Membentak Anak Tidak Akan Berhasil, Yuk, Pahami Dampak Buruknya

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 18 Mei 2026, 15:01 WIB

ringkasan

  • Berteriak pada anak dapat merusak perkembangan psikologis, emosional, dan perilaku mereka, bahkan mengubah struktur otak serta memicu masalah kesehatan mental dan fisik jangka panjang.
  • Alih-alih efektif, berteriak justru memperburuk perilaku anak, membuat mereka takut, kurang percaya diri, dan merusak hubungan baik antara orang tua dan anak.
  • Ada alternatif komunikasi yang lebih sehat, seperti mengelola emosi diri, menghubungkan diri sebelum mengoreksi, menetapkan batasan jelas, dan meminta maaf jika terlanjur berteriak

Fimela.com, Jakarta - Siapa di antara kita yang nggak pernah merasa kewalahan saat mengasuh si kecil? Apalagi kalau sudah lelah seharian, terus anak rewel atau melakukan hal yang bikin emosi memuncak. Kadang, tanpa sadar, kita refleks meninggikan suara, bahkan sampai berteriak. Rasanya, dengan berteriak, anak jadi langsung nurut, ya? Tapi, tahukah kamu kalau membentak anak dan justru bisa meninggalkan luka yang dalam?

Meskipun niatnya mungkin untuk mendisiplinkan atau membuat anak patuh, berteriak ternyata adalah praktik yang tidak efektif dan bisa menimbulkan dampak negatif yang signifikan, baik pada perkembangan psikologis, emosional, perilaku, bahkan fisik anak. Parahnya lagi, kebiasaan ini juga bisa merusak hubungan istimewa antara orang tua dan anak. Berbagai penelitian di Amerika Serikat bahkan menunjukkan bahwa dampak berteriak bisa sebanding dengan bentuk penganiayaan lainnya. 

2 dari 6 halaman

Dampak Tersembunyi pada Psikologis dan Emosional Anak

Berteriak pada anak itu seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, mungkin kita merasa lega karena emosi tersalurkan, tapi di sisi lain, dampaknya pada jiwa anak bisa sangat menghancurkan. (Foto: Keren Fedida/Unsplash)

Berteriak pada anak itu seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, mungkin kita merasa lega karena emosi tersalurkan, tapi di sisi lain, dampaknya pada jiwa anak bisa sangat menghancurkan. Salah satu efek negatif yang paling terasa adalah menurunnya harga diri anak. Anak-anak yang sering menghadapi pelecehan verbal secara teratur akan memproses informasi negatif lebih cepat dan menyeluruh daripada informasi positif. Studi mengungkapkan bahwa anak-anak yang terpapar agresi verbal dari orang tua yang mengontrol lebih mungkin menderita harga diri rendah, perasaan tidak berharga, dan kesedihan yang terus-menerus.

Nggak cuma itu, kebiasaan berteriak juga meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya. Pelecehan verbal masa kanak-kanak adalah masalah tersembunyi yang dapat menyebabkan depresi, kecemasan, kecenderungan bunuh diri, hingga gangguan penggunaan zat. Remaja yang orang tuanya berteriak pada mereka memiliki peningkatan risiko depresi dan perilaku agresif, mirip dengan efek jika mereka dipukul. Berteriak juga memicu peningkatan neuroaktivitas di amigdala, bagian otak yang berperan dalam stres dan depresi. Efek psikologis umum lainnya termasuk perubahan suasana hati, rasa malu, sering menangis, ketakutan, rasa bersalah, penarikan diri dari orang tua, kebingungan, serta ketidakberdayaan atau keputusasaan. Anak-anak yang diteriaki mungkin juga belajar perilaku agresif verbal, yang bisa bertahan hingga dewasa.

3 dari 6 halaman

Otak Anak Ikut Terdampak

Mungkin kita nggak menyangka, tapi berteriak dan teknik pengasuhan keras lainnya secara harfiah dapat mengubah cara otak anak berkembang. Ini karena manusia memproses informasi dan peristiwa negatif lebih cepat dan lebih menyeluruh daripada yang baik. Pencitraan resonansi magnetik (MRI) otak orang yang mengalami pelecehan orangtua menunjukkan bahwa paparan sering berteriak memengaruhi struktur dan pemrosesan otak, terutama area yang terkait dengan emosi, memori, dan respons stres.

Berteriak juga dapat memicu respons stres di otak, menghambat fungsi emosional dan logis seiring waktu. Ketika kita berteriak, anak-anak akan masuk ke mode fight or flight, reaksi fisiologis saat otak menganggap sesuatu sebagai ancaman. Saat dalam respons fight or flight, anak tidak dapat belajar secara efektif. Bahkan, studi menemukan adanya hubungan antara frekuensi pola ibu berteriak dengan ukuran otak anaknya. Bentuk pola pengasuhan yang keras seperti berteriak dapat membahayakan perkembangan otak anak-anak, bahkan bisa menyebabkan penyusutan ukuran otak hingga mereka mencapai usia remaja.

4 dari 6 halaman

Bukan Solusi, Malah Bikin Perilaku Makin Parah

Kamu mungkin berpikir bahwa berteriak pada anak bisa menyelesaikan masalah saat itu juga atau mencegah perilaku buruk di masa depan. Tapi, penelitian justru menunjukkan sebaliknya, berteriak sebenarnya dapat membuat perilaku anak semakin buruk. Anak-anak yang sering diteriaki mungkin percaya bahwa orangtua mereka menyerang kepribadian mereka, bukan masalah perilakunya. Ini bisa menyebabkan mereka terus melakukan hal-hal yang tidak disetujui orangtua.

Yang lebih mengkhawatirkan, berteriak justru melatih anak-anak untuk tidak mendengarkan sampai kita berteriak. Mereka belajar bahwa mereka perlu diteriaki sebelum bertindak, melanggengkan siklus komunikasi yang tidak sehat. Hasilnya, anak bisa menjadi lebih agresif, baik secara fisik maupun verbal, dan menunjukkan perilaku kenakalan.

5 dari 6 halaman

Jaga Hubungan Baik dengan Si Kecil, Hindari Berteriak

Berteriak juga punya dampak yang signifikan pada hubungan kita dengan anak. Ini bisa merusak kepercayaan dan koneksi yang sudah dibangun. Saat kita 'kehilangan kendali' dan berteriak, pesan yang tersampaikan adalah 'Saya membutuhkan kamu untuk berperilaku agar saya bisa merasa lebih tenang'. Ini membuat kita terlihat tidak terkendali di mata anak-anak, bahkan terlihat lemah.

Konsekuensi jangka panjang dari kebiasaan berteriak ini juga nggak main-main, lho. Selain masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, PTSD, dan disregulasi emosi, ada juga masalah kesehatan fisik kronis. Studi menemukan hubungan antara pengalaman masa kanak-kanak negatif, termasuk pelecehan verbal, dan perkembangan kondisi kronis yang menyakitkan di kemudian hari, seperti radang sendi, sakit kepala parah, dan nyeri kronis lainnya. Bahkan, bisa juga memengaruhi kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dan saling percaya di masa dewasa.

6 dari 6 halaman

Alternatif Komunikasi yang Lebih Efektif

Kita dapat belajar mengelola emosi dan berkomunikasi dengan cara yang lebih positif. Langkah pertama adalah mengelola emosi diri sendiri. Saat emosi memuncak, coba tarik napas dalam-dalam, hitung sampai 10, atau minum air untuk mendapatkan kembali ketenanganmu. Pergi menjauh sebentar dari anak juga bisa jadi cara efektif untuk menenangkan diri sebelum merespons.

Setelah itu, coba untuk menghubungkan diri dengan anak sebelum mengoreksi. Anak-anak jauh lebih mungkin untuk mendengarkan ketika mereka merasa terhubung dengan kita. Hibur mereka dengan sentuhan fisik, sentuh bahu mereka dengan lembut, atau peluk, lalu tunjukkan bahwa kita berempati dengan perasaan mereka. Penting juga untuk menetapkan batasan dan harapan yang jelas untuk perilaku anak sebelum konflik muncul, dan secara teratur ingatkan mereka tentang harapan ini. Alih-alih ancaman, gunakan pernyataan 'kapan-maka' untuk memotivasi anak. Dan yang nggak kalah penting, jika kamu terlanjur berteriak, jangan ragu untuk meminta maaf kepada anakmu. Modelkan komunikasi yang sehat dengan mengakui kesalahanmu dan menyatakan penyesalan. Jika semua cara sudah dicoba dan masih kesulitan, mencari bantuan profesional dari psikolog anak atau terapis bisa jadi solusi terbaik.

Mendidik anak memang butuh kesabaran ekstra dan proses belajar yang tiada henti. Mengubah kebiasaan berteriak memang nggak mudah, tapi demi tumbuh kembang si kecil yang optimal dan hubungan yang harmonis, usaha ini pasti worth it banget. Yuk, kita jadi orang tua yang lebih mindful dan penuh cinta!