LUNGSARA, Merayakan Esensi Tenun Nusantara dalam Wajah Mode Kontemporer Bersama CTI

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 24 September 2026, 18:48 WIB

Fimela.com, Jakarta - Kain tenun Nusantara kembali menemukan ruang baru untuk bercerita melalui LUNGSARA: The Essence of Nusantara, pagelaran kolaborasi Cita Tenun Indonesia bersama Senayan City yang dipresentasikan dalam rangkaian Fashion Nation 2026 pada 23 September 2026. Menghadirkan tiga jenama mode muda—Saroong Atelier, Othman, dan KMK by Karel Karuniawan—LUNGSARA menjadi pertemuan antara kekayaan tradisi dan interpretasi desain yang lebih modern.

Nama LUNGSARA sendiri berakar dari kata LUNGSIN dan SARA, yang menjadi metafora atas esensi tenun Nusantara yang terus hidup. Layaknya sebuah akar yang sama, tenun dapat tumbuh menjadi beragam bentuk dan ekspresi, mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitas yang membentuknya. Semangat inilah yang kemudian diterjemahkan melalui tiga koleksi dengan karakter yang berbeda.

Bagi Cita Tenun Indonesia, regenerasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kain tradisional. Setiap tahunnya, organisasi ini melibatkan desainer muda dalam berbagai ajang mode untuk memperkenalkan tenun melalui pendekatan yang lebih segar. Bukan sekadar mempertahankan warisan, tetapi juga membuka kemungkinan baru agar kain Nusantara terasa relevan dan semakin dekat dengan generasi muda.

2 dari 3 halaman

Ajak Khalayak Ramai Merayakan Tenun Nusantara

Di atas runway, Saroong Atelier menjadi salah satu jenama yang menghadirkan interpretasi penuh energi terhadap tenun. Koleksinya mengeksplorasi kebebasan yang dinamis / Foto dok: Fimela.com.

Di atas runway, Saroong Atelier menjadi salah satu jenama yang menghadirkan interpretasi penuh energi terhadap tenun. Koleksinya mengeksplorasi kebebasan yang dinamis melalui kain Endek dan tenun Rangrang asal Bali. Karakter kedua kain tersebut diterjemahkan menjadi busana yang terasa modern, ringan, dan memiliki gerak. Permainan siluet serta pengolahan material membuat tenun tampil jauh dari kesan konvensional, sekaligus memperlihatkan potensinya untuk menjadi bagian dari gaya berpakaian masa kini.

Berbeda dari Saroong Atelier, Othman menawarkan pendekatan yang lebih kasual dan versatile. Beragam outer, jaket, loose top, hingga celana menjadi bagian dari koleksi yang menggunakan tenun Sobi dari Sulawesi Selatan. Motif dan karakter kain tampil atraktif melalui permainan layering serta siluet yang memberikan kesan effortless. Koleksi ini seolah menunjukkan bahwa kain tradisional dapat dengan mudah beradaptasi dengan kebutuhan wardrobe modern, dari tampilan sehari-hari hingga gaya yang lebih statement.

Sementara itu, KMK by Karel Karuniawan menghadirkan interpretasi yang lebih dramatis. Tenun Baduy asal Banten menjadi material utama yang memberikan identitas kuat pada koleksi. Karakter visual kain diterjemahkan melalui busana dengan siluet dan konstruksi yang mencuri perhatian. Hasilnya adalah rangkaian look yang terasa bold, eksperimental, sekaligus tetap memperlihatkan kekayaan tekstur dan karakter tenun yang menjadi sumber inspirasinya.

3 dari 3 halaman

LUNGSARA menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini.

Othman menawarkan pendekatan yang lebih kasual dan versatile. Beragam outer, jaket, loose top, hingga celana menjadi bagian dari koleksi yang menggunakan tenun Sobi dari Sulawesi Selatan. / Foto dok: Fimela.com.

Ketiga koleksi tersebut memperlihatkan bagaimana satu warisan budaya dapat melahirkan bahasa mode yang begitu beragam. Endek dan Rangrang Bali tampil dinamis bersama Saroong Atelier, tenun Sobi Sulawesi Selatan mendapatkan interpretasi atraktif dari Othman, sementara tenun Baduy Banten hadir dramatis melalui karya KMK by Karel Karuniawan.

Lebih dari sekadar fashion show, LUNGSARA menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Tradisi tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang harus diam di masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi yang dapat terus berkembang. Melalui kreativitas para desainer muda, tenun Nusantara mendapatkan kemungkinan baru untuk hadir dalam kehidupan generasi masa kini.

Di runway Fashion Nation 2026, LUNGSARA akhirnya memperlihatkan satu hal penting: menjaga tradisi bukan berarti membatasi kreativitas. Justru dengan memberikan ruang bagi interpretasi baru, akar yang sama dapat terus melahirkan cerita, karakter, dan ekspresi yang berbeda—membawa esensi tenun Nusantara untuk terus hidup melintasi zaman.