Kenali Seni Mendengar Tanpa Menggurui pada Anak di Era Digital, Cara Membangun Koneksi Emosional yang Kuat

Siti Nur ArishaDiterbitkan 01 Mei 2026, 20:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Di tengah derasnya arus informasi dan distraksi digital, membangun komunikasi yang hangat dengan anak menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Notifikasi ponsel, pekerjaan yang tak ada habisnya, hingga rutinitas harian sering kali membuat percakapan dengan anak hanya sebatas formalitas. Padahal, momen sederhana ketika anak bercerita tentang harinya bisa menjadi fondasi penting dalam membangun kedekatan emosional jangka panjang.

Mendengar bukan sekadar soal diam saat anak berbicara. Lebih dari itu, mendengar berarti hadir sepenuhnya, memahami emosi di balik kata-kata, dan menahan diri untuk tidak langsung menghakimi atau memberi ceramah. Inilah yang dikenal sebagai active listening atau mendengarkan secara aktif. Ketika orangtua mampu melakukannya, anak akan merasa dihargai, dipahami, dan aman secara emosional.

Dilansir dari Medium, active listening dalam pengasuhan menekankan pentingnya observasi, kesabaran, serta empati dalam setiap percakapan dengan anak. Orangtua diajak untuk benar-benar memperhatikan bahasa verbal maupun nonverbal, memberi ruang bagi anak untuk menuntaskan ceritanya, dan merespons dengan penuh pengertian, bukan sekadar solusi instan. Yuk, kenali penjelasan lengkapnya di bawah ini, Sahabat Fimela!

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Mengapa Mendengar Tanpa Menggurui Itu Penting

Banyak orangtua secara refleks langsung memberi nasihat ketika anak bercerita. Niatnya tentu baik, ingin membantu dan melindungi. Namun, terlalu cepat menawarkan solusi justru bisa membuat anak merasa tidak benar-benar didengar. (foto/dok: freepik)

Banyak orangtua secara refleks langsung memberi nasihat ketika anak bercerita. Niatnya tentu baik, ingin membantu dan melindungi. Namun, terlalu cepat menawarkan solusi justru bisa membuat anak merasa tidak benar-benar didengar.

Saat orangtua mendengar tanpa menggurui, anak belajar bahwa perasaannya valid. Ia merasa pendapatnya dihargai. Dari sinilah tumbuh rasa percaya dan keterbukaan. Anak tidak ragu untuk berbagi cerita, bahkan ketika menghadapi masalah yang lebih besar di kemudian hari.

Koneksi emosional yang kuat juga berpengaruh pada kesehatan mental anak. Mereka lebih mampu mengenali dan mengelola emosi karena terbiasa mengekspresikannya dalam ruang yang aman.

Langkah Praktis Menerapkan Active Listening di Rumah

Agar tidak berhenti di teori, berikut beberapa cara sederhana yang bisa langsung diterapkan dalam keseharian.

1. Beri Perhatian Penuh

Letakkan ponsel, matikan televisi, dan arahkan tubuh ke anak saat ia berbicara. Kontak mata dan bahasa tubuh terbuka memberi tanda bahwa Sahabat Fimela benar-benar hadir. Perhatian penuh membuat anak merasa dirinya penting.

2. Dengarkan Sampai Tuntas

Tahan dorongan untuk memotong pembicaraan. Biarkan anak menyelesaikan ceritanya, bahkan jika alurnya berputar-putar. Kesabaran adalah bentuk penghargaan.

3. Ulangi dengan Bahasa kamu Sendiri

Coba rangkum apa yang anak katakan. Misalnya, “Jadi tadi kamu sedih karena temanmu tidak mau bermain bersama, ya?” Cara ini membantu memastikan Sahabat Fimela memahami dengan benar sekaligus menunjukkan bahwa kamu menyimak.

4. Validasi Perasaannya

Hindari kalimat seperti “Ah, cuma begitu saja” atau “Itu kan sepele”. Sebaliknya, katakan, “Wajar kalau kamu merasa kecewa.” Validasi membuat anak merasa emosinya diterima.

5. Ajukan Pertanyaan Terbuka

Pertanyaan seperti “Menurut kamu, apa yang bisa dilakukan besok?” mendorong anak berpikir dan menemukan solusi sendiri. Orangtua tetap mendampingi tanpa terkesan mendikte.

3 dari 3 halaman

Tantangan Mendengar di Era Digital

Kehadiran gawai sering kali menjadi penghalang komunikasi yang berkualitas. Tidak jarang orangtua meminta anak berhenti bermain gadget, tetapi justru sibuk dengan ponselnya sendiri. Anak sangat peka terhadap inkonsistensi ini. (foto/dok: freepik/nensuria)

Kehadiran gawai sering kali menjadi penghalang komunikasi yang berkualitas. Tidak jarang orangtua meminta anak berhenti bermain gadget, tetapi justru sibuk dengan ponselnya sendiri. Anak sangat peka terhadap inkonsistensi ini.

Menciptakan waktu bebas layar, seperti saat makan malam atau sebelum tidur, bisa menjadi langkah awal. Jadikan momen tersebut sebagai waktu khusus untuk berbagi cerita. Dengan konsistensi, anak akan terbiasa membuka diri tanpa distraksi.

Selain itu, penting juga membicarakan etika digital bersama anak. Ajarkan bahwa komunikasi tatap muka tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan dalam membangun empati dan kedekatan.

Menyesuaikan Cara Mendengar Sesuai Usia Anak

Setiap tahap perkembangan membutuhkan pendekatan berbeda.

Pada balita, gunakan bahasa sederhana dan respons yang hangat. Sering kali mereka belum mampu menjelaskan perasaan secara detail, sehingga orangtua perlu lebih peka membaca ekspresi dan nada suara.

Pada anak usia sekolah, tunjukkan minat pada cerita tentang teman dan aktivitasnya. Ajukan pertanyaan terbuka agar percakapan berkembang.

Sementara pada remaja, hormati kebutuhan mereka akan ruang dan privasi. Tetap hadir sebagai pendengar yang suportif tanpa terlalu menginterogasi.

Investasi Jangka Panjang untuk Hubungan Keluarga

Active listening bukan teknik instan, namun merupakan proses yang terus diasah. Dibutuhkan kesadaran, latihan, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa orangtua pun bisa salah memahami.

Namun, upaya ini adalah investasi jangka panjang. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh empati cenderung memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik. Mereka belajar menghargai pendapat orang lain, menyelesaikan konflik dengan lebih sehat, dan membangun hubungan yang berkualitas di masa depan.

Di era digital yang serba cepat ini, kemampuan untuk benar-benar mendengarkan mungkin menjadi hadiah paling berharga yang bisa orangtua berikan kepada anak. Silahkan kamu ikuti untuk si kecil ya Sahabat Fimela!

Penulis: Siti Nur Arisha