Sukses

FimelaMom

Anak Lebih Sering Memendam Perasaan? Coba Terapkan 8 Cara Ini

Fimela.com, Jakarta - Setiap orangtua tentu ingin menjadi tempat pertama yang dituju anak saat mereka sedang menghadapi masalah. Baik itu persoalan di sekolah, konflik dengan teman, kesulitan belajar, maupun perasaan yang sulit mereka pahami, anak membutuhkan sosok yang dapat mendengarkan dan memberikan rasa aman. Namun pada kenyataannya, tidak semua anak merasa nyaman untuk bercerita. Ada yang memilih menyimpan masalah sendiri karena takut dimarahi, dihakimi, atau dianggap berlebihan.

Sahabat Fimela, kemampuan anak untuk terbuka tidak muncul begitu saja. Hubungan yang penuh kepercayaan dibangun melalui interaksi sehari-hari yang konsisten. Cara orangtua merespons cerita anak, menghargai perasaannya, serta menunjukkan empati akan memengaruhi apakah anak merasa aman untuk berbagi pengalaman dan kesulitannya. Ketika anak merasa didengar dan diterima, mereka akan lebih mudah membuka diri tanpa rasa takut.

Dilansir dari Child Mind Institute, anak-anak berkembang tidak hanya melalui keterampilan yang mereka miliki, tetapi juga melalui rasa percaya diri dan keyakinan bahwa mereka mampu menghadapi berbagai tantangan. Dukungan, penerimaan, dan kasih sayang dari orangtua menjadi fondasi penting yang membantu anak merasa aman untuk mengungkapkan pikiran maupun masalah yang sedang mereka hadapi.

1. Jadilah Pendengar yang Benar-Benar Hadir

Saat anak mulai bercerita, berikan perhatian penuh tanpa terdistraksi oleh ponsel, televisi, atau pekerjaan lain. Kontak mata, bahasa tubuh yang hangat, dan respons sederhana seperti mengangguk dapat membuat anak merasa bahwa ceritanya penting.

Sering kali anak tidak langsung menceritakan inti masalahnya. Karena itu, hindari terburu-buru menyela atau langsung memberikan nasihat. Biarkan mereka menyampaikan isi hati hingga selesai agar merasa dihargai dan dipahami.

2. Hindari Reaksi yang Terlalu Keras

Sahabat Fimela, salah satu alasan terbesar anak enggan bercerita adalah karena takut dimarahi. Ketika anak mengungkapkan kesalahan atau masalah yang sedang dihadapi, usahakan tetap tenang meskipun situasinya membuat Anda khawatir atau kecewa.

Respons yang terlalu emosional dapat membuat anak berpikir bahwa bercerita hanya akan memperburuk keadaan. Sebaliknya, sikap yang tenang membantu anak merasa aman dan lebih percaya untuk terbuka di lain waktu.

3. Jangan Langsung Menghakimi atau Menyalahkan

Ketika anak menghadapi masalah, mereka membutuhkan seseorang yang mendengarkan lebih dulu, bukan seseorang yang langsung mencari siapa yang salah. Kalimat seperti "Makanya jangan begitu" atau "Sudah Mama bilang dari awal" dapat membuat anak merasa tidak didukung.

Cobalah memahami situasi dari sudut pandang anak sebelum memberikan penilaian. Dengan begitu, anak akan merasa bahwa orangtuanya berada di pihak mereka, bukan menjadi lawan yang harus dihindari.

4. Biasakan Mengobrol Tentang Hal-Hal Kecil

Keterbukaan biasanya tidak dimulai dari pembicaraan yang serius. Anak lebih mudah bercerita tentang masalah besar jika sebelumnya terbiasa berbagi cerita sederhana setiap hari.

Luangkan waktu untuk bertanya tentang aktivitas di sekolah, teman-teman mereka, atau hal menarik yang terjadi sepanjang hari. Kebiasaan mengobrol ringan ini dapat memperkuat ikatan emosional sekaligus membuka jalan bagi percakapan yang lebih mendalam saat anak menghadapi masalah.

5. Beri Anak Kesempatan untuk Menyampaikan Pendapat

Anak yang merasa pendapatnya dihargai cenderung lebih percaya diri untuk mengungkapkan apa yang dirasakan. Libatkan mereka dalam diskusi sederhana di rumah dan dengarkan pandangan mereka dengan sungguh-sungguh.

Ketika anak melihat bahwa orangtua menghargai pikirannya, mereka akan lebih nyaman berbagi perasaan, kekhawatiran, maupun masalah yang sedang dialami, Sahabat Fimela. 

6. Tunjukkan Kasih Sayang Tanpa Syarat

Anak perlu mengetahui bahwa mereka dicintai bukan karena prestasi, nilai bagus, atau perilaku sempurna, tetapi karena mereka adalah bagian dari keluarga.

Saat anak merasa dicintai apa adanya, mereka tidak akan takut kehilangan penerimaan orangtua ketika melakukan kesalahan atau menghadapi kegagalan. Rasa aman inilah yang membuat mereka lebih berani membuka diri.

7. Bantu Anak Membangun Kepercayaan Diri

Sahabat Fimela, anak yang percaya pada dirinya sendiri biasanya lebih mudah mengungkapkan apa yang dirasakan. Orangtua dapat membantu membangun kepercayaan diri dengan menghargai usaha anak, mendukung minatnya, serta memberikan kesempatan untuk mencoba hal-hal baru.

Ketika anak merasa mampu menghadapi tantangan, mereka juga akan lebih berani mencari bantuan dan berbicara tentang masalah yang sedang dihadapi.

8. Jadilah Tempat yang Aman untuk Pulang dan Bercerita

Hal terpenting yang dibutuhkan anak adalah keyakinan bahwa rumah merupakan tempat yang aman bagi mereka. Anak perlu tahu bahwa apa pun yang terjadi, orangtua akan tetap mendengarkan, mendukung, dan membantu mencari solusi.

Bukan berarti orangtua harus selalu menyetujui semua tindakan anak. Namun, menunjukkan empati dan penerimaan akan membuat anak merasa tidak sendirian saat menghadapi kesulitan.

Penulis: Siti Nur Arisha

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading