Hari Anak Nasional 2026, Ancaman Terbesar bagi Anak Perempuan Justru Datang dari Orang Terdekat

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 23 Juli 2026, 13:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Di balik semangat peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 yang mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", masih ada pekerjaan rumah besar yang perlu menjadi perhatian bersama. Bagi banyak anak perempuan di Indonesia, rumah, sekolah, hingga lingkungan sekitar belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman untuk tumbuh dan berkembang.

Berbagai kasus kekerasan seksual, perundungan, hingga kekerasan berbasis gender yang terus bermunculan menunjukkan bahwa ancaman terhadap anak perempuan kini semakin kompleks. Tak hanya terjadi di ruang publik, kekerasan juga banyak berlangsung di ruang privat, bahkan dilakukan oleh orang-orang yang selama ini dipercaya.

Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) sepanjang 2025 mencatat 21.352 kasus kekerasan terhadap anak, dengan 16.136 korbannya merupakan anak perempuan. Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 51,5 persen korban kekerasan adalah anak perempuan, dan yang memprihatinkan, 66,3 persen pelaku belum berhasil diidentifikasi. Angka tersebut menunjukkan bahwa masih banyak kasus yang sulit terungkap karena lemahnya sistem pelaporan maupun deteksi dini.

 

2 dari 4 halaman

Ancaman Tidak Selalu Datang dari Orang Asing

Ilustrasi seorang ibu yang memarahi anak perempuannya (Freepik).

Selama ini banyak orang tua mengajarkan anak untuk berhati-hati terhadap orang asing. Namun, temuan terbaru dari Plan Indonesia melalui studi mengenai profil dan pola pelaku kekerasan terhadap anak pada 2026 justru menunjukkan fakta yang berbeda.

Sebagian besar kasus kekerasan terjadi di ruang yang dianggap paling aman, yakni rumah dan lingkungan terdekat. Pelakunya pun bukan orang yang tidak dikenal, melainkan anggota keluarga, pengasuh, guru, tetangga, hingga pasangan.

Kedekatan hubungan ini membuat anak sering kali kesulitan mengenali bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan. Tidak sedikit anak yang memilih diam karena takut, merasa bergantung secara emosional maupun ekonomi kepada pelaku, atau khawatir dianggap mempermalukan keluarga jika berani berbicara.

Norma yang masih menganggap persoalan keluarga sebagai urusan privat juga membuat banyak kasus tersembunyi dalam waktu yang lama.

 

3 dari 4 halaman

Paparan Digital Turut Memengaruhi

ilustrasi anak bermain gadget/copyright freepik.com/rawpixel.com

Tantangan lain yang kini semakin nyata adalah pengaruh ruang digital. Studi Plan Indonesia juga menemukan bahwa sebagian pelaku kekerasan seksual justru berasal dari kelompok anak dan remaja.

Paparan konten pornografi sejak usia dini, minimnya pendidikan mengenai relasi yang sehat, pentingnya persetujuan (consent), hingga normalisasi kekerasan dalam lingkungan pergaulan maupun media digital dapat membentuk persepsi yang keliru terhadap hubungan antarsesama.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastusi, mengatakan bahwa setiap kasus yang muncul ke ruang publik seharusnya menjadi alarm bahwa masih banyak anak perempuan yang belum hidup dalam situasi aman.

"Setiap kasus yang muncul ke publik adalah alarm bahwa masih banyak anak, terutama anak perempuan, yang hidup dalam situasi tidak aman. Kekerasan terhadap anak menjadi cerminan bagaimana norma sosial, ketimpangan gender, pola pengasuhan, dan lemahnya sistem perlindungan saling berkaitan. Karena itu, penyelesaiannya juga harus dimulai dari pencegahan sejak dini," ujarnya.Ia juga menyoroti hasil studi Girls in Crisis (2026) yang dilakukan Plan Indonesia terhadap anak perempuan dalam situasi bencana di Sumatra. Studi tersebut menunjukkan bahwa 60 persen anak perempuan mengaku merasa tidak aman, memperlihatkan bahwa kerentanan anak perempuan dapat meningkat dalam berbagai situasi.

 

4 dari 4 halaman

Perlindungan Anak Dimulai dari Rumah

Membangun lingkungan yang aman bagi anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau sekolah. Peran keluarga justru menjadi fondasi utama dalam mencegah kekerasan.

Plan Indonesia menilai orang tua dan pengasuh perlu menerapkan pola pengasuhan yang bebas kekerasan sekaligus menciptakan ruang komunikasi yang terbuka agar anak merasa aman untuk bercerita ketika mengalami situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Di sisi lain, sekolah juga memiliki peran penting melalui pendidikan mengenai relasi yang sehat, kesetaraan gender, kesehatan reproduksi, keamanan digital, hingga pencegahan perundungan sejak usia dini.

Sebagai bagian dari upaya pencegahan, Plan Indonesia telah menjalankan berbagai program, seperti Teenage Digital Wellbeing untuk meningkatkan literasi digital dan mencegah kekerasan berbasis gender di ruang digital, Posyandu Remaja yang mendukung kesehatan reproduksi dan kesehatan mental remaja, serta berbagai program kepemimpinan anak muda dan pendidikan kesetaraan gender.

Dalam situasi bencana, organisasi ini juga menghadirkan layanan dukungan psikososial serta pendidikan darurat agar anak-anak tetap memiliki ruang yang aman untuk belajar, bermain, dan memulihkan diri dari pengalaman traumatis.

Momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa menciptakan masa depan yang lebih baik bagi anak tidak cukup hanya dengan merayakannya setiap tahun. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap anak perempuan dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, didengar suaranya, dan terlindungi dari segala bentuk kekerasan—di mana pun mereka berada.