Anak Sulit Berbagi Perasaan Sedih? Ini Cara Membantu Mereka Mau Bercerita

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 22 Mei 2026, 21:16 WIB

ringkasan

  • Pahami alasan anak enggan berbicara, mulai dari keterbatasan kosakata emosional hingga perasaan tidak aman atau takut dihakimi.
  • Ciptakan lingkungan yang aman dan mendukung melalui jaminan, rutinitas, ketenangan orang tua, waktu berkualitas, dan batasi paparan berita negatif.
  • Dorong komunikasi tanpa memaksa dengan pertanyaan terbuka, media kreatif, dan validasi perasaan, serta kenali tanda-tanda kapan bantuan profesional diperlukan.

Fimela.com, Jakarta - Melihat anak murung atau menarik diri setelah mengalami kejadian tidak menyenangkan tentu membuat hati orang tua ikut cemas. Seringkali, tantangan terbesar adalah ketika anak enggan berbagi apa yang sedang mereka rasakan. Namun, jangan khawatir, ada cara untuk membantu mereka membuka diri dan memproses emosi dengan sehat.

Memahami mengapa anak memilih diam adalah kunci. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak memiliki alasan unik di balik keengganan mereka untuk membahas topik sulit. Dengan pendekatan yang tepat, Anda bisa menjadi pendengar terbaik bagi buah hati.

Ada berbagai alasan mengapa anak-anak mungkin menolak untuk berbicara tentang pengalaman yang menyedihkan. Alasan-alasan ini seringkali berkaitan dengan tahap perkembangan, perasaan, atau lingkungan mereka. Salah satu alasannya adalah hal ini bisa jadi respons yang normal bagi sebagian anak. “Sangat normal bagi sebagian anak untuk tidak tertarik membahas topik sulit. Tidak seperti beberapa orang dewasa, anak-anak seringkali tidak ingin berbicara tentang situasi sulit,” ungkap Kirrilies Mout, seorang psikolog anak. Mengungkapkan perasaan adalah sebuah keterampilan yang perlu diasah, bukan kemampuan bawaan lahir.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Mengapa Si Kecil Enggan Berbagi Cerita Sedihnya?

Bagi sebagian anak, perasaan yang mereka alami begitu luar biasa sehingga mereka tidak tahu bagaimana memprosesnya, apalagi mengomunikasikannya. [Dok/freepik.com/pvproductions]

Ketika anak mengalami emosi kuat seperti marah atau sedih, bagian otak yang berfungsi untuk berbicara bisa menjadi 'offline'. Ini terjadi karena respons stres fight-flight-freeze mengganggu kemampuan mereka mengakses 'otak berpikir', sehingga sulit bagi mereka untuk mengomunikasikan apa yang salah.

Selain itu, anak-anak mungkin belum memiliki kosakata emosional yang cukup untuk menjelaskan perasaan kompleks seperti 'kekecewaan' atau 'kecemasan', bahkan pada anak yang lebih besar. Mereka mungkin merasa tidak aman untuk mengekspresikan diri, terutama jika pernah diejek, dihukum, atau diabaikan saat mengungkapkan perasaan sebelumnya. Rasa takut dihakimi atau khawatir akan konsekuensi juga bisa membuat anak memilih diam. Tak jarang, mereka juga tidak ingin menambah beban pikiran orang tua atau merasa orang tua terlalu ikut campur dalam masalah mereka.

Bagi sebagian anak, perasaan yang mereka alami begitu luar biasa sehingga mereka tidak tahu bagaimana memprosesnya, apalagi mengomunikasikannya. Terkadang, anak mungkin tidak menganggap situasi tersebut sepenting yang orang dewasa rasakan.

3 dari 5 halaman

Membangun Lingkungan yang Aman dan Penuh Dukungan

Menciptakan rasa aman dan dukungan adalah fondasi utama untuk membantu anak memproses pengalaman yang menyedihkan. Pertama, berikan jaminan dan kenyamanan ekstra. Pelukan dan kata-kata penenang dapat membuat anak merasa aman. Penting juga untuk mempertahankan rutinitas normal mereka sebisa mungkin, termasuk jadwal makan, tidur, dan aktivitas fisik yang konsisten.

Ketenangan Anda sebagai orangtua juga sangat berpengaruh. Mengelola emosi Anda sendiri akan memberikan rasa tenang bagi anak, menunjukkan bahwa Anda memegang kendali dan mereka aman. Batasi paparan anak terhadap berita yang berulang mengenai peristiwa traumatis, karena hal ini dapat memperburuk kecemasan mereka. Matikan televisi atau radio dan hindari membicarakan kejadian menakutkan di sekitar anak.

Terakhir, luangkan waktu berkualitas bersama anak. Lakukan aktivitas yang menenangkan atau menyenangkan, seperti memasak, berjalan-jalan, bermain, membaca, atau membuat karya seni. Lakukan ini setiap hari, bahkan jika hanya beberapa menit.

4 dari 5 halaman

Mendorong Komunikasi Tanpa Tekanan

Menciptakan ruang di mana anak merasa nyaman untuk berbagi, tanpa paksaan, adalah kunci. Jangan pernah memaksa anak untuk berbicara. Memaksa mereka justru bisa membuat mereka semakin menutup diri. Sebaliknya, berikan kesempatan berkelanjutan bagi mereka untuk berbicara, tetapi jangan paksa. Dorong mereka untuk bertanya dan mengungkapkan kekhawatiran mereka.

Gunakan pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan ya-atau-tidak. Misalnya, daripada bertanya, "Apakah harimu baik?", coba tanyakan, "Apa bagian terbaik dari harimu?" atau "Apa yang kamu perhatikan setelah gurumu mengatakan itu?". Ini akan mengundang mereka untuk bercerita lebih banyak.

Manfaatkan saluran kreatif. Anak kecil mungkin lebih mudah menggambar perasaan mereka daripada membicarakannya. Anda bisa mendiskusikan apa yang mereka gambar. Tawarkan juga cara aman lainnya seperti bermain peran atau menceritakan kisah mereka sendiri. Anda juga bisa menceritakan kisah tentang diri Anda yang mencerminkan pengalaman mereka, atau meminta izin untuk berbagi pemikiran Anda.

5 dari 5 halaman

Memvalidasi Perasaan dan Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional

Mengakui dan memvalidasi perasaan anak membantu mereka merasa dipahami dan diterima. Beri tahu mereka bahwa perasaan apa pun yang mereka alami adalah normal, dan perasaan tidak menyenangkan sekalipun akan berlalu jika mereka mau terbuka. Akui dan validasi kekhawatiran anak Anda, bahkan jika menurut Anda tidak relevan. Kenyamanan anak datang dari perasaan dipahami dan diterima oleh Anda.

Bantu anak memberi nama perasaannya. Misalnya, Anda bisa mengatakan, "Kamu terlihat takut barusan" atau "Kamu marah karena...". Ini membantu anak melabeli dan mengidentifikasi perasaan mereka. Menceritakan apa yang Anda perhatikan secara verbal dapat membantu anak membangun kesadaran dan literasi emosional.

Jika gejala berlanjut atau mengganggu kehidupan sehari-hari anak, bantuan profesional mungkin diperlukan. Cari konseling profesional jika gejala stres anak tidak membaik seiring waktu. Terapi perilaku kognitif yang berfokus pada trauma (TF-CBT) direkomendasikan untuk anak-anak yang mengalami peristiwa traumatis.

Tanda-tanda anak mungkin membutuhkan terapi meliputi: stres yang tidak membaik seiring waktu; gejala yang mengganggu kemampuan mereka berfungsi di sekolah atau rutinitas biasa; terlihat depresi, menarik diri dari teman dan keluarga, atau tidak tertarik pada hal-hal yang biasanya mereka nikmati. Perubahan pola tidur atau kebiasaan makan yang drastis, keluhan fisik berulang tanpa sebab jelas, serta ide untuk menyakiti diri sendiri juga merupakan indikator penting. Jangan ragu menghubungi penyedia layanan kesehatan jika masalah baru berkembang dan bertahan lebih dari beberapa minggu, terutama jika ada kilas balik, jantung berdebar, mudah terkejut, mati rasa secara emosional, atau sangat sedih/depresi.

Dukungan dan jaminan Anda sebagai orang tua sangat penting dalam membantu anak mengelola ketakutan mereka, merasa aman, dan pulih dengan cara yang sehat. Ingatlah untuk juga mengelola emosi Anda sendiri agar dapat memberikan dukungan terbaik bagi Si Kecil.