Probiotik Tak Hanya Baik untuk Usus, Studi Ungkap Potensinya sebagai Terapi Pendamping Jerawat

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 13 Agustus 2026, 14:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Selama ini, probiotik lebih dikenal sebagai “bakteri baik” yang membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan. Namun, perkembangan riset mengenai mikrobioma menunjukkan bahwa manfaatnya mungkin tidak berhenti di saluran cerna. Salah satu area yang kini semakin banyak dieksplorasi adalah hubungan antara mikrobioma usus dan kesehatan kulit melalui gut–skin axis.

Konsep tersebut membuka peluang baru dalam perawatan kulit, termasuk untuk membantu menangani jerawat. Terbaru, penelitian yang dipaparkan dalam Pekan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia (PIT IAI) 2026 di Medan mengeksplorasi potensi probiotik sebagai terapi pendamping atau adjuvant therapy bagi pasien dengan acne vulgaris ringan hingga sedang.

Penelitian bertajuk “Terapi Adjuvan Berbasis Mikrobioma menggunakan Probiotik dan Secretome pada Pasien Acne Vulgaris” dilakukan melalui uji klinis acak tersamar ganda (double-blind randomized controlled trial). Studi ini melibatkan 64 pasien berusia 13–45 tahun dengan jerawat ringan hingga sedang selama delapan minggu.

 

2 dari 4 halaman

Melihat Jerawat dari Perspektif Mikrobioma

Ilustrasi Masalah Jerawat Credit: pexels.com/Molly

Penelitian tersebut berangkat dari pemahaman bahwa kondisi kulit tidak berdiri sendiri. Kesehatan usus dan kulit memiliki hubungan yang dikenal sebagai gut–skin axis, sehingga perubahan pada mikrobiota usus berpotensi berhubungan dengan kondisi kulit.

“Penelitian ini berangkat dari perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin menunjukkan adanya hubungan antara kesehatan usus dan kesehatan kulit melalui gut–skin axis,” ujar Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si., Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinis Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran sekaligus Supervisor Research.

Dalam penelitian ini, seluruh peserta tetap mendapatkan terapi standar untuk jerawat. Mereka kemudian dibagi secara acak menjadi empat kelompok dengan tambahan terapi yang berbeda, yakni plasebo, probiotik oral, secretome topikal, serta kombinasi probiotik oral dan secretome topikal.

Kondisi jerawat kemudian dievaluasi menggunakan Michaelsson Acne Score, yang menilai tingkat keparahan berdasarkan jumlah dan jenis lesi jerawat.

 

3 dari 4 halaman

Probiotik Menunjukkan Penurunan Lesi Inflamasi

Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor lesi inflamasi yang signifikan pada kelompok yang mendapatkan probiotik, secretome, maupun kombinasi keduanya dibandingkan kelompok yang hanya mendapatkan terapi standar dan plasebo.

Penurunan skor inflamasi terbesar ditemukan pada kelompok kombinasi, yaitu −7,38, diikuti kelompok probiotik −7,06 dan secretome −4,13.

Sementara itu, ketika melihat skor total jerawat yang mencakup lesi inflamasi dan non-inflamasi, kelompok probiotik menunjukkan penurunan terbesar sebesar −9,25, diikuti kombinasi sebesar −8,56 dan secretome sebesar −5,72.

Temuan ini memberikan gambaran awal bahwa pendekatan berbasis mikrobioma berpotensi menjadi pelengkap dalam penanganan jerawat. Namun, hasil tersebut belum berarti probiotik dapat menggantikan terapi jerawat yang sudah direkomendasikan.

Prof. Keri menegaskan bahwa hasil penelitian ini perlu dipandang sebagai bagian dari perkembangan bukti ilmiah yang masih membutuhkan penelitian lanjutan untuk memahami mekanisme dan manfaat klinisnya secara lebih mendalam.

 

4 dari 4 halaman

Jadi, Apakah Probiotik Bisa Menjadi Perawatan Kulit?

Tak hanya baik bagi kesehatan usus, probiotik juga punya potensi untuk perawatan kulit (Bcrobes)

Jawabannya masih perlu dikaji lebih jauh. Studi ini memang memberikan sinyal positif mengenai potensi probiotik sebagai terapi pendamping, tetapi belum cukup untuk menjadikannya sebagai terapi tunggal jerawat.

Justru, temuan tersebut memperlihatkan arah baru dalam dunia kecantikan dan kesehatan kulit: perawatan kulit tidak selalu harus berfokus pada apa yang diaplikasikan dari luar. Kondisi mikrobioma tubuh juga mulai mendapat perhatian sebagai bagian dari pendekatan kesehatan kulit yang lebih menyeluruh.

Selain penelitian, Bcrobes juga meluncurkan buku Transformasi Paradigma Probiotik: Generasi Baru Kesehatan Berbasis Mikrobioma untuk memperluas literasi mengenai mikrobioma, kesehatan usus, dan pemanfaatan probiotik berdasarkan literatur ilmiah serta bukti klinis.

Dengan semakin berkembangnya penelitian mengenai gut–skin axis, probiotik pun berpotensi memiliki peran yang lebih luas dari sekadar membantu menjaga kesehatan pencernaan. Namun, untuk urusan jerawat, penggunaannya tetap sebaiknya ditempatkan sebagai pendamping, bukan pengganti terapi medis, dan dibicarakan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan.