Mengenal Istilah Kurikulum Pendidikan di Indonesia, Dari Nasional hingga Internasional

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 16 Mei 2026, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Memilih sekolah saat ini bukan lagi sekadar mempertimbangkan jarak dari rumah atau fasilitas bangunan yang modern. Banyak orangtua kini mulai memperhatikan satu hal yang dianggap sangat menentukan masa depan anak, yakni kurikulum pendidikan.

Di Indonesia, pilihan kurikulum semakin beragam. Selain kurikulum nasional yang diterapkan di sebagian besar sekolah, ada pula kurikulum internasional seperti IB dan Cambridge, hingga pendekatan pembelajaran alternatif seperti Montessori yang semakin populer di kalangan keluarga urban.

Masing-masing memiliki pendekatan, metode belajar, dan tujuan pendidikan yang berbeda. Lalu, apa sebenarnya perbedaan dari kurikulum-kurikulum tersebut?

 

2 dari 5 halaman

1. Kurikulum Nasional: Fokus pada Karakter dan Fleksibilitas Belajar

Ilustrasi siswa, pelajar, murid SMA, anak sekolah. (Photo by Ed Us on Unsplash)

Kurikulum nasional yang saat ini berlaku di Indonesia adalah Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini mulai diterapkan secara bertahap sebagai penyempurnaan dari Kurikulum 2013. Pendekatan utamanya adalah memberikan ruang belajar yang lebih fleksibel dan berpusat pada siswa. Materi pembelajaran dibuat lebih sederhana agar siswa dapat memahami konsep secara mendalam, bukan sekadar menghafal teori.

Salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka adalah adanya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Melalui program ini, siswa diajak belajar lewat proyek nyata seperti isu lingkungan, budaya lokal, kewirausahaan, hingga literasi digital. Dalam kurikulum ini, guru juga memiliki kebebasan lebih besar untuk menyesuaikan metode belajar sesuai kebutuhan siswa di kelas.

 

3 dari 5 halaman

2. International Baccalaureate (IB): Mendorong Pola Pikir Global

Kurikulum International Baccalaureate (IB) dikenal sebagai salah satu sistem pendidikan internasional yang cukup prestisius dan digunakan di banyak negara. IB menekankan pembelajaran berbasis riset, analisis, dan pemecahan masalah. Siswa didorong untuk aktif berdiskusi, berpikir kritis, serta memahami isu global dari berbagai sudut pandang.

Berbeda dengan sistem belajar yang berfokus pada ujian akhir, IB lebih menekankan proses belajar secara menyeluruh. Penilaian dilakukan melalui proyek, presentasi, esai, hingga penelitian mandiri. Kurikulum ini biasanya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan banyak dipilih oleh sekolah internasional maupun keluarga yang berencana melanjutkan pendidikan anak ke luar negeri.

 

4 dari 5 halaman

3. Cambridge: Akademik Kuat dengan Standar Internasional

Ilustrasi Pergaulan Remaja Credit: pexels.com/pixabay

Kurikulum Cambridge berasal dari University of Cambridge di Inggris dan menjadi salah satu kurikulum internasional paling banyak digunakan di dunia. Sistem ini dikenal memiliki struktur akademik yang kuat, terutama dalam bidang matematika, sains, dan bahasa Inggris. Pembelajaran dirancang agar siswa memahami konsep secara mendalam sekaligus mampu menerapkannya dalam pemecahan masalah.

Cambridge juga memiliki jenjang ujian internasional seperti IGCSE dan A Level, yang diakui oleh banyak universitas global. Meski berbasis akademik, pendekatan Cambridge tetap mendorong siswa untuk aktif berdiskusi dan mengembangkan kemampuan analisis.

 

5 dari 5 halaman

4. Montessori: Belajar Sesuai Ritme Anak

Berbeda dari sistem pendidikan konvensional, Montessori lebih dikenal sebagai metode pembelajaran yang berpusat pada perkembangan alami anak. Metode ini dikembangkan oleh Maria Montessori dan biasanya diterapkan pada pendidikan usia dini hingga sekolah dasar. Dalam sistem Montessori, anak diberikan kebebasan memilih aktivitas belajar sesuai minat dan kecepatannya sendiri.

Ruang kelas Montessori umumnya dibuat lebih interaktif dengan berbagai alat bantu belajar yang memungkinkan anak mengeksplorasi secara mandiri. Guru dalam metode ini berperan sebagai pendamping, bukan pusat utama pembelajaran. Fokus utamanya adalah membangun rasa ingin tahu, kemandirian, dan kemampuan sosial anak sejak dini.