Fimela.com, Jakarta - Pernikahan kerap digambarkan sebagai puncak kebahagiaan dan awal dari kehidupan berpasangan yang ideal. Namun, ada perspektif mendalam tentang dinamika hubungan yang mungkin luput dari perhatian pengantin baru, tetapi sangat dipahami oleh mereka yang pernah melalui perceraian atau kehilangan pasangan hidup. Wawasan ini seringkali muncul saat seseorang kembali ke status lajang, membuka mata terhadap fenomena yang disebut "singlism".
"Kisah ini adalah contoh menyakitkan dari singlism," ungkap Bella DePaulo, seorang penulis yang menyoroti isu ini. "Stereotip, stigmatisasi, dan marginalisasi individu lajang, serta diskriminasi terhadap mereka." Fenomena ini, yang sering tidak disadari oleh pasangan yang sudah menikah, menjadi sangat jelas bagi individu yang kembali melajang setelah mengalami kehilangan dalam pernikahan.
Pengalaman pahit ini mengajarkan bahwa status pernikahan tidak hanya mengubah cara pandang seseorang terhadap hubungan romantis, tetapi juga bagaimana masyarakat berinteraksi dengan mereka, terutama bagi mereka yang kembali menyandang status lajang. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi pengantin baru agar dapat membangun hubungan yang lebih inklusif dan empatik.
Mengenal "Singlism": Diskriminasi Terhadap Individu Lajang
"Singlism" merupakan istilah yang merujuk pada stereotip negatif, stigmatisasi, dan marginalisasi yang dialami oleh individu lajang, termasuk bentuk diskriminasi terhadap mereka. Konsep ini menyoroti bias sosial yang menganggap status lajang sebagai kondisi yang kurang ideal atau bahkan problematik dibandingkan dengan status menikah.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Family Theory and Review oleh Ashley E. Ermer dan Jaclyn Elisa Keenoy dari Montclair State University mengemukakan bahwa individu yang baru kembali melajang cenderung menjadi lebih peka terhadap "singlism" dibandingkan saat mereka masih dalam ikatan pernikahan. Pasangan yang sudah menikah, menurut observasi mereka, seringkali tidak menyadari bahwa mereka turut melanggengkan "singlism" hingga mereka sendiri beralih status menjadi lajang setelah kehilangan pasangan.
Kepekaan yang meningkat ini memberikan sudut pandang unik bagi mereka yang pernah menikah tentang bagaimana masyarakat memandang dan memperlakukan individu lajang, sebuah realitas yang mungkin tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Dampak Sosial "Singlism" dalam Lingkaran Pertemanan
Sebuah kisah nyata dari seorang mahasiswa pascasarjana menggambarkan bagaimana pasangan yang sudah menikah tanpa sengaja dapat mengesampingkan teman-teman mereka yang lajang. Ibu dari mahasiswa tersebut, setelah berpisah dengan pasangannya, mendapati bahwa ia tidak lagi diundang untuk bersosialisasi dengan pasangan teman dekatnya. Ini terjadi meskipun kedua wanita itu telah membangun persahabatan yang langgeng.
"Kisah itu menunjukkan sesuatu yang mungkin disadari oleh orang yang bercerai dan menjanda tentang pernikahan begitu mereka melajang lagi: beberapa pasangan tidak menyadari betapa mudahnya mereka mengesampingkan orang lajang," kata Bella DePaulo. Pengalaman ini menyoroti bahwa marginalisasi tidak hanya menyakitkan secara emosional, tetapi juga dapat menghilangkan dukungan sosial yang vital.
Terpinggirkan oleh teman dan kerabat yang telah berpasangan berarti kehilangan dukungan sosial yang penting. Hal ini dapat menciptakan isolasi dan tantangan tambahan bagi individu lajang yang sedang beradaptasi dengan perubahan status mereka.
Membangun Kembali Jaringan Sosial dan Adaptasi Individu Lajang
Ermer dan Keenoy juga menekankan bahwa individu lajang mungkin perlu membangun kembali jaringan sosial mereka setelah teman dan anggota keluarga mereka menikah. Perubahan status teman-teman dapat secara signifikan mengubah dinamika kelompok sosial yang ada.
Individu lajang yang menikmati statusnya dan telah berinvestasi dalam kehidupan lajang mereka, seperti mereka yang "single at heart", cenderung beradaptasi dengan baik. Hal ini karena mereka mungkin telah mengembangkan jaringan sosial yang lebih kuat, berfokus pada "The Ones" (banyak orang penting) daripada hanya mencari "The One" (satu pasangan romantis).
Pelajaran ini menggarisbawahi pentingnya memiliki beragam sumber dukungan sosial, terlepas dari status pernikahan. Bagi pengantin baru, ini adalah pengingat untuk tetap menghargai dan mengintegrasikan teman-teman lajang mereka dalam kehidupan sosial, tanpa membiarkan status pernikahan menjadi penghalang.
Pengalaman mereka yang pernah menikah, baik karena perceraian maupun kehilangan pasangan, menawarkan wawasan krusial bagi pengantin baru. Memahami fenomena "singlism" dan dampaknya terhadap individu lajang adalah langkah awal untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif. Pengantin baru dapat belajar untuk tidak mengesampingkan teman-teman lajang mereka, serta menghargai dan memelihara keragaman dalam jaringan sosial mereka, menciptakan lingkungan yang lebih empatik dan mendukung bagi semua.