Fimela.com, Jakarta - Fashion biasanya identik dengan tren, gaya personal, dan karya kreatif. Namun, kali ini dunia mode Indonesia menghadirkan sisi lain yang nggak kalah menarik. Lewat DRAFT IFDC Pop-Up Store Installation, fashion digunakan sebagai medium untuk berbagi dan memberikan dampak sosial.
Digelar oleh Indonesian Fashion Designer Council (IFDC) bersama Senayan City dan Cotton USA, DRAFT menghadirkan koleksi terbatas berupa kemeja dan atasan putih dari 22 perancang anggota IFDC. Menariknya, setiap karya memiliki karakter yang berbeda karena dibuat dengan garis rancang, siluet, serta teknik khas masing-masing desainer.
Koleksi atasan putih tersebut dijual dengan harga mulai dari Rp1.200.000 hingga Rp1.999.000. Namun, yang membuatnya berbeda dari pop-up store pada umumnya adalah tujuan di balik setiap pembelian. Seluruh hasil penjualan nantinya akan disalurkan kepada korban gempa NTT melalui Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB).
Konsep ini membuat sebuah kemeja putih terasa punya cerita yang lebih panjang. Bukan hanya menjadi bagian dari outfit, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi bagi sesama.
Berlokasi di Lower Ground, Senayan City, DRAFT IFDC resmi dibuka mulai 2 September hingga 30 September 2026. Jadi, buat Sahabat Fimela yang sedang mencari fashion item dengan cerita di baliknya, pop-up store ini bisa menjadi salah satu destinasi yang menarik untuk dikunjungi.
22 Desainer, 22 Cara Memaknai Atasan Putih
Kalau biasanya atasan putih dianggap sebagai fashion item yang basic dan mudah dipadukan, DRAFT IFDC justru menunjukkan bahwa satu warna sederhana bisa diterjemahkan menjadi begitu banyak karakter.
Konsep DRAFT terinspirasi dari salah satu esensi awal seorang desainer dalam berkarya, yaitu kemeja putih. Dari titik awal yang terlihat sederhana tersebut, para desainer kemudian bebas mengeksplorasi siluet, detail, hingga teknik yang menjadi ciri khas masing-masing.
Hasilnya, 22 desainer membawa interpretasi mereka sendiri terhadap sebuah kemeja atau atasan putih. Nama-nama seperti Eddy Betty, Didi Budiardjo, Hian Tjen, Ivan Gunawan, Mel Ahyar, Sebastian Gunawan, Wilsen Willim, hingga Yosafat Dwi Kurniawan turut ambil bagian dalam proyek ini.
Material yang digunakan juga menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Dengan menggunakan bahan katun dari Cotton USA, koleksi DRAFT dirancang untuk memberikan rasa nyaman sekaligus tetap mempertahankan struktur dan tampilan yang rapi saat dikenakan.
Menariknya, perbedaan karakter antar-desainer justru membuat koleksi ini terasa seperti melihat 22 cerita dalam satu kanvas yang sama. Warnanya memang seragam, tetapi pendekatan desainnya tidak.
Hal tersebut juga memperlihatkan bagaimana sebuah fashion item yang sederhana bisa menjadi ruang eksplorasi kreatif. Kemeja putih yang selama ini dianggap sebagai wardrobe essential pun mendapatkan interpretasi baru melalui tangan para desainer Indonesia.
Lebih dari Belanja, DRAFT IFDC Ajak Masyarakat Shop with Purpose
Kolaborasi antara IFDC, Senayan City, dan Cotton USA ini menjadi salah satu contoh bagaimana industri mode bisa ikut mengambil bagian dalam isu sosial. Melalui karya para desainer, masyarakat diajak untuk tetap menikmati fashion sekaligus memberikan kontribusi kepada mereka yang membutuhkan.
Bagi IFDC, keterlibatan industri mode dalam kegiatan sosial menjadi sesuatu yang penting. Salah satu desainer yang berpartisipasi, Yosafat Dwi Kurniawan, melihat kegiatan ini sebagai cara untuk memberikan nilai lebih melalui karya sekaligus berbagi kepada sesama. Sementara itu, Eddy Betty menyebut keikutsertaannya sebagai bentuk tanggung jawab untuk membantu melalui apa yang dimiliki dan dapat dilakukan.
Semangat tersebut kemudian dirangkum dalam tagline “Shop with purpose.” Masyarakat tidak hanya datang untuk melihat atau membeli fashion, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan yang menghubungkan kreativitas dengan kepedulian.
Kehadiran DRAFT juga menjadi bagian dari perjalanan Fashion Nation di Senayan City yang memasuki edisi ke-20. Momentum tersebut sekaligus memperlihatkan luasnya ekosistem mode Indonesia, mulai dari desainer, brand, media, institusi fashion, hingga komunitas kreatif.
Pada akhirnya, DRAFT IFDC memberikan perspektif bahwa fashion nggak selalu harus berhenti di soal penampilan. Sebuah pakaian juga bisa membawa cerita, mempertemukan banyak pihak, dan bahkan menjadi cara sederhana untuk ikut memberikan dampak.