Pengaruh Stres dan Perubahan Jadwal Selama Ramadan pada Kondisi Kulit yang Perlu Diketahui

Hilda IrachDiterbitkan 28 Februari 2026, 12:11 WIB

ringkasan

  • Dehidrasi selama Ramadan dapat menyebabkan kulit kering dan kusam.
  • Peningkatan produksi minyak dapat memicu jerawat akibat perubahan pola makan.
  • Gangguan tidur dapat mengurangi kualitas kulit dan meningkatkan sensitivitas.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, bulan Ramadan adalah waktu yang penuh berkah, namun juga membawa tantangan bagi kesehatan kulit. Perubahan pola makan, kurang tidur, dan stres dapat memengaruhi kondisi kulit secara signifikan. Apa saja dampak yang mungkin terjadi? Mari kita bahas lebih dalam.

Selama Ramadan, banyak orang mengalami perubahan jadwal yang drastis. Dari sahur hingga berbuka, pola makan dan tidur yang tidak teratur dapat menyebabkan stres bagi tubuh. Stres ini, ditambah dengan dehidrasi akibat puasa, dapat berkontribusi pada berbagai masalah kulit. Mari kita lihat lebih lanjut mengenai pengaruh stres dan perubahan jadwal selama Ramadan pada kondisi kulit.

Dehidrasi adalah salah satu masalah utama yang dihadapi kulit selama Ramadan. Ketika asupan air berkurang, kulit dapat kehilangan kelembapan dan tampak kering, kusam, dan bersisik. Penurunan elastisitas kulit hingga 20% dapat terjadi, yang berpotensi meningkatkan munculnya garis-garis halus. Selain itu, dehidrasi dapat melemahkan lapisan pelindung kulit, menjadikannya lebih rentan terhadap iritasi.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Produksi Minyak Berlebih dan Jerawat

Perubahan pola makan dan stres juga dapat menyebabkan peningkatan produksi minyak pada kulit. Saat tubuh mengalami dehidrasi, kelenjar sebaceous dapat memproduksi lebih banyak sebum untuk mengkompensasi kekurangan cairan. Perubahan kadar hormon, seperti peningkatan kortisol, dapat memicu jerawat. Makanan tinggi glikemik dan berminyak saat berbuka puasa juga dapat meningkatkan kadar insulin, yang memperburuk kondisi jerawat.

Studi menunjukkan bahwa selama Ramadan, ada peningkatan signifikan dalam produksi sebum, yang berkaitan dengan pola makan dan durasi tidur yang lebih singkat. Ini menunjukkan bahwa menjaga pola makan yang seimbang dan mengatur waktu tidur sangat penting untuk kesehatan kulit.

3 dari 5 halaman

Gangguan Tidur dan Kelelahan

Gangguan tidur akibat salat malam dan sahur dini hari dapat menyebabkan sirkulasi darah yang buruk. Hal ini dapat mengakibatkan lingkaran hitam dan bengkak di bawah mata. Kurangnya tidur juga dapat menurunkan produksi kolagen hingga 18%, membuat kulit tampak lebih gelap dan lelah.

Perubahan pola tidur yang drastis dapat mengganggu siklus perbaikan alami kulit, menyebabkan peradangan dan penampilan kulit yang tidak segar. Penting untuk menjaga kualitas tidur selama Ramadan agar kulit tetap sehat dan bercahaya.

4 dari 5 halaman

Perubahan Pola Makan dan Sensitivitas Kulit

Perubahan pola makan yang drastis selama Ramadan dapat memicu respons peradangan pada kulit. Konsumsi makanan tinggi gula dan lemak tidak sehat dapat menyebabkan jerawat dan kulit kusam. Selain itu, kurangnya antioksidan akibat puasa dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap faktor lingkungan.

Untuk menjaga kesehatan kulit, penting untuk memperhatikan asupan makanan saat berbuka puasa. Menghindari camilan asin dan makanan manis berlebihan dapat membantu mengurangi risiko masalah kulit. Pastikan juga untuk tetap terhidrasi dengan baik saat sahur dan berbuka.

5 dari 5 halaman

Stres Psikologis dan Kesehatan Kulit

Stres psikologis yang dialami selama Ramadan dapat memengaruhi kesehatan kulit secara keseluruhan. Stres kronis dapat menyebabkan gangguan pada fungsi penghalang kulit, memperlambat penyembuhan luka, dan memicu berbagai kondisi kulit seperti eksim dan jerawat. Tingkat stres yang tinggi berhubungan dengan gejala kulit yang lebih parah.

Oleh karena itu, penting untuk mengelola stres dengan baik selama bulan Ramadan. Melakukan aktivitas relaksasi, seperti meditasi atau yoga, dapat membantu menjaga kesehatan mental dan fisik, termasuk kesehatan kulit.