Begini Cara Mengatasi Ngantuk Saat Puasa agar Tubuh Tetap Bugar

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 12 Maret 2026, 10:10 WIB

ringkasan

  • Rasa kantuk saat puasa disebabkan oleh dehidrasi, penurunan gula darah, kurang tidur, dan ketidakseimbangan nutrisi seperti magnesium serta vitamin B12.
  • Mengatasi kantuk memerlukan strategi nutrisi tepat saat sahur dan berbuka, hidrasi optimal, serta manajemen tidur yang efektif.
  • Aktivitas fisik ringan dan penyesuaian rutinitas harian juga membantu menjaga energi dan konsentrasi selama berpuasa.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, menjalani ibadah puasa seringkali menghadirkan tantangan tersendiri, salah satunya adalah rasa lemas dan kantuk yang kerap melanda, terutama di siang hari. Kondisi ini umum terjadi dan bisa memengaruhi produktivitas serta kekhusyukan ibadah kita. Banyak yang bertanya-tanya, sebenarnya mengapa tubuh kita cenderung lebih mudah mengantuk saat berpuasa?

Rasa kantuk berlebihan ini bukan sekadar masalah kurang tidur semata, melainkan kombinasi dari beberapa faktor fisiologis yang kompleks. Memahami penyebab utamanya adalah langkah awal untuk menemukan solusi yang tepat agar kita bisa menjalani puasa dengan lebih optimal. Dengan begitu, aktivitas harian tetap berjalan lancar dan ibadah pun terasa lebih ringan.

Jangan khawatir, ada berbagai strategi efektif yang bisa Sahabat Fimela terapkan untuk mengatasi masalah ini. Dari pengaturan pola makan hingga manajemen tidur, semua bisa membantu menjaga energi dan konsentrasi selama bulan Ramadan. Mari kita selami lebih dalam penyebab dan solusi untuk tetap semangat berpuasa.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Faktor Utama Mengapa Puasa Bikin Ngantuk dan Lemas

Rasa kantuk dan kelemahan selama berpuasa tidak hanya disebabkan oleh kurang tidur, melainkan juga oleh beberapa faktor fisiologis yang penting untuk diketahui. Salah satu penyebab utamanya adalah dehidrasi, di mana tubuh kehilangan cairan tanpa asupan pengganti selama berjam-jam. Kondisi ini dapat mengurangi volume darah dan mengganggu aliran oksigen ke otak, sehingga konsentrasi menurun drastis dan tubuh terasa lesu.

Selain dehidrasi, penurunan kadar gula darah juga menjadi pemicu utama rasa kantuk. Saat tidak makan selama berjam-jam, kadar glukosa dalam tubuh akan turun, menyebabkan tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol, yang dapat memicu kelemahan dan rasa lelah yang signifikan.

Perubahan pola tidur akibat aktivitas sahur dan ibadah malam juga berkontribusi pada munculnya rasa kantuk di siang hari. Konsumsi karbohidrat sederhana atau makanan tinggi gula saat sahur dapat menyebabkan kenaikan dan penurunan kadar gula darah secara drastis, memicu kantuk beberapa jam kemudian. Selain itu, perubahan jadwal makan dan tidur selama puasa dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh, menyebabkan perasaan lesu dan kelelahan.

Kelelahan juga bisa menjadi tanda bahwa tubuh sedang beradaptasi dengan ketosis, yaitu kondisi saat tubuh mulai menggunakan lemak sebagai pengganti karbohidrat untuk energi. Proses adaptasi ini terkadang menimbulkan rasa lemas sementara. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan asupan nutrisi dan pola hidup selama puasa.

3 dari 5 halaman

Strategi Nutrisi Tepat untuk Mengatasi Kantuk Saat Puasa

Manajemen nutrisi yang tepat memegang peranan krusial dalam menjaga energi dan mencegah rasa kantuk selama puasa. Saat sahur, pilihlah makanan bergizi yang kaya protein, serat, dan karbohidrat kompleks, seperti nasi merah, telur, ikan, sayuran, dan buah-buahan. Karbohidrat kompleks dicerna perlahan, memberikan pelepasan glukosa yang stabil ke dalam aliran darah, sehingga energi bertahan lebih lama.

Hindari mengonsumsi terlalu banyak makanan manis atau berlemak saat sahur. Meskipun gula memberikan energi instan, hal ini dapat menyebabkan penurunan kadar gula darah secara tiba-tiba yang memicu rasa kantuk. Makanan berlemak juga dapat memperlambat metabolisme dan membuat tubuh terasa lesu. Penting juga untuk menghindari makanan terlalu asin yang dapat memicu rasa haus lebih cepat.

Saat berbuka puasa, mulailah dengan camilan ringan dan menghidrasi seperti kurma dan air untuk mengisi kembali tubuh. Lanjutkan dengan makanan bergizi yang fokus pada protein tanpa lemak, sayuran, dan biji-bijian utuh. Hindari makan berlebihan karena kebiasaan ini justru bisa membuat tubuh terasa berat dan mengantuk. Makanlah dalam porsi sedang agar tubuh dapat menyesuaikan diri tanpa penurunan energi yang tiba-tiba.

Pencegahan defisiensi nutrisi juga penting. Magnesium mendukung relaksasi otot dan kualitas tidur; kekurangannya dapat menyebabkan kram otot dan istirahat yang buruk. Sumber magnesium yang baik meliputi kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran hijau, dan kurma. Vitamin B12 juga esensial untuk fungsi saraf dan produksi energi; kadar yang rendah dapat menyebabkan kelelahan. Sertakan makanan seperti daging, produk susu, telur, dan ikan untuk menjaga kadar vitamin B12 yang memadai.

4 dari 5 halaman

Pentingnya Hidrasi dan Manajemen Tidur Optimal Selama Puasa

Ilustrasi mengantuk. Sumber foto: unsplash.com/Kinga Cichewicz.

Dehidrasi adalah salah satu kontributor terbesar di balik kelelahan selama Ramadan. Meskipun tidak bisa minum di siang hari, Sahabat Fimela tetap bisa terhidrasi selama jam-jam tidak berpuasa. Pastikan untuk minum banyak air antara waktu berbuka puasa (Iftar) dan sahur. Disarankan minum 500–750 ml air saat berbuka, lalu lanjutkan secara bertahap hingga mencapai 2–3 liter per hari.

Hindari minuman manis berlebihan dan kafein, karena keduanya dapat memicu dehidrasi dan memiliki efek diuretik. Sebagai gantinya, sertakan makanan yang menghidrasi seperti buah-buahan (jeruk, anggur, melon) atau sup dalam menu berbuka. Untuk menjaga keseimbangan elektrolit, pertimbangkan air kelapa atau sedikit garam Himalaya ke air minum selama jam-jam tidak berpuasa.

Manajemen tidur yang efektif juga sangat penting untuk mencegah rasa kantuk. Usahakan untuk mendapatkan tidur yang cukup, sekitar enam hingga delapan jam total dalam periode 24 jam. Cobalah tidur lebih awal dan manfaatkan tidur siang singkat (10–20 menit) di siang hari untuk mengisi kembali energi. Hindari tidur siang yang terlalu panjang karena dapat mengganggu tidur malam.

Ciptakan lingkungan tidur yang menenangkan: pastikan kamar tidur gelap, tenang, dan sejuk. Hindari makanan berat dan kafein larut malam, karena keduanya dapat mengganggu kualitas tidur. Mengatur jadwal tidur yang konsisten, bahkan di akhir pekan, membantu mengatur jam internal tubuh dan mengurangi rasa lemas di siang hari.

5 dari 5 halaman

Tetap Aktif dengan Penyesuaian Rutinitas dan Aktivitas Fisik Ringan

Untuk menjaga energi dan kewaspadaan, Sahabat Fimela bisa terlibat dalam aktivitas fisik ringan. Berjalan kaki selama 5–10 menit setiap dua jam atau melakukan peregangan ringan dapat membantu meningkatkan sirkulasi darah dan kewaspadaan. Hindari melakukan tugas fisik berat di sore hari ketika suhu tinggi dan tingkat energi mulai menurun.

Restrukturisasi hari kerja juga dapat membantu. Tangani tugas-tugas yang menuntut konsentrasi di pagi hari saat energi dari sahur masih optimal. Jadwalkan tugas-tugas rutin yang lebih ringan untuk nanti di hari itu ketika efek puasa mulai terasa. Mengambil istirahat teratur juga penting; berikan diri Anda lebih banyak waktu istirahat sepanjang hari.

Jika memungkinkan, ambil tidur siang singkat setelah salat Dzuhur untuk memulihkan kewaspadaan. Paparan cahaya alami, seperti duduk di dekat jendela, dapat membantu tubuh tetap terjaga. Teknik pendinginan, seperti memercikkan air dingin ke wajah, juga bisa menyegarkan pikiran.

Ganti latihan intensitas tinggi dengan latihan berdampak rendah yang membutuhkan lebih sedikit energi. Latihan fisik ringan sebelum sahur juga dapat meningkatkan metabolisme tubuh dan mood. Namun, penting untuk memilih waktu latihan yang tepat agar tidak memicu dehidrasi atau kadar gula rendah. Menjaga konsistensi dalam latihan fisik dapat mencegah berat badan berlebih dan menurunnya energi selama berpuasa.