Fimela.com, Jakarta - Dalam keluarga, setiap orangtua biasanya memiliki cara sendiri dalam menghadapi anak. Ada yang terbiasa menerapkan aturan dengan tegas, ada juga yang lebih nyaman menggunakan pendekatan yang lembut dan fleksibel dalam keseharian.
Sahabat Fimela, perbedaan tersebut sebenarnya wajar karena setiap orang dibentuk oleh pengalaman masa kecil, lingkungan, dan kebiasaan yang berbeda. Cara seseorang melihat disiplin, komunikasi, atau respons terhadap emosi anak sering dipengaruhi oleh pola pengasuhan yang mereka alami sebelumnya.
Namun ketika perbedaan cara mengasuh terus muncul tanpa komunikasi yang sehat, situasi ini dapat memicu ketegangan dalam hubungan. Orang tua bisa lebih mudah merasa kesal karena merasa pasangannya tidak mendukung atau tidak memahami cara yang dianggap terbaik untuk anak.
Dilansir dari HappilyFamily.com, perbedaan gaya parenting sebenarnya tidak selalu buruk karena dapat membantu anak melihat berbagai cara dalam menghadapi situasi sehari-hari jika dijalankan dengan komunikasi yang baik.
Sementara itu, YourParentingMojo.com menjelaskan bahwa kemarahan dalam parenting sering muncul dari tekanan emosional yang terus menumpuk terutama ketika orang tua merasa kewalahan atau tidak mendapat dukungan yang cukup dalam mengasuh anak.
Mengapa Perbedaan Cara Asuh Dapat Memicu Konflik
Perbedaan pola asuh sering memicu konflik karena masing-masing orang tua memiliki ekspektasi yang berbeda terhadap perilaku anak maupun cara menghadapi situasi tertentu. Ketika ekspektasi tersebut tidak dibicarakan maka kesalahpahaman dapat lebih mudah muncul.
Situasi sehari-hari seperti menghadapi anak tantrum, menentukan aturan screen time, atau mengatur jam tidur sering menjadi pemicu ketegangan kecil dalam rumah tangga. Perbedaan respons yang muncul bisa membuat pasangan lebih mudah saling menyalahkan.
Selain itu, sebagian orang tua cenderung merasa cara yang mereka gunakan adalah yang paling tepat karena terbiasa melihat pola tersebut sejak kecil. Akibatnya, pasangan bisa kesulitan memahami sudut pandang satu sama lain saat mengambil keputusan terkait anak.
Sahabat Fimela, konflik juga dapat muncul ketika salah satu pihak merasa harus memegang sebagian besar tanggung jawab emosional dalam parenting. Perasaan harus terus mengingatkan, mengatur, atau menjadi penengah dapat membuat emosi lebih mudah terkuras dalam jangka panjang.
Jika terus dibiarkan, perbedaan pola asuh bukan hanya akan memengaruhi hubungan pasangan, tetapi juga suasana di rumah. Anak dapat ikut merasakan ketegangan ketika orang tua sering berbeda pendapat atau bereaksi di depan mereka.
Hal yang Bisa Dilakukan untuk Membangun Pola Asuh yang Seimbang
Membangun pola asuh yang lebih seimbang membutuhkan komunikasi dan kerja sama yang dilakukan secara konsisten. Berikut adalah beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan pasangan untuk memahami satu sama lain:
-
Membicarakan ekspektasi parenting sejak awal
Pasangan perlu memahami nilai dan prioritas masing-masing dalam mengasuh anak. Percakapan sederhana mengenai aturan, disiplin, atau kebiasaan sehari-hari dapat membantu mengurangi kesalahpahaman saat menghadapi situasi tertentu bersama anak.
-
Menghindari saling mengoreksi di depan anak
Perbedaan pendapat sebaiknya dibicarakan secara pribadi agar anak tidak merasa bingung terhadap aturan yang diberikan orang tua. Situasi ini juga bisa membantu pasangan menjaga komunikasi tetap lebih tenang dan saling menghargai.
-
Fokus pada solusi
Dalam parenting, tidak semua situasi memiliki satu jawaban yang mutlak. Mencari solusi bersama biasanya lebih membantu dibanding terus memperdebatkan cara siapa yang paling tepat saat menghadapi anak.
-
Memberi ruang untuk mendengarkan pasangan
Mendengarkan alasan dan sudut pandang pasangan dapat membantu mengurangi respons emosional saat terjadi perbedaan pendapat. Ketika seseorang merasa didengar, komunikasi biasanya menjadi lebih terbuka dan tidak mudah berubah menjadi konflik.
-
Membagi tanggung jawab secara lebih seimbang
Pembagian peran akan membantu mengurangi rasa kewalahan dalam parenting sehari-hari. Ketika kedua pihak merasa saling mendukung, tekanan emosional biasanya menjadi lebih ringan sehingga emosi tidak mudah terpancing saat menghadapi tantangan saat mengasuh anak.