Fimela.com, Jakarta - Kulit yang terasa perih, panas, gatal, kulit sensitif , atau tiba-tiba mengalami breakout kerap dianggap sebagai masalah yang muncul sesekali. Padahal, tanda-tanda tersebut bisa menjadi bagian dari kondisi kulit reaktif yang terus berulang. Studi yang dipublikasikan dalam Acta Dermato-Venereologica menyebutkan bahwa satu dari dua orang melaporkan memiliki kulit reaktif.
Melihat kondisi tersebut, Wardah mengidentifikasi empat emerging skin concern, yaitu sensitive skin, severe dry skin, acne dry skin, dan acne oily skin. Keempat kondisi ini memiliki pola serta kebutuhan skin recovery yang berbeda sehingga membutuhkan assessment dan pendekatan yang lebih personal.
Kondisi kulit juga dapat berkaitan dengan berbagai faktor dari lingkungan maupun keseharian. Dalam konsep skin exposome, beberapa pemicu yang perlu diperhatikan meliputi paparan fisik seperti UV, panas, dingin, dan angin, serta faktor kimia seperti kosmetik, sabun, air, dan polutan. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kondisi kulit, termasuk ketika kulit sensitif terasa semakin tidak nyaman.
Selain itu, stres sebagai faktor psikologis serta perubahan hormonal seperti menstrual cycle juga termasuk faktor yang dapat memengaruhi kondisi kulit. Dengan memahami berbagai pemicu tersebut, kebutuhan perawatan kulit sensitif dapat dilihat secara lebih menyeluruh.
Lewat Teknologi AI, Sinyal Kulit Bisa Dibaca Lebih Mendalam
Memahami kondisi kulit tidak selalu cukup hanya dengan melihat perubahan yang tampak di permukaan. Melalui Wardah Derma Longevity Lab, pendekatan Skin Trigger-to-Personalized Skin Recovery membantu konsumen mengenali sinyal kulit hingga mendapatkan dermatologist recovery guidance.
Rangkaian ini menggunakan AI Personalized Skin Analyzer untuk mendeteksi parameter kulit dan mengklasifikasikan tingkat kondisi melalui standardized skin grading. Hasil analisis kemudian dikombinasikan dengan lifestyle assessment untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan skin problem triggers dan menyusun panduan skin recovery yang lebih personal.
Hasilnya dirangkum dalam Skin ID Blueprint yang menghubungkan skin signals, kondisi skin barrier, dan lifestyle. Selain AI-PSA, pengunjung dapat mencoba pemeriksaan pendukung seperti Dermascope dan Temperature Provocation Test yang digunakan secara selektif sesuai kondisi masing-masing individu. Ada pula Wardah Dryness Test untuk membantu melihat kebutuhan recovery pada kulit yang menunjukkan tanda kering atau tight.
Sementara itu, Dino-Lite digunakan untuk melihat permukaan kulit secara lebih detail dan membandingkannya sebelum serta sesudah penggunaan moisturizer.
Tak Hanya Skincare, Faktor Ini Bisa Berkaitan dengan Kondisi Kulit
Kondisi kulit tidak hanya berkaitan dengan perawatan yang digunakan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kebiasaan dan paparan sehari-hari. Melalui Advanced Skin ID Blueprint, Wardah menghubungkan kondisi kulit dengan enam lifestyle inputs, yaitu sleep, stress, nutrition, gut health, movement, dan daily exposure.
Pemetaan tersebut membantu konsumen memahami hubungan antara rutinitas harian dengan berbagai sinyal pada kulit, seperti kulit tampak lelah atau kusam, kemerahan, breakout, hingga kekeringan. Selain lifestyle, Wardah juga menyoroti pentingnya skin immunity sebagai sistem pertahanan kulit dalam menghadapi berbagai pemicu sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Perubahan cuaca dan suhu, polusi, stres, kurang tidur, gesekan, serta penggunaan makeup atau skincare yang kurang sesuai termasuk tekanan yang dapat memengaruhi kulit. Dalam konsep skin longevity, perawatan tidak hanya berfokus pada masalah yang terlihat saat ini, tetapi juga mendukung recovery, skin barrier, serta kemampuan kulit untuk beradaptasi dan tetap sehat dalam jangka panjang seiring bertambahnya usia dan perubahan kondisi lingkungan setiap hari.