Jangan Tunggu Tantrum, Kenali Tanda Anak Sudah Lelah saat Liburan Keluarga

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 02 September 2026, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, liburan keluarga memang sering menjadi momen yang paling ditunggu. Mengunjungi tempat wisata baru, menikmati suasana berbeda, hingga melihat anak bermain dengan antusias tentu terasa menyenangkan bagi banyak orang tua. Namun dibalik momen seru tersebut, anak juga bisa merasa kelelahan secara emosional selama perjalanan.

Tidak sedikit anak yang tiba-tiba rewel, menangis, marah, atau bahkan mengalami meltdown saat berada di tempat wisata karena kelelahan itu. Kondisi ini sering dianggap sekadar tantrum biasa, padahal sebenarnya anak sedang merasa kewalahan dengan situasi yang mereka hadapi. Mulai dari terlalu ramai, terlalu lelah, lapar, bosan, hingga perubahan rutinitas dapat menjadi pemicunya.

Karena itu, penting bagi orangtua untuk belajar membaca situasi dan mengenali kapan waktu terbaik untuk menyudahi kunjungan wisata sebelum emosi anak benar-benar meledak. Dilansir dari Child Mind Institute, berikut ini merupakan beberapa tanda yang bisa diperhatikan pada anak agar kamu tahu kapan harus menyudahi kunjungan wisata saat liburan.

1. Anak Mulai Lebih Sensitif dari Biasanya

Salah satu tanda awal anak mulai kewalahan adalah perubahan suasana hati yang cukup cepat. Anak yang tadinya ceria bisa mulai mudah marah, gampang menangis, atau tersinggung karena hal kecil.

Misalnya, anak mulai kesal hanya karena antrean terlalu panjang atau tiba-tiba menolak aktivitas yang sebelumnya mereka sukai. Kondisi ini bisa menjadi sinyal bahwa energi emosional anak mulai menurun dan mereka membutuhkan waktu untuk beristirahat.

 

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

2. Anak Sulit Fokus dan Tidak Lagi Menikmati Aktivitas

Bagi anak, terlalu banyak stimulasi justru dapat membuat mereka semakin lelah secara mental.[Dok/freepik.com]

Saat anak mulai kehilangan minat pada aktivitas wisata, orangtua perlu lebih peka terhadap kondisinya. Anak mungkin terlihat melamun, tidak antusias, berjalan lebih lambat, atau terus meminta digendong. Terkadang orangtua tetap memaksakan itinerary karena merasa sayang jika belum mencoba semua wahana atau belum mengunjungi semua tempat.

3. Anak Mulai Menolak Arahan Sederhana

Meltdown sering diawali dengan kesulitan anak mengikuti instruksi sederhana. Misalnya, anak mulai menolak memakai sandal, tidak mau antre, atau terus berlari meski sudah diperingatkan berkali-kali.

Bukan berarti anak sengaja nakal, tetapi mereka mungkin sudah terlalu lelah untuk mengontrol emosi dan perilaku mereka sendiri. Dalam kondisi seperti ini, memaksa anak untuk terus mengikuti aktivitas biasanya justru memperbesar kemungkinan tantrum terjadi.

4. Lingkungan Terasa Terlalu Ramai dan Membuat Overstimulasi

Tempat wisata sering dipenuhi suara keras, keramaian, cahaya terang, dan banyak aktivitas sekaligus. Bagi sebagian anak, terutama yang lebih sensitif terhadap lingkungan, kondisi ini bisa terasa sangat melelahkan.

Jika anak mulai menutup telinga, terlihat gelisah, terus mencari pelukan orangtua, atau tampak tidak nyaman dengan keramaian, itu bisa menjadi tanda mereka membutuhkan suasana yang lebih tenang. Kamu bisa mulai mencari tempat istirahat, area yang lebih sepi, atau mempertimbangkan untuk menyudahi perjalanan lebih awal sebelum anak benar-benar kewalahan.

 

 

 

 

3 dari 3 halaman

5. Anak Mulai Menunjukkan Tanda Fisik Kelelahan

Tanda fisik dapat menjadi petunjuk paling mudah dikenali pada anak.[Dok/freepik.com]

Anak mungkin mulai mengucek mata, menguap terus-menerus, terlihat lesu, atau jadi lebih clingy kepada orangtua. Kondisi lapar, haus, dan kurang tidur juga dapat membuat anak lebih mudah mengalami ledakan emosi. Karena itu, penting untuk tidak mengabaikan kebutuhan dasar anak selama traveling.

6. Orangtua Mulai Ikut Emosi

Bukan hanya anak, orangtua juga bisa merasa lelah selama perjalanan. Ketika orangtua mulai frustrasi, mudah membentak, atau merasa suasana semakin tidak terkendali, itu bisa menjadi tanda bahwa seluruh keluarga membutuhkan jeda.

Anak cenderung menangkap emosi orangtua dengan sangat cepat. Semakin panik atau marah respons orang tua, biasanya situasi juga akan semakin sulit ditenangkan.

7. Tidak Semua Tempat Harus Dikunjungi dalam Satu Hari

Banyak orangtua memiliki ekspektasi tinggi saat liburan sehingga ingin mengunjungi banyak tempat sekaligus. Padahal, anak memiliki batas energi yang berbeda dengan orang dewasa.

Mengurangi satu destinasi atau pulang lebih awal bukan berarti liburan gagal. Justru, keputusan tersebut bisa membantu menjaga mood anak tetap stabil sehingga pengalaman liburan terasa lebih menyenangkan untuk seluruh keluarga.