Golden Child dan Scapegoat dalam Keluarga, Apa Bedanya?

Revania ImmanuelaDiterbitkan 21 September 2026, 14:22 WIB

Fimela.com, Jakarta - Setiap anak tentu memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Namun, dalam sebuah keluarga, perbedaan perlakuan terhadap anak terkadang tidak hanya muncul karena usia atau kepribadian. Ada situasi ketika satu anak lebih sering dipuji dan dianggap sebagai contoh, sementara anak lainnya justru lebih sering disalahkan atau dikritik. Pola seperti ini salah satunya dapat terlihat melalui peran golden child dan scapegoat dalam keluarga.

Dilansir dari Psychology Today, istilah golden child dan scapegoat sering digunakan untuk menggambarkan pola seperti ini dalam keluarga yang memiliki dinamika tidak sehat. Golden child merujuk pada anak yang cenderung ditempatkan sebagai sosok yang paling dibanggakan atau diharapkan memenuhi standar tertentu. Sementara itu, scapegoat merupakan anak yang lebih sering menjadi sasaran kesalahan atau kritik ketika muncul masalah dalam keluarga.

Meski terdengar seperti dua peran yang sangat berbeda, keduanya sama-sama dapat memengaruhi cara anak melihat dirinya sendiri. Anak yang terus-menerus mendapat pujian bisa merasa harus selalu memenuhi ekspektasi agar tetap dianggap baik. Di sisi lain, anak yang sering disalahkan dapat mulai mempertanyakan dirinya sendiri dan merasa apa pun yang dilakukan selalu kurang.

Karena itu, golden child dan scapegoat bukan sekadar label untuk menggambarkan kepribadian anak. Istilah tersebut lebih berkaitan dengan pola hubungan dan perlakuan yang terus berulang di dalam keluarga.

Pola ini juga tidak selalu terlihat jelas sejak awal. Terkadang, perbedaannya baru terasa ketika anak mulai tumbuh besar dan menyadari bahwa mereka mendapatkan pengalaman yang tidak sama di rumah.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Bukan Hanya Soal Pujian dan Kritik, Ini Dampaknya bagi Anak

Peran sebagai golden child maupun scapegoat dapat membawa tekanan yang berbeda bagi anak. (Foto/Dok: Pexels)

Menjadi anak yang sering dipuji mungkin terlihat menyenangkan. Anak mendapat perhatian, dianggap berprestasi, dan sering dijadikan contoh bagi saudara lainnya. Namun, posisi tersebut juga dapat membuat anak merasa harus terus mempertahankan citra yang sudah terbentuk.

Ketika pujian selalu datang karena prestasi atau perilaku tertentu, anak bisa merasa bahwa dirinya harus selalu berhasil agar tetap mendapatkan penerimaan. Sementara itu, anak yang sering ditempatkan sebagai scapegoat dapat mengalami tekanan dengan bentuk yang berbeda. Jika terus-menerus dianggap sebagai sumber masalah, anak bisa terbiasa menerima kritik bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.

Beberapa dampak yang dapat muncul dari pola perlakuan seperti ini antara lain:

  • Merasa harus selalu memenuhi ekspektasi. Anak yang berada di posisi golden child bisa merasa perlu mempertahankan citra sebagai anak yang selalu berhasil atau membanggakan.
  • Takut melakukan kesalahan. Ketika anak terbiasa mendapat pujian karena pencapaiannya, kegagalan bisa terasa lebih berat dan membuatnya takut mengecewakan orang tua.
  • Kepercayaan diri ikut terpengaruh. Anak yang sering menjadi sasaran kritik dapat mulai mempertanyakan kemampuan dan nilai dirinya sendiri.
  • Hubungan dengan saudara menjadi kurang nyaman. Perbedaan perlakuan dapat membuat anak merasa dibandingkan atau bahkan menciptakan jarak di antara saudara.

Meski begitu, tidak setiap perbedaan perlakuan dalam keluarga otomatis berarti ada golden child dan scapegoat. Orang tua tetap bisa memiliki cara berbeda dalam menghadapi setiap anak karena kebutuhan, usia, atau kondisi mereka memang tidak sama. Yang perlu diperhatikan adalah ketika pola tersebut terus berulang dan membuat satu anak selalu ditempatkan lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan yang lainnya.

3 dari 3 halaman

Cara Menciptakan Dinamika Keluarga yang Lebih Sehat

Setiap Anak Butuh Ruang untuk Tumbuh Tanpa Label. (Foto/Dok: Pexels)

Dalam keluarga, memberikan perhatian yang seimbang bukan berarti memperlakukan semua anak dengan cara yang benar-benar sama. Setiap anak tetap memiliki kebutuhan dan karakter yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut sebaiknya tidak membuat salah satu anak terus-menerus merasa lebih berharga dibandingkan yang lain.

Orang tua dapat mulai membangun pola yang lebih sehat melalui beberapa kebiasaan sederhana dalam keseharian, seperti:

1. Menghindari kebiasaan membandingkan anak.

Kalimat seperti “Kakak saja bisa, kenapa kamu tidak?” mungkin terdengar sederhana, tetapi jika terlalu sering didengar, anak dapat merasa bahwa dirinya selalu berada di bawah standar saudara lainnya.

2. Menghargai usaha, bukan hanya hasil. 

Apresiasi tidak harus diberikan ketika anak mendapatkan prestasi. Menghargai keberanian mencoba dan kemauan untuk belajar juga dapat membantu anak merasa dirinya tetap berharga meskipun tidak selalu berhasil.

3. Memberikan ruang untuk bercerita.

Anak perlu tahu bahwa mereka bisa menyampaikan perasaan, termasuk ketika sedang kecewa atau tidak nyaman, tanpa langsung disalahkan.

4. Menghindari pemberian label. 

Sebutan seperti “anak pintar”, “anak nakal”, atau “si pembuat masalah” sebaiknya tidak terus dilekatkan pada anak karena dapat memengaruhi cara mereka melihat dirinya sendiri.

Dengan kebiasaan tersebut, setiap anak bisa mendapatkan ruang untuk berkembang tanpa harus bersaing mendapatkan posisi tertentu di dalam keluarga.