Fimela.com, Jakarta - Dunia mode selalu berputar, membawa kembali tren lama dengan interpretasi yang segar dan relevan. Salah satu yang kini mencuri perhatian adalah corset top, atasan berstruktur yang memadukan sejarah dengan gaya kontemporer. Pakaian ini menawarkan kombinasi unik antara ketegasan siluet dan sentuhan feminin, menjadikannya pilihan populer di berbagai kesempatan.
Dari panggung couture hingga jalanan kota, corset top telah bertransformasi dari simbol pengekangan menjadi ekspresi gaya yang berani dan serbaguna. Kehadirannya kembali menandai pergeseran menarik dalam cara perempuan mengekspresikan diri melalui busana, di mana kekuatan dan kelembutan dapat berjalan beriringan.
Secara historis, korset dikenal luas di Eropa, terutama selama era Victoria, sebagai pakaian dalam yang berfungsi untuk membentuk tubuh wanita. Tujuannya adalah menciptakan siluet pinggang yang lebih ramping dan memberikan penopang pada area dada. Namun, di era modern, corset top telah melepaskan diri dari fungsi tradisionalnya dan kini muncul sebagai sebuah fashion statement yang serbaguna.
Fleksibilitas Gaya dan Adaptasi Desainer Dunia
Daya tarik utama corset top terletak pada kemampuannya untuk menciptakan siluet yang terdefinisi tanpa mengorbankan kenyamanan atau fleksibilitas gaya. Atasan ini dapat dipadukan dengan berbagai busana, menjadikannya investasi mode yang cerdas. Untuk tampilan kasual, corset top bisa dipadukan dengan celana baggy dan sneakers, sementara untuk acara malam, ia akan tampak elegan dengan rok satin atau celana kulit.
Tidak hanya itu, corset top juga sangat adaptif untuk gaya berlapis. Ia dapat dikenakan di atas kemeja putih bersih atau di bawah blazer untuk menciptakan tampilan yang lebih sopan namun tetap stylish. Popularitas corset top juga merambah ke ranah streetwear dan media sosial. Harper's Bazaar Arabia pun memprediksi bahwa pada tahun 2025, “korset bukan lagi sekadar pakaian dalam, melainkan sepotong sejarah yang dapat dikenakan dan dimodernisasi.”
Di Indonesia, para desainer kini menggunakan korsetri untuk membentuk siluet, sambil tetap memberikan ruang bagi kelembutan, romansa, dan individualitas. Menginterpretasikannya dengan sentuhan khas lokal dan estetika unik mereka. Berikut adalah beberapa desainer terkemuka Indonesia yang menawarkan corset top dengan ciri khas masing-masing, memadukan kekayaan budaya dengan gaya modern.
Berikut beberapa desainer Indonesia yang melirik corset top sebagai bagian dari koleksi busana modern.
Wilsen Willim
Wilsen Willim dikenal dengan desainnya yang minimalis, clean-cut, dan penggunaan teknik origami pinwheel yang khas. Ia sering memadukan kenyamanan dengan formalitas yang terstruktur, serta memiliki ketertarikan pada kain tradisional Indonesia seperti batik dan tenun.
Terkenal dengan koleksi beskap dan kebaya jangga, Wilsen juga banyak menghadirkan koleksi corset top yang menampilkan potongan bustier dengan material katun, linen, jacquard, dan renda, memadukan garis klasik Tiongkok dengan sentuhan kontemporer Indonesia.
Bija
Merek Bija (Project Bija) berakar kuat pada warisan Indonesia, dengan produk corsetry yang terinspirasi dari budaya lokal. Mereka menggunakan tekstil tradisional Indonesia dan dibuat secara handcrafted di Bali oleh para pengrajin lokal. Tujuannya adalah untuk melestarikan keahlian turun-temurun sambil menata ulang warisan untuk wanita modern, seringkali menghasilkan modern heirlooms yang diproduksi dalam jumlah kecil.
Hian Tjen
Hian Tjen dikenal dengan desain couture yang mewah, detail rumit, dan teknik hand-draping. Ia menciptakan siluet elegan yang memancarkan feminitas dan kecanggihan. Estetikanya digambarkan sebagai “garis sederhana yang elegan, arsitektural modern, dan feminitas yang sangat bersih dengan sentuhan drama.”
Hian Tjen sering menggunakan korsetri dalam koleksinya, seperti yang terlihat pada koleksi “Lithe” yang berfokus pada drapery, corsetry, dan hiasan inovatif untuk menangkap siluet indah wanita.
Diana M Putri
Diana M Putri, melalui label Diana Couture, terkenal dengan desainnya yang berani namun canggih. Ia sering menggunakan material kulit dan menciptakan bustier yang dibuat dengan rumit. Desainnya menampilkan siluet sederhana namun pas badan dengan teknik rumit yang menghasilkan keanggunan feminin dan sentuhan edgy.
Diana M Putri juga dikenal karena inspirasinya dari budaya Indonesia dan pemberdayaan wanita, serta kemampuannya untuk menciptakan karya yang flamboyant namun berkelas. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Pearl Chandelier Corset yang dikenakan oleh Jennie BLACKPINK.
Billy Tjong
Billy Tjong memiliki pendekatan khas terhadap korsetri dan feminitas modern. Koleksi terbarunya, “Fuchsia – A Journey of Growth,” menampilkan eksplorasi warna fuchsia dengan siluet fit and flare khasnya, dipadukan dengan rancangan berbasis korset yang elegan.
Ia menggabungkan kain jacquard, organza, tulle organza, dan lace, serta menggunakan teknik beading embroidery dan draping pada konstruksi dartless bustier. Ini semua bertujuan untuk menciptakan dimensi visual yang menonjol. Billy Tjong juga dikenal karena kemampuannya memadukan ide-ide kontras dan mengimplementasikan cetakan digital ke dalam desain yang wearable.