CFCL dan Seni Merajut Kenyamanan dari Kantor hingga Malam Pesta

Asnida RianiDiterbitkan 04 September 2026, 15:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Pernah merasa satu outfit harus bekerja lebih keras dari kamu? Dari menemani meeting di pagi hari, ngopi setelah jam kerja, hinggadinner, pakaian yang tepat tentu perlu punya lebih dari sekadar tampilan stylish. Di sinilah CFCL hadir dengan pendekatan fashion yang mengutamakan fungsi, kenyamanan, sekaligus estetika timeless.

Brand asal Jepang ini didirikan pada 2020 oleh desainer Yusuke Takahashi. CFCL merupakan singkatan dari Clothing For Contemporary Life, sebuah nama yang merefleksikan gagasan tentang pakaian yang dekat dengan dinamika kehidupan modern.

Sebelum mendirikan CFCL, Yusuke merupakan lulusan Bunka Fashion Graduate University dan bergabung dengan Miyake Design Office pada 2010. Ia kemudian dipercaya menjadi desainer ISSEY MIYAKE MEN pada 2013.

What's On Fimela
Koleksi CFCL VOL.12 rancangan desainer Yusuke Takahashi di Masari, Plaza Indonesia, Jakarta, 2 September 2026. (Fimela.com/Asnida Riani)

Pengalaman lebih dari satu dekade tersebut membentuk pendekatannya dalam memadukan teknologi, estetika, dan fungsi. Menariknya, Yusuke memilih tidak menjadikan namanya sebagai identitas brand.

"Brand ini lebih tentang membangun hubungan antara pakaian dan kehidupan masyarakat kontemporer, bukan sekadar refleksi estetika personal seorang desainer," ujarnya pada FIMELA di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Filosofi itu diterjemahkan lewat tiga kata kunci: sofistikasi, kemudahan perawatan, dan kesadaran. CFCL mengandalkan teknologi rajut berbantuan komputer dengan cutting minimal untuk mengurangi limbah material.

Hasilnya, tercipta koleksi yang effortless, nyaman, mudah dirawat, dan tetap elegan. Simplicity, modesty, serta responsibility menjadi fondasi desain CFCL yang timeless dan relevan.

2 dari 3 halaman

Dari Coat Kasual sampai Gaun Berkilau untuk Pesta

Desainer Yusuke Takahashi berfoto dengan koleksi CFCL VOL.12 di Masari, Plaza Indonesia, Jakarta, 2 September 2026. (Fimela.com/Asnida Riani)

Versatilitas CFCL terasa dalam koleksi terbarunya, VOL.12, yang dipresentasikan di Paris Fashion Week Womenswear Fall/Winter 2026. Mengusung tema "Knit-ware: Sculpture," koleksi ini terinspirasi konsep social sculpture Joseph Beuys, memadukan drapery yang mengalir dengan siluet sculptural.

Untuk tampilan sehari-hari, seri TW INLAY menghadirkan coat unlined berpotongan voluminous dari wol New Zealand non-mulesed dan kasmir Inner Mongolia, dengan struktur tiga lapis yang hangat sekaligus memiliki drape kuat. Ada pula AC MILAN dan MILAN VELVET dengan gaya kasual kontemporer yang ringan dan effortless.

Sementara untuk momen spesial, SOFT PORTRAIT FOIL menawarkan siluet pas badan dengan sentuhan foil berkilau. Lebih dramatis, FLUFFY FRINGE FOIL dihiasi 1.265 rumbai rajut berlapis foil yang dipasang manual, sedangkan ENCHANT dipercantik 2.670 payet perak dan hitam.

 

3 dari 3 halaman

Dibalut Nilai Sustainability yang Konsisten

Koleksi CFCL VOL.12 rancangan desainer Yusuke Takahashi di Masari, Plaza Indonesia, Jakarta, 2 September 2026. (Fimela.com/Asnida Riani)

Di balik desain yang effortless, CFCL juga membawa komitmen kuat terhadap keberlanjutan. Pada 202, jenama ini menjadi apparel brand pertama di Jepang yang meraih sertifikasi B Corporation, sebagai pengakuan atas standar sosial, lingkungan, transparansi, dan akuntabilitas.

Sertifikasinya kembali diperbarui pada Januari 2026 dengan skor tertinggi yang pernah dicapai perusahaan asal Jepang. Bagi Yusuke, sustainability bukan sekadar tren.

Saat merintis CFCL pada 2019–2020, ia melihat belum banyak fashion brand yang benar-benar menempatkan keberlanjutan sebagai prioritas. Karena itu, keterlacakan material dan proses produksi menjadi bagian penting dari tanggung jawab sebuah brand.

Komitmen tersebut juga hadir lewat kolaborasi kedua CFCL bersama VEJA, yang mengedepankan transparansi rantai pasok dan material berkualitas, serta dijadwalkan hadir pada awal musim gugur 2026.