Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, rasa FOMO (Fear of Missing Out) bisa muncul ketika media sosial dipenuhi unggahan teman yang sedang menikmati liburan ke luar negeri. Tanpa disadari, momen tersebut dapat memicu perasaan iri, membandingkan diri, hingga merasa tertinggal dari pencapaian orang lain. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan keseluruhan kenyataan karena setiap unggahan biasanya hanya menampilkan momen terbaik.
Dilansir American Psychological Association (APA), kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial dapat memengaruhi suasana hati dan kepuasan terhadap diri sendiri. Karena itu, penting untuk menyadari bahwa setiap orang memiliki kondisi finansial, prioritas, tanggung jawab, dan waktu yang berbeda. Ada yang telah lama menabung untuk berlibur, sementara ada pula yang memilih mengutamakan kebutuhan lain.
Alih-alih terus terpaku pada perjalanan orang lain, lebih baik mengingat kembali tujuan keuangan maupun impian pribadi. Liburan ke luar negeri bukanlah perlombaan, melainkan pengalaman yang dapat diwujudkan sesuai kemampuan masing-masing. Dengan cara pandang yang lebih sehat, proses mencapai target akan terasa lebih menyenangkan tanpa dibayangi perasaan tertinggal. Fokus pada perkembangan diri sendiri juga membantu menjaga kesehatan mental sekaligus membangun kebiasaan finansial yang lebih bijak.
Batasi Paparan Media Sosial agar FOMO Tidak Berlarut-larut
Sahabat Fimela, salah satu cara mengurangi FOMO adalah membatasi paparan media sosial, terutama ketika emosi mulai terpengaruh oleh unggahan orang lain. Tidak perlu berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya, tetapi durasi penggunaan dapat dikurangi atau memilih untuk tidak terlalu sering melihat akun yang memicu kebiasaan membandingkan diri. Memberi jeda dari media sosial sesekali juga dapat membantu menjaga suasana hati tetap lebih stabil.
Selain itu, fokus dapat dialihkan pada target keuangan yang sedang dibangun. Misalnya dengan membuat tabungan khusus liburan, menyusun anggaran bulanan, atau mencari promo perjalanan jauh-jauh hari. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan terasa lebih bermanfaat dibanding terus memikirkan pencapaian orang lain. Perencanaan yang matang juga membuat impian berlibur terasa lebih realistis dan terarah.
Dilansir Psychology Today, mengubah rasa iri menjadi motivasi dapat membantu seseorang lebih fokus pada tujuan pribadi dibanding terus membandingkan diri dengan orang lain. Dengan begitu, FOMO tidak lagi menjadi sumber stres, melainkan pengingat bahwa setiap impian membutuhkan proses, waktu, dan usaha yang berbeda. Menikmati perjalanan hidup sesuai kemampuan sendiri akan memberikan rasa puas yang lebih bertahan lama dibanding sekadar mengikuti pencapaian orang lain.
Hargai Prosesmu, Tidak Semua Orang Memiliki Garis Waktu yang Sama
Sahabat Fimela, salah satu cara mengurangi FOMO adalah membatasi paparan media sosial, terutama ketika emosi mulai terpengaruh oleh unggahan orang lain. Tidak perlu berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya, tetapi durasi penggunaan dapat dikurangi atau memilih untuk tidak terlalu sering melihat akun yang memicu kebiasaan membandingkan diri. Memberi jeda dari media sosial sesekali juga dapat membantu menjaga suasana hati tetap stabil.
Selain itu, fokus dapat dialihkan pada target keuangan yang sedang dibangun. Misalnya dengan membuat tabungan khusus liburan, menyusun anggaran bulanan, atau mencari promo perjalanan jauh-jauh hari. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan terasa lebih bermanfaat dibanding terus memikirkan pencapaian orang lain.
Dilansir Psychology Today, mengubah rasa iri menjadi motivasi dapat membantu seseorang lebih fokus pada tujuan pribadi dibanding terus membandingkan diri dengan orang lain. Penelitian juga menunjukkan bahwa rasa syukur terhadap hal-hal yang dimiliki dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan mengurangi kecenderungan membandingkan diri. Ketika mampu menghargai proses sendiri, keinginan untuk mengikuti pencapaian orang lain pun berkurang. Dengan begitu, FOMO tidak lagi menjadi sumber stres, melainkan pengingat bahwa setiap impian membutuhkan proses, kesabaran, dan waktu yang berbeda. Fokus pada langkah sendiri akan membantu menikmati perjalanan hidup dengan lebih tenang.