Sering Tak Disadari, Ada 4 dari 11 Tanda Pengabaian Emosional yang Kerap Terjadi dalam Pernikahan

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 05 Mei 2026, 20:25 WIB

ringkasan

  • Pengabaian emosional dalam pernikahan seringkali tidak disadari namun dapat merusak keharmonisan hubungan karena hilangnya koneksi dan kepercayaan.
  • Tanda-tanda pengabaian emosional meliputi penolakan terhadap kerentanan, penahanan kasih sayang, normalisasi perilaku buruk, serta kritik dan meremehkan dari pasangan.
  • Mengenali tanda-tanda ini adalah langkah krusial untuk mengatasi masalah dan mencari bantuan profesional demi kesehatan serta kebahagiaan pernikahan.

Fimela.com, Jakarta - Pernikahan yang harmonis adalah impian setiap pasangan yang ingin membangun bahtera rumah tangga penuh kebahagiaan. Hidup seringkali menghadirkan berbagai tantangan, kehilangan, dan perjuangan yang harus dihadapi bersama. Namun, kenyamanan sejati ditemukan ketika pasangan saling mendukung dan menghadapi segalanya sebagai satu tim.

Sayangnya, terkadang bentuk pengabaian emosional yang halus mulai menyusup ke dalam hubungan. Hal ini dapat mengganggu ikatan bahagia yang telah terjalin lama. Akibatnya, pasangan akan merasakan hilangnya koneksi mendalam serta kepercayaan satu sama lain.

Marielisa Reyes, seorang penulis YourTango dengan latar belakang Psikologi, menguraikan beberapa tanda utama pengabaian emosional. Artikel ini akan membahas empat dari sebelas tanda tersebut yang perlu Sahabat Fimela waspadai. Mengenali ciri-ciri ini adalah langkah awal untuk menjaga keharmonisan pernikahan Anda.

2 dari 5 halaman

Ketika Pasangan Mengabaikan Upaya untuk Bersikap Rentan

Salah satu tanda pengabaian emosional yang merusak adalah ketika pasangan mengabaikan upaya Anda untuk bersikap rentan. Jika Anda mencoba mengungkapkan perasaan atau berbicara tentang masa sulit, namun secara konsisten disambut dengan respons dingin dan tatapan tidak peduli, ini bisa menjadi bentuk pengabaian emosional.

Perilaku seperti ini sangat merusak pernikahan, terutama saat masa-masa sulit. Pasangan yang tidak bersedia berkompromi atau tidak mau berubah dalam menghadapi masalah, akan sulit untuk diajak berdiskusi. Ini menciptakan jurang emosional yang semakin lebar.

Kemampuan untuk berbagi kerentanan adalah fondasi penting dalam hubungan yang sehat. Ketika kerentanan ini diabaikan, seseorang mungkin merasa tidak didengar dan tidak dihargai, yang pada akhirnya dapat mengikis kedekatan emosional.

3 dari 5 halaman

Menahan Kasih Sayang, Tanda Hilangnya Kehangatan dalam Hubungan

Hampir setiap individu membutuhkan kasih sayang untuk merasa dicintai, terutama dalam ikatan pernikahan. Ketika salah satu pasangan menahan kasih sayang, ini dapat menjadi bentuk pengabaian emosional yang serius.

Baik karena akumulasi kebencian atau hilangnya percikan asmara, ketiadaan kasih sayang atau kehangatan memiliki dampak yang sama. Penolakan ini dapat menyebabkan perasaan terluka seperti kecemburuan, kesepian, rasa malu, rasa bersalah, bahkan kecemasan sosial, menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Dialogues in Clinical Neuroscience.

Sahabat Fimela, menahan kasih sayang secara emosional dapat membuat pasangan merasa tidak diinginkan dan tidak dicintai. Hal ini secara perlahan mengikis ikatan emosional dan kepercayaan yang seharusnya menjadi pilar utama dalam pernikahan.

4 dari 5 halaman

Perilaku Buruk yang Dianggap Normal oleh Pasangan

Dalam pernikahan, wajar jika ada hari-hari baik dan buruk. Namun, perubahan suasana hati yang ekstrem dapat membebani pasangan, terutama ketika perilaku tersebut dianggap normal oleh pelakunya.

Ketika pola ini terjadi berulang kali dalam jangka waktu yang lama, kemarahan dan kebencian dapat menumpuk, menyebabkan kerugian besar bagi pernikahan. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Research in Personality menunjukkan bahwa kemarahan terhadap pasangan romantis dapat memicu perilaku destruktif seperti permusuhan, keluhan, penolakan, dan bahkan kekerasan dalam rumah tangga.

Menganggap perilaku buruk sebagai hal yang normal adalah bentuk pengabaian emosional karena mengabaikan dampak negatif pada kesejahteraan mental pasangan. Ini menunjukkan kurangnya empati dan tanggung jawab terhadap dinamika hubungan.

5 dari 5 halaman

Kritik dan Meremehkan, Bentuk Pengabaian yang Menyakitkan

Merasa diremehkan atau diolok-olok oleh pasangan mungkin tidak selalu terasa seperti pengabaian emosional, karena ada interaksi yang terjadi. Pasangan bahkan mungkin mengatakan, "Saya tidak akan seperti ini jika Anda berhenti melakukan hal-hal ini!" untuk membuat Anda merasa bersalah.

Namun, jika seorang pasangan mengetahui kebutuhan emosional apa yang harus dipenuhi tetapi tidak melakukannya, ini adalah bentuk pengabaian. Mendatangi pasangan untuk mengungkapkan rasa kesal sudah cukup sulit, apalagi jika respons yang didapat adalah kritik atau ejekan.

Pengabaian emosional dalam suatu hubungan seringkali adalah ketiadaan kesadaran dan respons emosional yang memadai. Kondisi ini mungkin tidak terlihat jelas oleh semua orang, bahkan oleh pasangan itu sendiri, namun dampaknya sangat menyakitkan. Kedua belah pihak terluka oleh apa yang tidak ada dalam hubungan mereka. Jika Sahabat Fimela merasa kesepian meskipun berada di samping pasangan, seolah ada dinding tak terlihat di antara Anda, ini bisa menjadi indikasi kuat adanya pengabaian emosional. Mengenali tanda-tanda ini adalah langkah pertama dan krusial untuk mengatasi masalah mendalam tersebut. Penting untuk mencari cara membangun kembali koneksi emosional atau mencari bantuan profesional jika diperlukan, demi kesehatan dan kebahagiaan pernikahan Anda.