Fimela.com, Jakarta - Di era digital seperti sekarang, membagikan momen tumbuh kembang anak di media sosial sudah menjadi hal yang sangat umum. Dari foto pertama saat lahir hingga keseharian yang menggemaskan, semuanya terasa sayang untuk tidak dibagikan. Apalagi, respons hangat dari keluarga dan teman seringkali membuat aktivitas ini terasa semakin menyenangkan.
Namun, di balik kebiasaan tersebut, muncul fenomena yang dikenal dengan istilah “sharenting”—gabungan dari kata sharing dan parenting. Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa membuka terlalu banyak informasi pribadi anak ke ruang publik digital yang luas dan sulit dikontrol.
Tak hanya soal privasi, sharenting juga berpotensi memengaruhi kesehatan mental, hubungan orangtua dan anak, hingga keamanan mereka di dunia nyata. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk lebih bijak sebelum menekan tombol “unggah”. Dilansir dari Cleveland Clinic, memahami dampak jangka panjang dari sharenting menjadi langkah awal untuk melindungi anak di era digital. Yuj, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Apa Itu Sharenting dan Mengapa Perlu Diwaspadai?
Sahabat Fimela, sharenting adalah kebiasaan orangtua membagikan informasi, foto, atau video anak secara berlebihan di media sosial. Meski sering dilakukan dengan niat baik—seperti berbagi kebahagiaan atau mendokumentasikan momen penting—kebiasaan ini bisa membawa konsekuensi yang tidak diinginkan.
Masalahnya, jejak digital bersifat permanen. Apa yang diunggah hari ini bisa tetap ada dan diakses oleh banyak orang di masa depan, bahkan ketika anak sudah dewasa.
Risiko yang Mengintai di Balik Unggahan Anak
1. Ancaman terhadap Privasi Anak
Membagikan informasi seperti nama lengkap, tanggal lahir, atau sekolah anak bisa mempermudah orang asing mengidentifikasi mereka. Tanpa disadari, orangtua sedang membuka akses ke data pribadi anak.
2. Potensi Kejahatan Digital
Sahabat Fimela, foto dan video anak yang tersebar di internet bisa disalahgunakan lho.Mulai dari pencurian identitas hingga eksploitasi digital. Bahkan, teknologi seperti AI kini dapat memanfaatkan gambar untuk hal-hal yang tidak bertanggung jawab.
3. Dampak pada Kesehatan Mental
Anak yang tumbuh dengan “identitas digital” yang dibentuk orangtuanya bisa merasa tertekan. Apalagi jika unggahan tersebut bersifat memalukan atau tidak sesuai dengan keinginan mereka.
4. Risiko Perundungan (Bullying)
Konten yang dianggap lucu oleh orangtua belum tentu diterima baik oleh lingkungan sosial anak. Di sekolah atau lingkungan pertemanan, hal ini bisa menjadi bahan ejekan.
5. Hubungan Orangtua dan Anak Bisa Terganggu
Ketika anak merasa privasinya tidak dihargai, mereka bisa kehilangan kepercayaan pada orangtua. Akibatnya, komunikasi dalam keluarga pun menjadi kurang terbuka.
Kenapa Orangtua Melakukan Sharenting?
Ada banyak alasan di balik kebiasaan ini. Mulai dari rasa bangga terhadap anak, keinginan untuk berbagi dengan keluarga, hingga mencari dukungan dari sesama orangtua. Bahkan, bagi sebagian orang, media sosial menjadi tempat untuk membangun identitas diri.
Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua momen perlu dibagikan ke publik—terutama jika menyangkut kehidupan pribadi anak.
Pertimbangan Sebelum Mengunggah Konten Anak
Sebelum membagikan foto atau video si kecil, coba tanyakan hal-hal berikut pada diri sendiri:
- Apakah konten ini akan membuat anak saya nyaman di masa depan?
- Apakah ada informasi pribadi yang terungkap?
- Siapa saja yang bisa melihat unggahan ini?
- Apakah konten ini bisa disalahgunakan oleh orang lain?
- Apakah saya sudah meminta izin anak (jika mereka sudah cukup umur)?
Jika masih ragu, sebaiknya tahan diri untuk tidak mengunggah.
Tips Bijak Berbagi Momen Anak di Media Sosial
Agar tetap bisa berbagi tanpa mengorbankan keamanan anak, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Hindari menyertakan informasi pribadi seperti lokasi atau sekolah
- Gunakan pengaturan privasi akun
- Pilih foto yang tidak memperlihatkan wajah secara jelas (jika perlu)
- Minta persetujuan anak sebelum mengunggah
- Batasi frekuensi berbagi konten tentang anak
- Bijak di Dunia Digital, Demi Masa Depan Anak
Media sosial memang menjadi sarana untuk berbagi kebahagiaan. Namun, sebagai orangtua, penting untuk memahami batasan agar tidak merugikan anak di kemudian hari.
Sahabat Fimela, dengan lebih bijak dalam menggunakan media sosial, kita tidak hanya melindungi privasi anak, tetapi juga membantu mereka tumbuh dengan rasa aman dan percaya diri—baik di dunia nyata maupun digital. Silahkan dicoba ke buah hati ya!
Penulis: Siti Nur Arisha