Mengenal Puasa Power Jar, Aktivitas Seru Latih Disiplin dan Refleksi Anak

Kayla BridgitteDiterbitkan 23 Februari 2026, 19:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Puasa Power Jar bukan tentang menahan makan atau minum, melainkan latihan untuk anak menahan kebiasaan tertentu, mengelola emosi, dan membangun kesadaran diri lewat cara yang sederhana. Konsepnya pun mudah dipraktikkan di rumah. Sahabat Fimela cukup menyiapkan sebuah toples, lalu mengisinya dengan catatan kecil berisi komitmen harian seperti, “Hari ini berbicara dengan nada lembut,” “Hari ini tidak mengeluh,” atau “Hari ini menyelesaikan PR sebelum bermain gadget.”

Dilansir dari emc.id, setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda untuk memulai puasa. Sahabat Fimela perlu memperkenalkan puasa dengan cara yang menyenangkan dan bertahap, sambil tetap memperhatikan kesehatan dan kenyamanan anak. Dengan pendekatan yang tepat, puasa dapat menjadi pengalaman yang bermakna dan bermanfaat bagi anak-anak dalam membentuk kedisiplinan dan pemahaman spiritual mereka.

Ketika anak memasukkan komitmennya ke dalam toples, ada proses simbolis yang terjadi. Ia tidak sekadar membaca janji, tetapi melihatnya secara nyata. Bagi anak-anak, simbol fisik seperti ini membantu mereka memahami konsep abstrak seperti konsistensi, tanggung jawab, dan kontrol diri dengan lebih konkret.

Di akhir hari, ajak anak melakukan refleksi singkat. Bukan untuk mencari siapa yang benar atau salah, melainkan untuk memahami prosesnya. Apa yang ia rasakan saat mencoba menahan diri? Kapan momen tersulit muncul? Bagaimana ia menyikapinya? Dari percakapan sederhana itu, anak belajar bahwa disiplin bukan soal selalu berhasil, tetapi tentang kemauan untuk mencoba dan memperbaiki diri.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Tips Melakukan Puasa Power Jar Bersama Anak

Agar Puasa Power Jar terasa menyenangkan, Sahabat Fimela bisa memulainya dengan pendekatan yang lembut dan terarah. Aktivitas ini bukan sekadar soal menahan diri, tetapi tentang membangun kesadaran sejak dini. [Dok/Pexels.com/Gustavo Fring].

1. Libatkan Anak dalam Menentukan Tema Puasa

Alih-alih sepenuhnya ditentukan orang tua, ajak anak berdiskusi ringan. Kebiasaan apa yang ingin ia latih? Mengurangi screen time, belajar lebih sabar, atau menenangkan diri sebelum marah? Saat anak merasa suaranya didengar, rasa tanggung jawab terhadap komitmen itu tumbuh secara alami.

2. Mulai dari Tantangan yang Realistis

Target besar sering kali terdengar ideal, tetapi belum tentu ramah untuk anak. Daripada “tidak marah sama sekali”, coba ubah menjadi “menarik napas tiga kali sebelum merespons.” Tantangan kecil yang spesifik lebih mudah dicapai dan membantu membangun rasa percaya diri.

3. Gunakan Bahasa Positif

Kata-kata memiliki energi. Mengganti “tidak boleh berteriak” menjadi “berbicara dengan suara lembut” membantu anak fokus pada perilaku yang ingin dibangun, bukan sekadar larangan.

4. Tentukan Durasi yang Singkat di Awal

Untuk anak usia dini, satu hari sudah cukup sebagai permulaan. Jika sudah mulai terbiasa, barulah diperpanjang menjadi tiga hari atau satu minggu. Konsistensi yang stabil jauh lebih efektif daripada target panjang yang terasa berat.

5. Ciptakan Suasana Hangat dan Tidak Menghakimi

Puasa Power Jar bukan ajang pembuktian. Jika anak belum berhasil, jadikan itu ruang belajar bersama, bukan momen evaluasi yang menegangkan. Pendekatan penuh empati membuat anak memahami bahwa disiplin adalah proses bertumbuh, bukan tekanan.

3 dari 4 halaman

6. Sediakan Waktu Refleksi Setiap Hari

Setelah fondasi awal terbentuk, langkah berikutnya adalah menjaga konsistensi sekaligus memperdalam refleksi. Di sini peran Sahabat Fimela yang menjadi kunci. [Dok/Pexels.com/Ketut Subiyanto].

Pilih waktu yang tenang, seperti sebelum tidur. Ajukan pertanyaan dengan nada penasaran, bukan menghakimi. “Bagian mana yang paling menantang hari ini?” sering kali lebih efektif daripada menyoroti kesalahan secara langsung.

7. Validasi Perasaan Anak

Ketika anak merasa kesal atau kecewa, akui emosinya. Kalimat sederhana seperti “Wajar kok merasa kesal” membantu anak belajar bahwa emosi bukan sesuatu yang harus ditekan, melainkan dipahami dan dikelola.

8. Berikan Contoh Nyata dari Orang Tua

Sahabat Fimela juga bisa memiliki Power Jar versi sendiri. Misalnya, berkomitmen tidak membuka ponsel saat makan malam. Saat anak melihat konsistensi itu, ia belajar bahwa disiplin adalah nilai bersama dalam keluarga, bukan aturan sepihak.

9. Rayakan Usaha, Bukan Hanya Hasil

Apresiasi kecil atas usaha yang sudah dilakukan mampu membangun motivasi intrinsik. Fokus pada progres, sekecil apa pun, membuat anak merasa dihargai dan ingin mencoba lagi.

10. Gunakan Visual yang Menarik

Hias toples bersama-sama dengan warna, stiker, atau label nama. Sentuhan kreatif membuat aktivitas ini terasa personal dan menyenangkan, sehingga anak lebih antusias menjalaninya.

Dengan cara ini, Puasa Power Jar menjadi ruang dialog hangat yang memperkuat kedekatan, bukan sekadar sistem aturan.

4 dari 4 halaman

Manfaat Jangka Panjang Puasa Power Jar bagi Anak

Jika dilakukan secara konsisten dan penuh kesadaran, Puasa Power Jar bukan hanya memberi dampak sesaat, tetapi juga membentuk fondasi karakter anak dalam jangka panjang. [Dok/Pexels.com/Katerina Holmes].

Membentuk Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset)

Saat anak diajak melihat kembali catatan dalam toplesnya, ia belajar bahwa perubahan adalah proses. Ia memahami bahwa kemampuan mengendalikan diri bisa dilatih, bukan sesuatu yang statis. Kesadaran ini membantu anak lebih berani mencoba dan tidak mudah menyerah.

Menguatkan Regulasi Emosi

Dengan refleksi rutin, anak semakin peka terhadap emosi yang muncul dan bagaimana ia meresponsnya. Ia tidak lagi bereaksi secara impulsif, melainkan mulai mempertimbangkan pilihan sikap yang lebih sehat.

Mendorong Kemandirian dalam Mengambil Keputusan

Karena komitmen dibuat bersama dan dijalankan secara sadar, anak belajar bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Ini menjadi bekal penting ketika ia kelak dihadapkan pada keputusan yang lebih kompleks.

Menanamkan Nilai Empati dan Kesadaran Sosial

Saat memahami bahwa latihan ini bertujuan agar ia lebih mampu menghargai orang lain dan mengelola diri, anak belajar melihat dampak perilakunya terhadap lingkungan sekitar.

Menciptakan Ikatan Emosional yang Lebih Kuat

Momen apresiasi di akhir periode, sekecil apa pun bentuknya, memperkuat rasa aman dalam keluarga. Anak merasa didukung, bukan dihakimi.

Di balik toples sederhana itu, tersimpan proses pembelajaran yang mendalam. Puasa Power Jar menjadi ruang aman bagi anak untuk tumbuh lebih disiplin, lebih sadar, tangguh, dan penuh empati.