Ibu Bekerja Hadapi Tantangan Menyusui, Abel Cantika Soroti Pentingnya Pumping Nyaman

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 29 Juni 2026, 15:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Di balik momen hangat antara ibu dan bayi, menyusui ternyata menyimpan perjuangan yang tidak selalu terlihat. Bagi banyak perempuan, terutama ibu bekerja, proses memberikan ASI kerap diwarnai rasa sakit, tekanan mental, hingga dilema antara tanggung jawab keluarga dan tuntutan pekerjaan.

Pengalaman itu diungkapkan influencer parenting sekaligus ibu dua anak, Abel Cantika, saat membagikan kisah perjuangannya menyusui anak kedua. Alih-alih lebih mudah karena telah memiliki pengalaman sebelumnya, Abel justru menghadapi fase menyusui yang lebih berat dibandingkan saat anak pertamanya lahir.

“Waktu anak kedua lahir, saya pikir semuanya akan lebih gampang karena sudah punya pengalaman. Ternyata praktiknya jauh lebih sulit,” ujar Abel dalam acara dalam peluncuran Momcozy Air 1 di Jakarta Convention Center (JCC).

Abel Cantika mengaku telah mempersiapkan banyak hal sejak masa kehamilan, mulai dari kesiapan mental, nipple cream, hingga pompa ASI. Namun, persiapan teori ternyata tidak sepenuhnya mampu menjawab tantangan nyata setelah melahirkan. Pada bulan pertama, Abel mengalami puting lecet parah dan payudara bengkak akibat oversupply atau produksi ASI berlebih. Kondisi tersebut membuat setiap sesi menyusui menjadi pengalaman yang menyakitkan.

“Setiap sesi menyusui rasanya seperti harus menyiapkan diri menahan sakit. Tapi di sisi lain, bayi tetap harus minum,” katanya.

Menurut Abel, salah satu persepsi keliru yang berkembang di kalangan ibu menyusui saat ini adalah anggapan bahwa freezer penuh stok ASI merupakan simbol keberhasilan. Padahal, kondisi hiperlaktasi atau produksi ASI berlebihan justru dapat memicu ketidaknyamanan serius, mulai dari pembengkakan payudara hingga sumbatan ASI.

“Banyak yang bangga freezer penuh ASI. Padahal oversupply juga tidak nyaman dan bisa menyakitkan. Yang terpenting sebenarnya bukan berlebih, tetapi cukup untuk kebutuhan bayi,” ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, Abel menyimpulkan bahwa kenyamanan ibu menjadi faktor utama dalam kelancaran produksi ASI. Karena itu, pemilihan alat pumping yang tepat dinilai sangat penting, terutama bagi ibu dengan mobilitas tinggi.

2 dari 2 halaman

Pompa ASI Nyaman untuk Busui

Abel Cantika (Instagram/abellyc)

Sebagai ibu yang tetap aktif bekerja dan membuat konten, ia membutuhkan pompa ASI yang nyaman, ringan, senyap, dan tetap mendukung aktivitas sehari-hari. “Tidak harus hisapannya sakit untuk bisa efektif. Saat ibu nyaman, ASI biasanya keluar lebih lancar,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan konselor menyusui, Desyntia Inten Dwi Lestari. Menurutnya, sekitar 98 persen ibu menyusui pernah mengalami puting lecet atau pembengkakan payudara selama masa laktasi.

“Masalahnya bukan semata-mata produksi ASI, tetapi kurangnya edukasi tentang teknik menyusui dan pumping yang benar,” jelasnya.Desyntia menjelaskan bahwa proses menyusui dipengaruhi dua hormon utama, yakni prolaktin yang memproduksi ASI dan oksitosin yang membantu pengeluaran ASI.

Hormon oksitosin sangat dipengaruhi kondisi psikologis ibu. Saat ibu merasa rileks, nyaman, dan bahagia, produksi serta pengeluaran ASI cenderung lebih optimal.

Karena itu, penggunaan alat pumping yang ergonomis, ringan, dan senyap dinilai penting, terutama bagi ibu yang harus memompa ASI di kantor, perjalanan dinas, maupun ruang publik.Ia juga mengingatkan agar ibu tidak menunggu hingga payudara terasa penuh atau bengkak sebelum memompa. Jika dibiarkan terlalu lama, kondisi tersebut dapat memicu sumbatan ASI, mastitis, hingga abses yang berisiko membutuhkan tindakan medis.

“Jangan menunggu sampai payudara terasa sangat penuh. Pengosongan secara rutin penting untuk menjaga produksi ASI tetap optimal,” katanya.

Pompa ASI wearable dengan desain ramping dan teknologi pemompaan cerdas yang memungkinkan ibu memantau volume ASI secara real-time melalui aplikasi dihadirkan oleh Momcozy Air 1. Brand Manager TNP Group, Hanindya Christiana, mengatakan inovasi tersebut lahir dari kebutuhan ibu masa kini yang harus menjalankan banyak peran secara bersamaan.

“Banyak ibu yang harus memompa ASI di kantor, saat perjalanan, bahkan di ruang publik. Karena itu, perangkat harus ringan, senyap, dan diskret agar ibu tetap nyaman,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan menyusui bukan sekadar soal nutrisi bayi, melainkan juga berkaitan erat dengan kesehatan fisik dan mental ibu. Di tengah meningkatnya jumlah perempuan aktif di dunia kerja, edukasi laktasi, dukungan keluarga, serta akses terhadap teknologi pendukung menjadi semakin penting agar ibu tetap dapat memberikan ASI secara optimal tanpa mengorbankan kesehatan maupun produktivitasnya.