Setiap Hari 28 Warga Malaysia Alami Gagal Ginjal dan Harus Cuci Darah, Kenali Penyebabnya

Hilda IrachDiterbitkan 20 April 2026, 15:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Kasus gagal ginjal kronis atau Chronic Kidney Disease (CKD) di Malaysia terus meningkat dan menjadi perhatian serius pemerintah setempat. Setiap hari, rata-rata ada 28 warga Malaysia yang didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus segera menjalani dialisis atau cuci darah untuk bertahan hidup.

Melansir dari Liputan6.com, Menteri Kesehatan Malaysia, Datuk Seri Dr Dzulkefly Ahmad, mengungkapkan bahwa kondisi ini tidak hanya memengaruhi kualitas hidup pasien, tetapi juga membebani sistem kesehatan negara. Saat ini, biaya pengobatan gagal ginjal stadium akhir di Malaysia melonjak hingga RM3,3 miliar per tahun atau setara sekitar Rp11 triliun.

Prevalensi CKD di Malaysia juga meningkat cukup tajam, dari 9 persen pada 2011 menjadi 15,5 persen pada 2025. Lebih dari lima juta warga Malaysia disebut hidup dengan penyakit ginjal kronis, tetapi hanya sebagian kecil yang menyadari kondisinya. Jika tidak ada langkah pencegahan yang efektif, diperkirakan lebih dari 106 ribu warga Malaysia akan membutuhkan dialisis pada 2040.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Penyebab Gagal Ginjal

Jika tidak ada langkah pencegahan yang efektif, diperkirakan lebih dari 106 ribu warga Malaysia akan membutuhkan dialisis pada 2040. [unsplash/karola g].

Penyebab utama gagal ginjal di Malaysia disebut berasal dari komplikasi diabetes melitus. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal sehingga organ tersebut kehilangan kemampuan menyaring limbah dan cairan dalam tubuh dengan baik. Selain diabetes, hipertensi atau tekanan darah tinggi juga menjadi faktor besar yang mempercepat kerusakan ginjal.

Tak hanya itu, pola makan tinggi gula, garam, dan makanan olahan juga ikut berkontribusi terhadap meningkatnya kasus gagal ginjal. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis, makanan cepat saji, makanan tinggi sodium, hingga kurang minum air putih dapat memperburuk kesehatan ginjal dalam jangka panjang.

3 dari 4 halaman

Menaikkan Pajak Minuman Manis

ilustrasi minuman manis harus dihindari untuk asam urat/pexels

Pemerintah Malaysia sendiri mulai mengambil langkah pencegahan dengan menaikkan pajak minuman berpemanis atau sugar-sweetened beverages (SSB) menjadi 90 sen per liter sejak Januari 2025. Kebijakan ini dilakukan untuk menekan angka diabetes yang selama ini menjadi akar utama meningkatnya kasus gagal ginjal.

“Pemerintah telah menaikkan pajak minuman manis (SSB) menjadi 90 sen per liter efektif 1 Januari 2025," katanya.

Selain diabetes dan hipertensi, gagal ginjal juga dapat dipicu oleh glomerulonefritis, yaitu peradangan pada unit penyaring kecil di ginjal. Kondisi ini sering menyerang usia muda karena gejalanya tidak khas, seperti urine berbusa, bengkak pada tubuh, tekanan darah tinggi, dan penurunan produksi urine.

Penyebab lain yang juga perlu diwaspadai antara lain batu ginjal, infeksi, dehidrasi kronis, penyakit jantung, gangguan hati, faktor genetik seperti ginjal polikistik, hingga penggunaan obat pereda nyeri golongan NSAID dalam jangka panjang. Jika dikonsumsi berlebihan, obat anti nyeri dapat memperburuk fungsi ginjal dan meningkatkan risiko gagal ginjal, terutama pada orang yang sudah memiliki gangguan ginjal sebelumnya.

4 dari 4 halaman

Negara Asia Tenggara Lainnya yang Alami Lonjakan Kasus Serupa

makanan manis berlebihan atau minuman bersoda./copyright pexels/ivan

Kenaikan kasus gagal ginjal ternyata tidak hanya terjadi di Malaysia, tetapi juga Indonesia dan Filipina. Di Indonesia, tren serupa juga mulai terlihat. Penyakit ginjal yang berujung pada kebutuhan cuci darah kini semakin banyak dialami kelompok usia muda.

Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis ginjal dan hipertensi, dr. Decsa Medika Hertanto, mengatakan bahwa jumlah pasien gagal ginjal usia muda terus bertambah. Kondisi ini menjadi perhatian karena dulu gagal ginjal lebih sering ditemukan pada usia lanjut, sementara sekarang semakin banyak pasien berusia produktif yang harus menjalani dialisis.

Data BPJS Kesehatan menunjukkan biaya penanganan gagal ginjal di Indonesia telah mencapai lebih dari Rp13 triliun pada 2025. Angka ini menunjukkan bahwa gagal ginjal kini menjadi salah satu penyakit dengan beban biaya kesehatan terbesar di Indonesia.

Filipina juga menghadapi tren serupa, terutama pada kelompok usia muda yang kini semakin banyak menjalani dialisis akibat penyakit kronis terkait gaya hidup.

Menurut National Kidney and Transplant Institute (NKTI) di Filipina, jumlah orang dewasa muda yang harus menjalani cuci darah terus meningkat. Kondisi ini terutama dipicu oleh diabetes dan hipertensi yang tidak terkontrol. Konsultan nefrologi dewasa NKTI, Amor Patrice Socorro Estabillo, mengatakan bahwa pasien dialisis kini didominasi kelompok usia yang lebih muda 

“Populasi yang menjalani dialisis sekarang lebih muda,” kata Konsultan Nefrologi Dewasa NKTI, Amor Patrice Socorro Estabillo, dalam konferensi pers di Quezon City, mengutip laman resmi pna.gov.ph.