Si Kecil Sulit Makan Sayur? Berikut 6 Tips Menghadapi Anak yang Picky Eater

hilya KamilaDiterbitkan 30 Oktober 2026, 11:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernah merasa kesal ketika anak tidak ingin makan sayur? Sebenarnya, fenomena anak yang picky eater atau tidak suka makan sayur sangat sering terjadi. Apalagi, di era modern seperti saat ini, semakin banyak makanan jajanan yang bermacam-macam, tetapi kualitas kesehatannya masih dipertanyakan. Oleh sebab itu, orangtua perlu memberikan asupan makanan yang bernutirisi seperti sayur agar kesehatan si kecil tetap terjaga. 

Tentunya, orangtua bisa melakukan beberapa cara untuk memperkenalkan kepada anak agar tidak picky eater sehingga tertarik mengonsumsi sayur-sayuran. Namun, cara memperkenalkan pada anak agar mau makan sayuran tidaklah semudah yang dibayangkan. Bahkan, dilansir dari health.clevelandclinic.org, sangat wajar apabila si kecil tidak merasa antusias untuk mencoba makanan baru seperti sayuran. Terkadang, anak-anak menganggap bahwa mengonsumsi sayuran dapat menjadi hal yang berat bagi mereka. 

Walaupun begitu, Sahabat Fimela perlu untuk memberikan asupan vitamin dan mineral yang berasal dari sayuran. Mau bagaimanapun, sayuran penting untuk tumbuh kembang si kecil sehingga menjadi bagian dari upaya menerapkan gaya hidup sehat. Lalu, bagaimana tips agar si kecil mau makan sayuran dengan sendirinya? Yuk simak pembahasan  berikut agar anak-anak bisa lebih terbiasa dengan mengonsumsi sayuran sehari-hari. 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Tips Menghadapi Anak yang Sulit Makan Sayur

Sebaiknya orangtua tetap menawarkan sayur secara rutin tanpa memberikan tekanan dan ancaman kepada si kecil. (Foto/dok: pexels/Cottonbro studio)

1. Hindari memaksa anak untuk makan sayur

Sahabat Fimela, ketika anak menolak sayur, reaksi pertama yang sering muncul adalah membujuk, memaksa, bahkan memarahi mereka. Padahal, cara ini justru dapat membuat anak menganggap sayur sebagai sesuatu yang menakutkan atau wajib dihindari. Sebaiknya, orangtua tetap menawarkan sayur secara rutin tanpa memberikan tekanan dan ancaman kepada si kecil. Dengan begitu, anak memiliki kesempatan membangun hubungan yang lebih positif dengan makanan, khususnya sayur-sayuran. 

2. Kenalkan sayur kepada anak dengan cara yang menyenangkan

Tidak semua anak langsung menyukai rasa atau tekstur sayuran. Oleh karena itu, jangan menyerah jika si kecil menolak pada percobaan pertama. Biarkan ia menyentuh, mencium aroma, mengamati warna, atau merasakan teksturnya terlebih dahulu. Pengalaman sederhana seperti ini membantu anak menjadi lebih akrab dengan makanan baru sehingga perlahan rasa penolakannya dapat berkurang. Mengenalkan anak secara perlahan dan konsisten jauh lebih efektif daripada memaksa anak untuk langsung menghabiskan sayur di piringnya.

3. Libatkan anak saat berbelanja dan menyiapkan makanan

Mengajak anak memilih sayuran di pasar atau supermarket bisa menjadi langkah kecil yang berdampak besar. Setelah itu, Sahabat Fimela bisa melibatkan mereka saat mencuci, mengupas atau menyusun sayuran di piring sesuai usia dan kemampuan. Ketika anak merasa ikut berperan dalam proses memasak, rasa penasaran untuk mencicipi hasil masakannya pun biasanya meningkat. Aktivitas ini juga membuat waktu makan terasa lebih menyenangkan dan bukan sekadar kewajiban.

3 dari 3 halaman

4. Jelaskan manfaat sayur dengan bahasa yang mudah dipahami

Coba untuk menjelaskan manfaat berbagai sayuran dengan kalimat yang dekat dengan dunia anak. (Foto/dok: Pexels/Alex Green)

Sahabat Fimela, daripada hanya mengatakan “sayur itu sehat,” cobalah menjelaskan manfaatnya dengan kalimat yang dekat dengan dunia anak. Misalnya, wortel membantu menjaga mata tetap sehat agar bisa melihat dengan jelas atau brokoli membantu tubuh menjadi lebih kuat saat bermain. Penjelasan yang sederhana ini membuat anak lebih mudah memahami alasan mengapa mereka dianjurkan mengonsumsi sayuran sebagai bagian dari pola makan yang sehat.

5. Jangan terburu-buru memberi label bahwa anak tidak suka sayur

Kalimat seperti, "Anakku memang tidak suka brokoli," bisa tanpa sadar memperkuat anggapan tersebut. Akibatnya, orangtua berhenti menyajikan brokoli dan anak kehilangan kesempatan untuk mengenalnya kembali. Padahal, selera makan anak dapat berubah seiring bertambahnya usia dan bertambahnya pengalaman mencoba berbagai makanan. Itulah sebabnya, tetap sajikan sayur dalam berbagai variasi tanpa memberi label negatif pada kebiasaan makan anak.

6. Sesuaikan jenis dan tekstur sayur dengan usia anak

Untuk mengenalkan sayuran pada anak, Sahabat Fimela perlu menentukan sesuai dengan usia merekaa. agi anak yang masih kecil, sayuran bertekstur lembut seperti wortel kukus, ubi, labu, brokoli, atau buncis yang dimasak hingga empuk umumnya lebih mudah diterima. Selain lebih nyaman dikunyah, tekstur yang sesuai juga membantu mengurangi risiko tersedak. Selain itu, orangtua dapat mencoba berbagai cara memasak, seperti dikukus, dipanggang atau digabungkan ke dalam menu favorit anak.