Sukses

Lifestyle

Cara 'Fake Commute' Jaga Batas Kerja–Hidup: Dukungan Pakar & Langkah Praktis

ringkasan

  • Kerja remote dapat mengaburkan batasan kerja-hidup dan memicu stres.
  • "Fake Commute" adalah ritual yang disengaja untuk mensimulasikan perjalanan pulang-pergi kantor.
  • Ini berfungsi sebagai "penyangga mental" yang memisahkan kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Fimela.com, Jakarta - Pandemi mengubah lanskap kerja dan mendorong jutaan orang beralih ke kerja jarak jauh. Fleksibilitasnya terasa, namun banyak pekerja justru menghadapi tantangan baru: batas antara urusan pribadi dan profesional yang kabur, rasa terisolasi, serta tekanan untuk selalu “tersedia” yang mudah berujung pada stres, kecemasan, hingga burnout. Di tengah situasi ini, Fake Commute atau “perjalanan palsu” muncul sebagai ritual sederhana yang membantu memulihkan keseimbangan kerja–hidup.

Fake Commute adalah rutinitas yang dengan sengaja meniru perjalanan berangkat–pulang kantor untuk memberi sinyal pada otak kapan saatnya masuk mode kerja dan kapan kembali ke mode rumah. James Preston dari Mutually Human menekankan bahwa kerja remote bukan sekadar soal berpindah lokasi kerja, melainkan membentuk ulang ritme hidup harian. Tanpa penyangga seperti perjalanan dan jam kantor yang tetap, banyak orang kesulitan menjaga batas-batasnya.

Dr. Srinivas Dannaram dari Banner Thunderbird Medical Center menjelaskan bahwa perjalanan ke kantor sebelum era kerja jarak jauh “memberi orang waktu berkualitas untuk persiapan mental menghadapi hari” dan “mengatur otak ke mode transisi default, baik dari rumah ke kantor atau sebaliknya.”

Mengapa Transisi Mental Masih Penting di Era Kerja Remote

Sebelum kerja remote menjadi kebiasaan, perjalanan harian ke kantor berfungsi sebagai penyangga mental yang memisahkan peran di rumah dan di pekerjaan. Meski kerap melelahkan, momen berangkat–pulang ini menyediakan struktur yang membantu otak bertransisi. Tak heran, banyak orang merindukannya karena peran psikologisnya dalam menjaga batas.

Asisten profesor administrasi bisnis di Harvard Business School, Jon Jachimowicz, menambahkan penjelasan tentang fungsi pemisahan ini dalam kehidupan sehari-hari. Ia menambahkan, “pemisahan temporal dan spasial antara semua peran berbeda yang kita mainkan.”

Waktu perjalanan sering dimanfaatkan untuk refleksi, dekompresi, membaca buku, atau mendengarkan musik. Rutinitas seperti ini menciptakan prediktabilitas yang disukai otak, sehingga membantu menjaga kesejahteraan mental dan memberi ruang jeda yang jelas antara berbagai peran yang dijalani.

Dampak Positif Fake Commute untuk Batas Kerja–Hidup dan Kesejahteraan

Fake Commute membantu menegakkan kembali batas sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi agar tugas kantor tidak merambah ke setiap jam dalam sehari. Dukungan pakar menyoroti bagaimana kebiasaan transisi ini menurunkan risiko burnout dengan mengembalikan dinding pemisah yang sempat hilang.

Psikolog klinis Dr. Jeannette Raymond menekankan pentingnya pengalaman transisi tersebut. Ia menjelaskan, “Perjalanan ke kantor adalah pengalaman sah yang hebat untuk membangun penghalang antara dunia luar pekerjaan, keluarga, [atau] kehidupan sosial dan tuntutan perhatian Anda.”

Profesor David Zweig dari University of Toronto menyoroti bahwa bagi banyak orang, dinding antara pekerjaan dan non-pekerjaan telah benar-benar hilang. Karena itu, perlu dicari cara—baik secara psikologis maupun praktis—untuk membangun ulang batas-batas tersebut agar hari kerja tidak “bocor” ke waktu pribadi.

Rutinitas juga menambah struktur pada hari kerja sambil mengurangi kelelahan pengambilan keputusan. Profesor Anna Cox dari University College London menyatakan, “Terlibat dalam ‘perjalanan pura-pura’ di awal dan akhir hari tidak hanya memberikan kesempatan untuk membangun aktivitas fisik ke dalam rutinitas harian Anda tetapi juga memberikan kesempatan untuk transisi antara bagian kerja dan non-kerja dalam hidup.”

Fake Commute sekaligus mendorong gerakan fisik ringan—mulai dari berjalan kaki, peregangan, hingga yoga. Aktivitas moderat harian berkontribusi pada suasana hati, kualitas tidur, dan fokus. Saat dilakukan dengan penuh kesadaran, transisi singkat ini bisa menjadi praktik grounding. Bahkan, paparan udara segar dan gerakan fisik selama 10 menit dapat secara signifikan menurunkan kadar kortisol (hormon stres) dan meningkatkan suasana hati.

Dari sisi kejernihan mental, Ed Wyder melalui tulisannya di Medium mencatat bahwa rutinitas transisi membuat kejernihan pikirannya meningkat, kreativitas mengalir, dan tingkat stres menurun. Pemisahan yang tegas antara waktu kerja dan pribadi menambahkan struktur pada harinya dan membantunya tertambat pada momen saat ini.

Sejalan dengan itu, penelitian juga menunjukkan bahwa refleksi aktif di akhir hari mampu meningkatkan kinerja kerja. Psikolog organisasi di Rice University, Scott Sonenshein, berpendapat bahwa momen-momen “autopilot” selama perjalanan dapat membebaskan kapasitas otak untuk gagasan serta wawasan baru.

Langkah Menerapkan Fake Commute: Konsisten, Sengaja, dan Realistis

Kunci keberhasilan Fake Commute adalah konsistensi dan niat yang jelas. Tidak ada durasi baku; Anda bisa memilih 10 hingga 30 menit, atau menyesuaikannya dengan lama perjalanan Anda dulu. Transisi fisik kecil—seperti keluar rumah sebentar—sudah cukup memberi sinyal kuat bahwa hari kerja dimulai atau diakhiri.

Pada pagi hari, Fake Commute bisa sesederhana berjalan kaki 10 menit di sekitar lingkungan atau berkendara singkat mengitari blok. Gerakan ringan ini membantu menyalakan “mode kerja” dan mengantar otak pada tugas-tugas yang menanti.

Menutup hari, Fake Commute versi sore berfungsi sebagai saklar untuk kembali ke mode rumah. Ashira Prossack dari Forbes menyarankan membuat ritual penutup yang jelas: menutup tab di komputer, mematikan perangkat kerja untuk hari itu, merapikan ruang kerja, lalu meniru kebiasaan perjalanan pulang seperti mendengarkan musik atau membaca selama 10 menit atau lebih.

Untuk manfaat maksimal, Debbie Plotnick, wakil presiden advokasi kesehatan mental di Mental Health America, menyarankan benar-benar meninggalkan rumah bila memungkinkan—bahkan hanya berjalan di halaman belakang atau mengitari blok.

Ide untuk Pagi Hari

Pilihan aktivitas berikut dapat membantu mengantar Anda memasuki ritme kerja dengan tenang dan terarah. Pilih yang paling cocok dengan preferensi dan waktu yang Anda miliki.

  • Berjalan kaki atau bersepeda

    Lakukan jalan kaki singkat di sekitar lingkungan atau bersepeda sebelum mulai bekerja untuk menyalakan energi dan fokus awal hari.

  • Meditasi atau jurnal

    Luangkan waktu untuk meditasi atau menulis jurnal agar pikiran lebih jernih dan tujuan hari menjadi lebih jelas.

  • Dengarkan podcast atau musik

    Nikmati podcast atau daftar putar favorit untuk mendorong suasana hati positif sebelum mengawali tugas.

  • Berpakaian kerja

    Kenenakan pakaian yang sesuai untuk bekerja, meski di rumah, sebagai sinyal mental bahwa Anda memasuki mode kerja.

  • Berkendara singkat

    Jika memungkinkan, lakukan perjalanan singkat dengan mobil mengitari lingkungan sebagai penanda dimulainya hari kerja.

Ide untuk Sore Hari

Setelah tugas selesai, gunakan ide berikut untuk meredakan ketegangan, menutup pekerjaan, dan benar-benar kembali ke peran rumah.

  • Aktivitas fisik

    Lakukan olahraga ringan, yoga, atau peregangan untuk melepaskan stres dan membantu tubuh bertransisi keluar dari kerja.

  • Bersihkan meja kerja

    Rapikan area kerja sebagai tanda fisik berakhirnya hari. Tindakan sederhana ini mempertegas batas antara kantor dan rumah.

  • Putuskan sambungan

    Matikan notifikasi telepon dan email kerja. Ikuti saran Ashira Prossack: tutup semua tab, matikan komputer untuk hari itu, rapikan ruang kerja, lalu tiru rutinitas perjalanan pulang seperti mendengarkan musik atau membaca selama 10 menit atau lebih.

Pada akhirnya, Fake Commute bukan sekadar tren. Dengan upaya yang disengaja, kebiasaan ini menjadi alat praktis untuk membangun batas yang jelas, menumbuhkan rutinitas sehat, dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan serta kehidupan pribadi—sehingga fleksibilitas kerja remote bisa dinikmati tanpa mengorbankan kewarasan dan kesejahteraan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading