Sulit Lepas dari Pekerjaan? Bisa Jadi Kamu Terjebak Hustle Culture

Revania ImmanuelaDiterbitkan 24 September 2026, 18:14 WIB

Fimela.com, Jakarta - Jam kantor sudah selesai, tetapi rasanya belum benar-benar bisa pulang dari pekerjaan. Baru sampai rumah, masih kepikiran tugas yang belum selesai. Ponsel pun sesekali dicek hanya untuk memastikan tidak ada chat dari kantor yang terlewat. Niatnya ingin istirahat, tetapi ujung-ujungnya kembali membuka laptop. Kebiasaan seperti ini bisa menjadi salah satu gambaran dari hustle culture, ketika pekerjaan terus terbawa hingga ke waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat

Dilansir dari Harvard Business Review, budaya kerja yang membuat seseorang merasa harus selalu tersedia dapat membuat batas antara kehidupan profesional dan pribadi semakin kabur. Tekanan untuk tetap terhubung, merespons pesan di luar jam kerja, hingga mengambil pekerjaan tambahan bisa membuat seseorang terus berada dalam mode kerja, bahkan ketika waktunya sudah selesai.

Hustle culture merupakan pola pikir yang membuat kesibukan dan produktivitas terasa seperti ukuran pencapaian diri. Bekerja keras tentu bukan hal yang salah, tetapi masalah muncul ketika seseorang merasa harus selalu sibuk agar tetap produktif.

Padahal, setelah jam kerja selesai, ada banyak hal lain yang bisa dilakukan tanpa harus merasa bersalah, seperti bertemu teman, menonton film, atau sekadar beristirahat.

 

2 dari 3 halaman

Mengapa Sulit Sekali Benar-Benar Berhenti Bekerja?

Bukan hanya soal lembur, hustle culture juga bisa membuat seseorang merasa harus terus produktif agar tidak merasa tertinggal. (Foto/Dok: Magnific)

Ada kepuasan tersendiri ketika melihat daftar pekerjaan yang akhirnya berhasil dicoret satu per satu. Perasaan ini wajar. Namun, jika produktivitas mulai menjadi cara utama untuk mengukur apakah hari yang dijalani sudah cukup baik, waktu istirahat bisa terasa kurang berharga.

Hal tersebut dapat membuat seseorang terus mencari pekerjaan baru meski sebenarnya sudah menyelesaikan cukup banyak hal. Begitu satu tugas selesai, langsung beralih ke tugas berikutnya. Saat tidak ada pekerjaan, muncul dorongan untuk mencari sesuatu agar tetap merasa sibuk.

Di lingkungan kantor, kebiasaan ini juga bisa terbentuk dari hal-hal yang terlihat sederhana. Melihat rekan kerja masih online, misalnya, bisa membuat seseorang merasa harus ikut tersedia. Begitu ada pesan masuk di luar jam kerja, muncul kekhawatiran kalau tidak segera membalas akan dianggap kurang responsif.

Belum lagi budaya kerja yang sering mengaitkan kesibukan dengan dedikasi. Pulang lebih malam bisa terlihat seperti tanda kerja keras. Mengerjakan banyak hal sekaligus dianggap menunjukkan kemampuan. Padahal, durasi bekerja tidak selalu menggambarkan seberapa efektif pekerjaan tersebut diselesaikan.

Dari sini, hustle culture bisa terasa seperti siklus. Semakin sibuk, semakin merasa produktif. Semakin produktif, semakin sulit memberikan izin kepada diri sendiri untuk berhenti.

Memiliki ambisi untuk berkembang tetap bisa berjalan beriringan dengan waktu istirahat. Keduanya tidak harus saling mengorbankan.

3 dari 3 halaman

Cara Pelan-Pelan Keluar dari Siklus Hustle Culture

Melepaskan diri dari pekerjaan bukan berarti kehilangan ambisi. Batas yang lebih sehat justru bisa membantu waktu kerja dan waktu pribadi terasa lebih seimbang. (Foto/Dok: Magnific)

1. Tentukan batas waktu kerja

Tentukan kapan jam kerja benar-benar selesai. Setelah itu, coba hindari membuka email atau chat kantor jika tidak ada hal yang mendesak.

2. Buat rutinitas setelah pulang kerja

Ganti pakaian, mandi, berjalan sebentar, atau melakukan kegiatan yang disukai bisa menjadi tanda bahwa waktu kerja sudah berakhir dan waktunya kembali ke kehidupan pribadi.

3. Susun pekerjaan berdasarkan prioritas

Tidak semua tugas harus selesai dalam satu hari. Tentukan mana yang perlu dikerjakan segera dan mana yang masih bisa dilanjutkan besok agar pekerjaan tidak terus memenuhi pikiran.

4. Komunikasikan batas dengan rekan kerja

Jika memungkinkan, beri tahu kapan kamu biasanya bisa merespons pesan. Mengaktifkan fitur Do Not Disturb setelah jam kerja juga bisa membantu menjaga waktu pribadi.

5. Jangan tunggu pekerjaan selesai untuk beristirahat

Pekerjaan akan selalu ada lagi keesokan harinya. Karena itu, istirahat tidak perlu dianggap sebagai hadiah setelah semua tugas selesai.

Memiliki target karier dan keinginan untuk berkembang tentu bukan hal yang salah. Namun, produktif bukan berarti harus selalu sibuk. Ada waktunya bekerja, mengejar target, dan ada waktunya berhenti sejenak.

Menutup laptop tepat waktu dan menikmati malam tanpa membuka pekerjaan lagi bukan berarti kehilangan ambisi. Istirahat juga bagian dari menjaga diri agar tetap bisa menjalani pekerjaan dengan baik.