Deodoran Tak Lagi Sekadar Pengharum, Bahan Alami Indonesia Mulai Dilirik untuk Atasi Bau Ketiak

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 14 Agustus 2026, 10:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Bau ketiak menjadi salah satu persoalan personal care yang cukup dekat dengan keseharian. Terlebih bagi masyarakat yang tinggal di negara tropis seperti Indonesia, aktivitas padat, cuaca panas, dan produksi keringat dapat membuat area ketiak lebih mudah lembap dan memunculkan aroma yang kurang sedap.

Kondisi ini membuat deodoran terus mengalami perkembangan. Dari produk yang awalnya hanya mengandalkan wewangian untuk menyamarkan aroma tubuh, kini deodoran hadir dengan berbagai pendekatan untuk membantu mengontrol sumber bau, mulai dari mengurangi produksi keringat hingga menghambat aktivitas mikroorganisme di kulit.

Penelitian mengenai bau badan sendiri menunjukkan bahwa aroma khas ketiak tidak semata-mata berasal dari keringat. Bau muncul melalui interaksi antara sekresi kelenjar tubuh dengan mikroorganisme yang hidup di permukaan kulit, yang kemudian mengubah senyawa tertentu menjadi molekul beraroma.

Karena itu, inovasi deodoran pun semakin berkembang untuk mencari cara yang lebih efektif dalam mengendalikan proses tersebut.

 

2 dari 3 halaman

Dari Sage hingga Tea Tree, Bahan Alami Mulai Dieksplorasi

Ilustrasi tea tree | unsplash.com/@nordwood

Seiring meningkatnya ketertarikan terhadap natural personal care, berbagai bahan dari tumbuhan juga mulai diteliti potensinya sebagai komponen dalam produk pengontrol bau badan.

Salah satunya adalah sage atau daun sage. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Research in Medical Sciences menguji deodoran yang mengandung ekstrak sage pada relawan. Hasilnya menunjukkan bahwa formulasi dengan ekstrak sage dapat menurunkan tingkat bau ketiak secara signifikan dibandingkan plasebo selama periode pengamatan hingga delapan jam.

Selain sage, tea tree oil juga kerap menjadi salah satu bahan yang ditemukan dalam produk natural personal care karena memiliki aktivitas antimikroba. Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada 2026 mengevaluasi aktivitas antibakteri minyak esensial peppermint, tea tree, dan eucalyptus secara in vitro. Hasilnya menunjukkan aktivitas terhadap beberapa bakteri yang diuji, meski temuan laboratorium tersebut tentu tidak secara otomatis berarti efektivitas yang sama pada produk deodoran jadi.

Ada pula tanaman Terminalia ferdinandiana, tanaman asli Australia yang dalam penelitian ditemukan memiliki ekstrak daun dengan kemampuan menghambat pertumbuhan sejumlah bakteri yang berkontribusi terhadap bau badan. Peneliti menyebut potensinya untuk dikembangkan sebagai komponen deodoran, meski penelitian lebih lanjut tetap dibutuhkan.

Sementara itu, bahan sederhana seperti baking soda juga populer dalam produk deodoran alami dan perawatan area ketiak. Namun, penggunaan bahan alami tetap perlu mempertimbangkan formulasi dan kondisi kulit masing-masing. Bahkan bahan yang dianggap natural pun dapat menimbulkan iritasi pada sebagian orang.

Hal ini memperlihatkan satu hal penting: label “alami” saja tidak cukup untuk menentukan apakah sebuah bahan efektif dan aman digunakan. Dibutuhkan penelitian untuk memahami bagaimana bahan tersebut bekerja, pada konsentrasi berapa dapat digunakan, serta bagaimana interaksinya dengan kulit.

 

3 dari 3 halaman

Kekayaan Alam Indonesia Punya Potensi untuk Dikembangkan

Untuk atasi bau ketiak, deodoran dengan bahan alami makin dilirik (Deorex)

Di titik inilah pembicaraan mengenai deodoran berbahan alami menjadi semakin menarik bagi industri kecantikan Indonesia.

Sebagai negara dengan kekayaan hayati yang besar, Indonesia memiliki berbagai tanaman dan sumber daya alam yang secara turun-temurun telah digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan aktif yang memiliki efektivitas, keamanan, dan konsistensi sesuai standar produk modern.

Upaya untuk mengeksplorasi potensi tersebut kini dilakukan oleh PT Modiva International, perusahaan kosmetik dan personal care di balik Deorex, melalui kerja sama penelitian dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kolaborasi tersebut secara khusus berfokus pada penelitian dan pengembangan bahan alami Indonesia untuk produk perawatan tubuh, termasuk deodoran dan antiperspiran.

Melalui kerja sama ini, kemampuan riset BRIN, khususnya Pusat Riset Kimia Molekuler, akan dipadukan dengan pengalaman Modiva dalam pengembangan, produksi, serta pemasaran produk personal care. Riset tersebut akan menggali potensi kekayaan hayati Indonesia sebagai bahan aktif alami yang aman, efektif, dan memiliki daya saing global.

Bagi Wilson Wunandar, CEO PT Modiva International, kerja sama dengan BRIN merupakan bagian dari upaya memastikan inovasi produk memiliki fondasi penelitian yang kuat.

“Kami percaya produk yang baik harus terus disempurnakan melalui riset dan ilmu pengetahuan.”Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Brand andalan Modiva, Deorex, disebut telah meraih predikat Top Brand peringkat pertama kategori deodoran selama lima tahun berturut-turut.

Namun, perkembangan kategori deodoran menunjukkan bahwa kebutuhan konsumen tidak berhenti pada kemampuan produk mengatasi bau badan. Konsumen kini semakin memperhatikan kandungan, asal bahan, kenyamanan penggunaan, serta bagaimana sebuah produk dikembangkan.

Karena itu, eksplorasi bahan alami melalui penelitian dapat membuka kemungkinan baru bagi industri personal care Indonesia. Kekayaan alam tidak hanya menjadi sumber inspirasi, tetapi juga dapat diteliti untuk menemukan bahan aktif yang memiliki manfaat nyata.