Fimela.com, Jakarta - Mengajak remaja berbicara dari hati ke hati terkadang membutuhkan pendekatan yang berbeda. Pada usia ini, mereka mulai memiliki ruang pribadi dan keinginan untuk mengambil keputusan sendiri. Karena itu, pertanyaan yang terlalu banyak atau respons yang terdengar menghakimi dapat membuat mereka memilih untuk diam.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menciptakan suasana percakapan yang nyaman. Tidak selalu harus melalui pembicaraan serius, obrolan dapat dimulai ketika sedang melakukan aktivitas bersama, seperti makan, berjalan-jalan, atau dalam perjalanan. Situasi yang lebih santai dapat membuat curhat terasa tidak terlalu formal.
Dilansir dari UNICEF Parenting, orang tua dapat membantu remaja terbuka dengan menunjukkan ketertarikan terhadap kehidupan mereka dan mendengarkan tanpa langsung memberikan penilaian. Ketika remaja merasa didengarkan, mereka dapat lebih nyaman untuk menyampaikan pikiran maupun perasaannya.
Yang tidak kalah penting, hindari menjadikan setiap curhat sebagai kesempatan untuk langsung memberikan ceramah. Terkadang, remaja hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan terlebih dahulu, tanpa terburu-buru memberikan nasihat, menyela pembicaraan, atau langsung menilai apa yang dirasakannya.
Mulai dengan Mendengar, Bukan Langsung Memberi Nasihat
Ketika ingin mengajak remaja curhat, cara bertanya menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Pertanyaan yang terdengar menyalahkan dapat membuat mereka semakin tertutup. Sebagai alternatif, gunakan pertanyaan terbuka yang memberikan ruang bagi remaja untuk bercerita sesuai kenyamanan. Beberapa cara yang bisa dicoba:
- Gunakan pertanyaan terbuka. Misalnya, “Belakangan ini gimana?” atau “Ada sesuatu yang lagi kepikiran?”Jangan buru-buru menyela.
- Berikan kesempatan bagi remaja untuk menyelesaikan ceritanya sebelum memberikan respons.
- Tahan keinginan untuk langsung memberi solusi. Terkadang, mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.
- Tunjukkan bahwa ceritanya didengar. Respons sederhana seperti “Aku ngerti kenapa kamu merasa begitu” dapat membuat percakapan terasa lebih aman.
Dilansir dari Child Mind Institute, mendengarkan secara aktif dapat membantu anak dan remaja merasa dipahami. Pendekatan ini juga dapat membuat komunikasi terasa lebih terbuka karena remaja tidak langsung merasa sedang dinilai atau dikoreksi dengan begitu, mereka dapat lebih leluasa menyampaikan perasaan, pengalaman, maupun masalah yang sedang dihadapi tanpa khawatir mendapatkan respons yang membuat mereka semakin tertutup.
Jangan Langsung Menghakimi, Beri Remaja Ruang untuk Bercerita
Membuat remaja mau curhat bukan sesuatu yang bisa dilakukan hanya dalam satu percakapan. Rasa percaya terbentuk dari kebiasaan berkomunikasi dan bagaimana orang terdekat merespons cerita mereka. Karena itu, penting untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki ruang yang aman untuk berbicara tanpa langsung mendapatkan penilaian. Beberapa hal yang dapat dilakukan:
- Hindari membandingkan. Kalimat seperti “Teman kamu saja bisa” dapat membuat remaja merasa ceritanya tidak dihargai.
- Validasi perasaannya. Tidak harus selalu setuju dengan keputusan mereka, tetapi tunjukkan bahwa perasaan yang disampaikan tetap didengarkan.
- Hormati batasan. Jika belum ingin bercerita, jangan memaksa. Beri tahu bahwa mereka bisa berbicara ketika sudah siap.
- Jaga kepercayaan. Jangan menjadikan cerita pribadi sebagai bahan candaan atau membagikannya kepada orang lain tanpa alasan yang tepat.
Dilansir dari American Academy of Pediatrics, komunikasi yang terbuka dan penuh perhatian dapat membantu orang tua tetap terhubung dengan remaja selama masa pertumbuhan. Dengan membangun rasa aman secara konsisten, percakapan dari hati ke hati dapat berkembang menjadi kebiasaan komunikasi yang lebih sehat.