Fimela.com, Jakarta - Anak bisa merasakan banyak emosi dalam satu hari, mulai dari senang, kecewa, marah, takut, hingga sedih. Namun, belum semua anak mampu menjelaskan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Karena itu, validasi emosi anak menjadi salah satu hal yang penting dalam proses tumbuh kembang. Respons orangtua ketika anak sedang menghadapi emosi yang besar bisa membantu mereka belajar memahami perasaan dan mengenali apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Dilansir dari Child Mind Institute, memvalidasi perasaan anak dapat membantu mereka merasa dipahami sekaligus membangun rasa percaya terhadap dirinya sendiri. Validasi juga tidak berarti orangtua harus menyetujui semua tindakan anak. Sederhananya, orangtua menunjukkan bahwa mereka memahami mengapa anak bisa merasakan emosi tersebut, sebelum kemudian membantu anak mencari cara untuk menghadapinya.
Contohnya, ketika anak menangis karena mainannya rusak, orangtua mungkin spontan mengatakan, “Sudah, jangan menangis. Itu cuma mainan.” Kalimat tersebut memang terdengar seperti ingin menenangkan, tetapi anak justru bisa merasa bahwa kesedihannya dianggap tidak penting. Sebagai gantinya, orangtua dapat mengatakan, “Kamu sedih karena mainanmu rusak, ya? Wajar kalau kamu kecewa.”
Kalimat sederhana seperti itu tidak langsung menyelesaikan masalah. Namun, anak mendapatkan pesan bahwa perasaannya boleh dirasakan dan dibicarakan. Dari sini, anak perlahan belajar mengenali emosi yang muncul dalam dirinya. Validasi juga dapat dilakukan tanpa percakapan yang panjang. Ketika anak terlihat kecewa, orangtua bisa bertanya apa yang terjadi dan memberikan perhatian penuh. Mendengarkan tanpa buru-buru memotong atau memberikan nasihat bisa membuat anak merasa lebih aman untuk bercerita.
Kebiasaan tersebut dapat menjadi dasar bagi anak untuk lebih terbuka mengenai perasaannya. Melalui validasi emosi anak, mereka tidak hanya belajar bahwa sedih atau marah adalah sesuatu yang normal, tetapi juga mulai memahami bahwa setiap emosi bisa dikenali, dibicarakan, dan dikelola.
Validasi Bukan Berarti Membenarkan Semua Perilaku Anak
Salah satu hal yang sering di salah pahami dari validasi emosi adalah anggapan bahwa orangtua harus selalu mengikuti keinginan anak. Padahal, memahami perasaan dan menyetujui perilaku merupakan dua hal yang berbeda. Anak boleh merasa marah, tetapi bukan berarti mereka boleh memukul orang lain karena sedang marah.
Misalnya, anak kesal karena waktu bermain harus selesai. Orangtua bisa mengatakan, “Mama tahu kamu masih ingin bermain dan kamu kecewa karena waktunya sudah habis.” Setelah mengakui perasaan tersebut, orangtua tetap dapat memberikan batasan, seperti menjelaskan bahwa waktu bermain memang sudah selesai dan anak perlu bersiap melakukan kegiatan berikutnya. Cara seperti ini membuat anak belajar bahwa emosinya tidak perlu ditekan, tetapi perilakunya tetap memiliki batas. Mereka juga perlahan memahami bahwa merasa marah tidak otomatis berarti boleh melakukan sesuatu yang menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Hal lain yang dapat dilakukan adalah membantu anak memberikan nama pada emosinya. Ketika anak menangis setelah bertengkar dengan temannya, orangtua dapat bertanya, “Kamu lebih merasa sedih, kecewa, atau marah?” Pertanyaan sederhana tersebut membantu anak mengenali apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Semakin sering anak mengenali dan menyebutkan emosinya, semakin mudah pula mereka belajar mengomunikasikan kebutuhan. Daripada hanya menangis atau berteriak, anak dapat mulai mengatakan, “Aku kecewa,” atau “Aku marah karena tadi tidak diajak.”
Orangtua juga tidak harus selalu langsung mencari solusi. Terkadang anak hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan ceritanya. Setelah emosinya mulai lebih tenang, barulah orangtua bisa mengajak anak memikirkan apa yang dapat dilakukan selanjutnya. Dengan begitu, validasi emosi bukan tentang membuat anak selalu merasa nyaman. Justru, anak tetap akan mengalami kecewa, gagal, marah, dan sedih. Bedanya, mereka belajar bahwa emosi tersebut dapat dihadapi tanpa harus merasa sendirian.
Dari Validasi Emosi, Anak Belajar Menghadapi Rasa Kecewa
Mental yang tangguh bukan berarti anak tidak pernah menangis, takut, marah, atau kecewa. Justru, kemampuan untuk mengenali perasaan dan tetap mencoba menghadapi situasi sulit menjadi bagian dari proses membangun ketangguhan emosional. Karena itu, orangtua tidak perlu buru-buru membuat semua masalah anak menghilang.
Ketika anak gagal dalam perlombaan, misalnya, respons pertama yang diberikan bisa berupa pengakuan terhadap perasaannya. “Kamu pasti kecewa karena sudah latihan, tetapi hasilnya belum sesuai harapan.” Setelah itu, ketika anak sudah lebih siap, orangtua dapat mengajaknya melihat pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang bisa dipelajari. Anak juga bisa diajak memikirkan langkah kecil berikutnya. Apa yang membuatnya kesulitan? Apakah ada bagian yang ingin dilatih lagi? Atau mungkin anak memang membutuhkan waktu untuk menerima hasil yang belum sesuai keinginan? Proses tersebut membuat anak tidak hanya mendapatkan penghiburan, tetapi juga kesempatan untuk belajar menghadapi masalah.
Hal yang tidak kalah penting adalah contoh dari orangtua. Anak dapat melihat bagaimana orang dewasa menghadapi rasa kecewa, stres, atau kesalahan. Orangtua bisa menunjukkan bahwa merasa kesal adalah hal yang normal, kemudian memperlihatkan cara menenangkan diri sebelum mencari solusi. Dalam keseharian, validasi emosi juga dapat dimulai dari percakapan sederhana. Saat makan bersama, orangtua bisa bertanya tentang hal yang membuat anak senang atau kesal hari itu. Tidak perlu selalu ada percakapan serius. Yang penting, anak terbiasa melihat rumah sebagai tempat yang aman untuk membicarakan perasaannya.
Pada akhirnya, membangun mental yang tangguh bukan tentang mengajarkan anak untuk selalu kuat dan tidak menangis. Anak justru perlu mengetahui bahwa semua emosi boleh dirasakan, sementara setiap masalah tetap perlu dihadapi dengan cara yang sehat. Validasi menjadi salah satu langkah sederhana untuk membantu anak memahami hal tersebut. Dengan didengarkan, anak belajar mengenali dirinya. Dengan diberikan batasan, anak belajar bertanggung jawab. Dan dengan didampingi saat menghadapi masalah, anak perlahan belajar bahwa rasa sulit bukan berarti dirinya tidak mampu melewatinya.