Saat Healing Bertemu Sejarah, Stamp Hunting Jadi Tren Favorit Anak Muda

Nurri Indah KholillahDiterbitkan 26 Juli 2026, 08:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, healing kini tak selalu identik dengan liburan ke tempat jauh. Banyak anak muda mulai mencari aktivitas sederhana yang tetap memberikan pengalaman berkesan. Salah satu tren yang sedang menarik perhatian adalah stamp hunting, kegiatan berburu stempel unik yang memadukan keseruan dengan sentuhan sejarah.

Popularitas stamp hunting terus meningkat di kalangan Gen Z. Aktivitas ini bukan sekadar mengumpulkan cap sebagai koleksi, tetapi juga menjadi cara menyenangkan untuk mengenal kisah masa lalu tanpa terasa seperti sedang belajar. Setiap stempel memiliki cerita yang membuat pengalaman terasa lebih personal.

Salah satu destinasi yang menawarkan pengalaman tersebut adalah Post Kantoor di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Waiter Post Kantoor, Alfina Dinata Chandara, mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang untuk mengajak generasi muda lebih dekat dengan sejarah.

"Kami ingin generasi muda tidak melupakan edukasi sejarah seperti ini. Sejarah yang sudah ada perlu terus diwariskan dan dirawat," ujarnya kepada Lifestyle Liputan6.com di Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026.

Berlokasi di bangunan bersejarah yang kini bertransformasi menjadi kafe, Post Kantoor mempertahankan nuansa klasik melalui desain interior bergaya vintage. Pengunjung dapat mengikuti stamp hunting dengan membayar Rp30 ribu dan memperoleh empat desain stempel berbeda sebagai suvenir.

Pengalaman tersebut semakin lengkap berkat koleksi barang antik yang menghiasi setiap sudut ruangan. Lukisan klasik, kartu pos lawas, piano tua, kursi vintage, hingga cermin beragam bentuk menciptakan atmosfer yang membawa pengunjung seolah kembali ke masa lampau.

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, aktivitas sederhana ini menjadi cara menyenangkan untuk menikmati jeda, meresapi sejarah, sekaligus melepaskan penat dari rutinitas digital yang serba cepat.

2 dari 3 halaman

Ramainya Minat Pengunjung

Pos Kantoor memiliki mimpi besar mewujudkan dan merawat sejarah dan budaya yang suda ada di Indonesia, Rabu (15/7). (Liputan6.com Nurri Indah)

Antusiasme terhadap stamp hunting disambut positif oleh pihak Post Kantoor. Aktivitas ini dinilai menjadi cara yang menyenangkan untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda melalui pengalaman yang mudah dinikmati.

Alfina mengaku senang melihat semakin banyak anak muda tertarik mengunjungi bangunan bersejarah. "Senang, karena bisa membantu generasi muda memenuhi keinginannya dalam hal edukasi sejarah seperti stamp hunting yang digemari setiap kalangan," ujarnya.

Pengalaman itu juga dirasakan para pengunjung. Pemilik akun Instagram @amalianhs mengaku tertarik dengan suasana khas yang ditawarkan. "Jujur suka banget, vibes-nya vintage, jadi memang selera aku banget," katanya kepada Lifestyle Liputan6.com melalui DM.

Melalui aktivitas sederhana ini, pengunjung tidak hanya membawa pulang koleksi stempel, tetapi juga pengalaman yang membuat mereka lebih dekat dengan sejarah dan budaya lokal.

3 dari 3 halaman

Dekat dengan Gen Z dan Milenial Lewat Strategi Interaktif

Melalui Pos Kantoor pelanggan secara interaktif membawa pulang perspektif baru yang lebih dekat dengan nilai-nilai sejarah dan budaya lokal, Rabu (15/7). (Liputan6.com/Nurri Indah)

Di tengah dominasi media sosial, Post Kantoor menghadirkan stamp hunting sebagai cara baru mengenalkan sejarah kepada generasi muda. Aktivitas yang mudah dibagikan di dunia maya ini mendorong anak muda datang langsung dan berinteraksi dengan ruang bersejarah.

Alfina mengatakan, pendekatan tersebut bertujuan meningkatkan minat terhadap sejarah. "Generasi muda sangat butuh meningkatkan interaksi dan engagement terkait sejarah dan koleksi. Kami berharap mereka tertarik datang ke tempat bersejarah atau museum," ujarnya.

Melalui kegiatan ini, bangunan bersejarah terasa lebih hidup dan dekat dengan keseharian anak muda. Setiap stempel yang dikoleksi tidak hanya menjadi suvenir, tapi juga penanda perjalanan yang menyimpan cerita masa lalu.

Post Kantoor berharap pengalaman sederhana ini dapat menumbuhkan kepedulian terhadap warisan budaya sekaligus mendorong kebiasaan mengunjungi ruang-ruang bersejarah agar tetap relevan bagi generasi mendatang.