Jerawat di Era Modern Tak Lagi Sekadar Soal Wajah Berminyak, Ini yang Perlu Dipahami

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 23 Juni 2026, 14:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Jerawat masih menjadi salah satu masalah kulit yang paling umum dialami masyarakat Indonesia. Tidak hanya remaja yang sedang memasuki masa pubertas, orang dewasa pun kini semakin banyak mengeluhkan munculnya jerawat yang datang berulang, sulit sembuh, hingga meninggalkan bekas yang bertahan lama.

Menariknya, cara pandang terhadap jerawat juga mulai berubah. Jika dulu kondisi ini identik dengan wajah yang kurang bersih atau terlalu sering mengonsumsi makanan berminyak, kini para ahli dermatologi melihat jerawat sebagai kondisi yang jauh lebih kompleks.

Perawatan jerawat pun tidak lagi sekadar berfokus pada mengeringkan lesi atau menghilangkan minyak berlebih, melainkan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada kulit. Dalam dunia dermatologi, jerawat dikenal sebagai penyakit inflamasi kronis pada unit pilosebasea, yaitu struktur kulit yang terdiri dari folikel rambut dan kelenjar minyak.

Proses terjadinya jerawat melibatkan beberapa mekanisme yang saling berkaitan. Pori-pori dapat tersumbat oleh penumpukan sel kulit mati dan sebum, produksi minyak menjadi tidak seimbang, terjadi peradangan, serta muncul perubahan pada mikrobioma kulit—komunitas mikroorganisme yang secara alami hidup di permukaan kulit.

 

2 dari 4 halaman

Tidak Semua Jerawat Sama

Percaya atau tidak, apa yang kamu makan bisa menentukan kondisi kulitmu, lho! Kalau ingin kulit lebih bersih dan bebas jerawat, saatnya intip rahasia di balik piringmu. Yuk, simak 5 tips diet sederhana yang bisa bantu kulitmu jadi lebih sehat dan bercahaya dari dalam! (Foto dok: Freepik/jcomp).

Tak hanya itu, kondisi skin barrier atau lapisan pelindung kulit juga ikut berperan. Ketika skin barrier melemah akibat penggunaan produk yang terlalu keras, paparan polusi, stres, atau kebiasaan over-exfoliating, kulit menjadi lebih sensitif dan rentan mengalami inflamasi yang memicu munculnya jerawat.

Inilah alasan mengapa seseorang dengan kulit yang tidak terlalu berminyak pun tetap bisa mengalami jerawat. Kesalahan lain yang masih sering terjadi adalah menganggap semua jerawat dapat diatasi dengan cara yang sama.

Padahal, terdapat berbagai jenis jerawat yang memiliki mekanisme berbeda. Ada comedonal acne yang didominasi komedo dan bruntusan, papulopustular acne berupa jerawat merah yang meradang dan bernanah, nodulocystic acne atau jerawat batu yang berisiko meninggalkan bopeng permanen, hingga hormonal acne yang sering muncul di area rahang dan dagu.

Belakangan, para dermatolog juga semakin sering menemukan kasus skincare-induced acne, yakni jerawat yang muncul akibat penggunaan produk perawatan kulit yang tidak sesuai dengan kondisi kulit atau penggunaan bahan aktif secara berlebihan. Karena penyebabnya berbeda, penanganannya pun tidak bisa disamaratakan.

 

3 dari 4 halaman

Bekas Jerawat Sering Kali Menjadi Masalah yang Lebih Sulit

Ilustrasi Kulit Berjerawat Credit: pexels.com/Dion

Bagi sebagian orang, tantangan terbesar justru dimulai setelah jerawat sembuh. Bekas kehitaman (post-inflammatory hyperpigmentation), kemerahan (post-inflammatory erythema), hingga bopeng dapat bertahan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun apabila tidak ditangani dengan tepat.

Selain memengaruhi penampilan, jerawat dan bekasnya juga diketahui dapat berdampak pada kualitas hidup. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa jerawat dapat menurunkan rasa percaya diri, memengaruhi interaksi sosial, hingga berdampak pada kesehatan mental, terutama pada remaja dan dewasa muda.

Perkembangan ilmu dermatologi juga melahirkan pendekatan baru yang dikenal sebagai skin longevity. Konsep ini tidak hanya mengejar kulit yang tampak bersih dalam waktu singkat, tetapi juga menjaga kesehatan kulit agar tetap kuat, seimbang, dan mampu memperbaiki dirinya sendiri dalam jangka panjang.

Artinya, terapi jerawat modern tidak lagi hanya berfokus pada menghilangkan jerawat yang sedang muncul, tetapi juga mengendalikan inflamasi kronis, menjaga keseimbangan mikrobioma kulit, memperbaiki skin barrier, serta mencegah terbentuknya bekas jerawat. Dengan pendekatan tersebut, risiko kekambuhan diharapkan dapat berkurang sekaligus membantu menjaga kualitas kulit dalam jangka panjang.

 

4 dari 4 halaman

Pendekatan yang Lebih Personal

Founder DL Beauty, dr. Dedy Chandra, mengatakan bahwa jerawat perlu dipahami sebagai kondisi medis yang membutuhkan diagnosis yang tepat, bukan sekadar masalah estetika.

"Masih banyak orang menganggap jerawat muncul karena kurang menjaga kebersihan wajah. Padahal, ilmu kedokteran kulit saat ini menunjukkan bahwa jerawat adalah kondisi yang jauh lebih kompleks. Fokus penanganannya bukan sekadar mengeringkan jerawat, tetapi memahami penyebab utama yang mendasarinya," jelasnya.

Menurut dr. Dedy, setiap jenis jerawat memiliki mekanisme yang berbeda sehingga terapi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Pendekatan yang lebih personal dinilai mampu memberikan hasil yang lebih optimal sekaligus meminimalkan risiko munculnya bekas maupun kekambuhan.

Atas dasar itu, DL Beauty mengembangkan prinsip penanganan jerawat 4R, yaitu Read, Reduce Inflammation, Repair Barrier, dan Regenerate. Tahapan tersebut dimulai dari memahami karakteristik jerawat dan kondisi kulit pasien, kemudian dilanjutkan dengan mengendalikan inflamasi, memperbaiki skin barrier, hingga mendukung regenerasi kulit sesuai kebutuhan.

"Tujuan terapi modern bukan hanya membuat jerawat cepat kering, tetapi memperbaiki kesehatan kulit secara menyeluruh. Dengan memahami kondisi kulit secara lebih mendalam, pasien dapat memperoleh hasil yang lebih optimal sekaligus mengurangi risiko kekambuhan," ujar dr. Dedy.

Pada akhirnya, jerawat bukan lagi persoalan yang bisa disederhanakan sebagai akibat wajah yang kotor. Memahami penyebabnya secara menyeluruh, merawat kesehatan kulit secara konsisten, serta memilih penanganan yang sesuai menjadi langkah penting agar kulit tidak hanya bebas dari jerawat, tetapi juga tetap sehat dan kuat dalam jangka panjang.