggap Mahir./Copyright depositphotos.com/p.natthapon

Orang yang sukses dan rendah hati sadar bahwa ilmu tidak pernah selesai. Mereka mungkin sudah berpengalaman bertahun-tahun di bidangnya, tetapi tetap membuka diri terhadap masukan, kritik, dan perspektif baru.

Sikap ini sejalan dengan pemikiran yang banyak dibahas dalam buku seperti Mindset karya Carol Dweck, tentang pentingnya growth mindset keyakinan bahwa kemampuan dapat terus dikembangkan. Orang yang humble tidak merasa identitasnya terancam ketika dikritik. Mereka justru melihat kritik sebagai data untuk bertumbuh.

Kebiasaan belajar ini terlihat sederhana: membaca, mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan orang yang lebih muda atau berbeda latar belakang, dan berani mengakui ketika tidak tahu. Kalimat “aku belum tahu, boleh jelaskan?” bukanlah kelemahan bagi mereka, melainkan kekuatan.

Kerendahan hati muncul karena mereka menyadari satu hal: dunia berubah cepat. Tanpa sikap belajar, kesuksesan bisa cepat usang.

3 dari 6 halaman

2. Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil

2. Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil./Copyright freepik.com/author/lifestylememory

Banyak orang hanya melihat hasil akhir dari sebuah keberhasilan. Padahal, orang yang sukses dan tetap humble sangat menghargai proses di baliknya termasuk kegagalan, kesalahan, dan kerja keras yang tidak terlihat.

Mereka tidak menganggap keberhasilan semata-mata karena kemampuan pribadi. Ada tim, mentor, keluarga, bahkan situasi yang mendukung. Kesadaran ini membuat mereka tidak mudah merasa paling berjasa.

Dalam dunia kepemimpinan modern, pendekatan seperti yang diperkenalkan oleh Simon Sinek dalam Leaders Eat Last menekankan bahwa pemimpin sejati menempatkan tim lebih dulu. Prinsip ini banyak terlihat pada individu sukses yang tetap rendah hati: mereka mengakui kontribusi orang lain secara terbuka.

Alih-alih berkata, “Semua ini karena kerja keras pribadi,” mereka lebih sering mengatakan, “Ini hasil kerja bersama.” Kalimat itu bukan basa-basi, melainkan refleksi kesadaran.

4 dari 6 halaman

3. Tetap Menghargai Orang tanpa Melihat Status

3. Tetap Menghargai Orang tanpa Melihat Status./Copyright depositphotos.com/mc_stockphotos

Salah satu ciri paling jelas dari orang sukses yang humble adalah cara mereka memperlakukan orang lain. Mereka tidak berubah sikap hanya karena posisi atau jabatan meningkat.

Mereka tetap sopan kepada staf, menghormati pendapat junior, dan tidak merasa lebih tinggi hanya karena memiliki gelar atau penghasilan lebih besar. Mereka tahu bahwa setiap orang memiliki peran dan martabat.

Kebiasaan ini terlihat dalam hal-hal kecil: menyapa dengan tulus, mendengarkan tanpa memotong, dan memberi apresiasi tanpa pamrih. Mereka tidak menggunakan keberhasilan sebagai alat untuk mengontrol atau merendahkan.

Menariknya, sikap ini justru membuat pengaruh mereka semakin besar. Orang-orang cenderung menghormati pemimpin yang menghargai orang lain, bukan yang hanya ingin dihormati.

Sahabat Fimela, kesuksesan yang dibangun di atas rasa hormat akan bertahan lebih lama dibandingkan kesuksesan yang dibangun di atas rasa takut.

5 dari 6 halaman

4. Tidak Haus Validasi dan Panggung

4. Tidak Haus Validasi dan Panggung./Copyright depositphotos.com/reezky11

Orang yang benar-benar sukses tidak merasa perlu memamerkan pencapaiannya setiap saat. Mereka tahu apa yang sudah dicapai, tetapi tidak menjadikannya sebagai identitas tunggal.

Di era media sosial, godaan untuk terus terlihat hebat sangat besar. Namun orang yang humble tidak menggantungkan harga diri pada jumlah pujian, likes, atau pengakuan publik. Mereka fokus pada kualitas kerja dan dampak nyata, bukan sekadar citra.

Ini bukan berarti mereka menolak apresiasi. Mereka tetap menerima penghargaan dengan rasa syukur. Bedanya, penghargaan tidak membuat mereka berubah arah atau kehilangan pijakan.

Banyak tokoh besar dunia menunjukkan karakter ini. Misalnya, Satya Nadella dikenal sebagai pemimpin yang membawa perubahan besar di Microsoft, tetapi tetap mempertahankan pendekatan yang inklusif dan rendah hati. Fokusnya bukan sekadar membangun citra, melainkan membangun budaya belajar dan kolaborasi.

Kerendahan hati membuat seseorang stabil. Mereka tidak mudah terbang tinggi karena pujian, dan tidak mudah jatuh karena kritik.

6 dari 6 halaman

5. Menjaga Integritas saat Tidak Ada yang Melihat

5. Menjaga Integritas saat Tidak Ada yang Melihat./Copyright depositphotos.com/reezky11

Kesuksesan yang bertahan lama hampir selalu dibangun di atas integritas. Orang yang sukses dan humble tahu bahwa reputasi bukan hanya soal apa yang terlihat, tetapi juga tentang keputusan-keputusan kecil yang diambil saat tidak ada sorotan.

Mereka konsisten antara ucapan dan tindakan. Jika membuat kesalahan, mereka mengakuinya. Jika berjanji, mereka berusaha menepatinya. Mereka tidak menyalahkan keadaan atau orang lain untuk menutupi kekurangan.

Integritas juga membuat mereka tidak merasa perlu menjatuhkan orang lain demi naik lebih tinggi. Mereka percaya bahwa ruang untuk berhasil tidak terbatas pada satu orang saja.

Sikap ini mungkin tidak selalu memberi hasil instan. Namun, dalam jangka panjang, integritas membangun kepercayaan. Dan kepercayaan adalah fondasi dari kesuksesan yang berkelanjutan.

Menjadi sukses dan tetap humble bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru, kerendahan hati sering kali menjadi faktor yang menjaga kesuksesan tetap sehat dan bermakna.

Orang yang rendah hati tidak merendahkan diri, tetapi memahami posisi diri secara realistis. Mereka tahu kelebihan, tetapi juga sadar akan keterbatasan. Mereka bersyukur atas pencapaian, tetapi tidak berhenti bertumbuh.

Sahabat Fimela, kebiasaan-kebiasaan ini tidak muncul dalam semalam. Ia dibangun dari kesadaran diri, refleksi, dan kemauan untuk terus berkembang tanpa kehilangan nilai.

Kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi posisi yang dicapai, tetapi tentang bagaimana karakter tetap utuh saat berada di sana. Dan sering kali, yang paling berkesan bukanlah orang yang paling keras suaranya, melainkan yang paling tenang, konsisten, dan tulus dalam bersikap. Itulah jenis sukses yang tidak hanya terlihat, tetapi juga terasa lebih bermakna.