Ketika Anak Tumbuh Bersama Internet, Begini Tantangan Parenting Gen Z

Devita AdyaDiterbitkan 24 September 2026, 15:40 WIB

Fimela.com, Jakarta - Bagi orangtua Gen Z, internet bukan lagi sesuatu yang asing dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tumbuh ketika teknologi digital berkembang pesat, sehingga ketika memiliki anak, penggunaan internet menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan keluarga. Anak dapat menggunakan perangkat digital untuk belajar, berkomunikasi, bermain, hingga mencari hiburan. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan bagi orangtua.

Dilansir dari UNICEF, dunia online memberikan berbagai peluang bagi anak, tetapi juga membawa risiko seperti masalah privasi, konten berbahaya, serta keamanan digital. Karena itu, orangtua perlu membantu anak membangun kebiasaan digital yang sehat sekaligus memahami cara menjaga diri ketika berada di internet.

Penggunaan media digital memiliki manfaat sekaligus risiko. Anak dapat memperoleh kesempatan belajar dan bersosialisasi, tetapi juga berpotensi terpapar konten tidak sesuai, gangguan privasi, serta masalah yang berkaitan dengan penggunaan media. Sebaiknya, keluarga membuat aturan penggunaan media yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tahap perkembangan anak.

Bagi orangtua Gen Z, tantangannya bukan sekadar membatasi waktu layar, tetapi mendampingi anak agar mampu menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.

2 dari 3 halaman

Mengajarkan Anak Bijak Menggunakan Media Digital

Mendampingi anak menggunakan internet membutuhkan lebih dari sekadar aturan screen time, karena itu orang tua juga perlu mengajarkan keamanan, privasi, dan cara menghadapi berbagai situasi online. (Foto/Dok: Pexels)

Salah satu tantangan parenting di era digital adalah membantu anak memahami bahwa internet bukan ruang tanpa batas. Anak mungkin dengan mudah membuka berbagai aplikasi, menonton video, bermain game, atau berkomunikasi dengan orang lain. Namun, tidak semua informasi dan interaksi yang ditemukan secara online aman untuk mereka.

Orangtua Gen Z dapat mulai dengan membicarakan aturan sederhana mengenai penggunaan internet. Misalnya, anak perlu memahami informasi apa yang boleh dibagikan dan mana yang sebaiknya tetap menjadi privasi keluarga. Nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon, kata sandi, hingga lokasi secara real-time merupakan informasi yang perlu dijaga.

Selain keamanan data, anak juga perlu memahami bahwa tidak semua orang di internet memiliki niat baik. Orangtua dapat mengajarkan anak untuk berhati-hati ketika menerima pesan dari orang yang tidak dikenal, menemukan konten yang membuat tidak nyaman, atau mendapatkan permintaan untuk merahasiakan sesuatu dari orang tua.

Komunikasi terbuka menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Anak perlu merasa aman untuk bercerita tanpa langsung takut dimarahi. Dengan begitu, ketika menghadapi masalah di dunia digital, mereka tahu kepada siapa harus meminta bantuan.

3 dari 3 halaman

Bukan Sekadar Membatasi, tetapi Mendampingi

Parenting di era digital bukan hanya tentang mengurangi penggunaan gawai, tetapi juga membangun komunikasi agar anak mampu mengenali risiko dan mengambil keputusan yang aman saat online. (Foto/Dok: Pexels)

Membatasi penggunaan gawai memang dapat menjadi salah satu bagian dari aturan keluarga, tetapi parenting di era digital tidak berhenti pada persoalan berapa lama anak berada di depan layar. Orang tua juga perlu memahami bagaimana anak menggunakan teknologi dan pengalaman apa yang mereka dapatkan ketika online.

Pendampingan dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana, seperti sesekali menonton konten bersama, membicarakan video yang dilihat anak, atau menanyakan pengalaman mereka ketika bermain game dan menggunakan media sosial. Cara ini membuat orangtua lebih memahami dunia digital anak tanpa harus selalu melakukan pengawasan secara berlebihan.

Orangtua juga dapat membuat kesepakatan mengenai waktu menggunakan gawai, area rumah yang bebas perangkat, serta kegiatan yang perlu dilakukan tanpa layar. Aturan tersebut sebaiknya disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak, kemudian dibicarakan bersama agar anak memahami alasan di baliknya.

Pada akhirnya, menjadi orangtua di era digital bukan berarti harus menguasai semua teknologi yang digunakan anak. Hal yang lebih penting adalah membangun kebiasaan komunikasi yang terbuka. Dengan pendampingan yang konsisten, anak dapat belajar menjaga privasi, mengenali situasi yang tidak aman, dan menggunakan internet secara lebih bertanggung jawab.