Fimela.com, Jakarta - Keinginan memiliki mainan yang dilihat di toko atau media sosial bisa membuat anak sulit menerima ketika orangtua mengatakan tidak. Dalam kondisi seperti ini, menghadapi anak tantrum bukan berarti harus langsung memenuhi permintaannya agar tangisan berhenti.
Orangtua dapat tetap tenang sambil mengakui keinginan anak, misalnya dengan mengatakan bahwa mainan tersebut memang terlihat menarik, tetapi belum bisa dibeli sekarang. Dilansir dari American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org, tantrum merupakan bagian yang umum dalam perkembangan anak, terutama pada usia 1–3 tahun.
Saat tantrum berlangsung, orangtua dapat memberikan pilihan kecil yang masih sesuai batasan, mengalihkan perhatian, atau mengajak anak berpindah dari situasi yang memicu tantrum. Menghadapi anak tantrum juga membutuhkan konsistensi. Jika keputusan untuk tidak membeli mainan sudah dibuat, orangtua sebaiknya tidak berubah pikiran hanya karena anak menangis atau berteriak.
Setelah anak lebih tenang, orangtua dapat menjelaskan alasannya dengan kalimat singkat dan sederhana. Cara ini membantu anak belajar bahwa kecewa adalah hal yang wajar, tetapi keinginannya tidak selalu dapat langsung dipenuhi.
Anak Tetap Minta Mainan Mahal? Coba Alihkan Perhatiannya dengan Cara Ini
Ketika anak mulai tantrum karena tidak mendapatkan mainan mahal, orangtua tidak perlu terburu-buru memberikan penjelasan panjang. Pada saat emosi sedang tinggi, anak bisa kesulitan menerima banyak informasi. Dilansir dari ZERO TO THREE, orangtua dapat tetap tenang, mengakui perasaan anak, lalu mempertahankan batasan yang sudah ditetapkan. Setelah itu, berikan pilihan sederhana yang masih dapat diterima.
Beberapa cara yang bisa dicoba:
- Validasi perasaannya: Katakan, “Kamu kecewa karena belum bisa punya mainan itu,” tanpa menjanjikan akan membelinya.
- Berikan pilihan: Ajak anak memilih aktivitas lain, seperti melihat buku atau bermain dengan mainan yang sudah dimiliki.
- Alihkan perhatian: Pindahkan fokus anak ke kegiatan berbeda ketika situasi mulai memanas.
- Tetap konsisten: Jika sejak awal mainan tersebut tidak masuk dalam rencana pembelian, usahakan tetap pada keputusan tersebut.
Dilansir ZERO TO THREE, memberikan pilihan yang sesuai usia dapat membantu anak merasa memiliki kendali sekaligus belajar menghadapi batasan. Pendekatan ini juga memberi ruang bagi anak untuk mengenali dan mengelola rasa kecewanya secara bertahap.
Setelah Tantrum Reda, Ajarkan Anak Cara Menghadapi Kecewa
Ketika tantrum sudah mereda, bukan berarti percakapan tentang kejadian tersebut harus langsung selesai. Orangtua bisa mengajak anak membicarakannya kembali dengan suasana yang tenang. Misalnya, tanyakan apa yang membuatnya kecewa ketika tidak mendapatkan mainan yang diinginkan. Hindari memberikan ceramah panjang atau menyalahkan anak karena menangis.
Dilansir dari Child Mind Institute, membahas kembali tantrum setelah anak tenang dapat membantu mereka memahami apa yang terjadi dan memikirkan cara berbeda untuk menghadapi situasi serupa di kemudian hari. Orangtua bisa membantu dengan pertanyaan sederhana, seperti “Lain kali kalau belum bisa beli mainan itu, kamu mau melakukan apa?”
Beberapa kebiasaan yang bisa dilakukan setelah tantrum:
- Berikan apresiasi: Puji anak ketika berhasil menenangkan diri.
- Bicarakan perasaan: Bantu anak mengenali rasa kecewa, marah, atau sedih.
- Buat rencana sederhana: Tentukan apa yang bisa dilakukan jika keinginan belum terpenuhi.
- Tetap konsisten: Jangan mengubah batasan hanya karena sebelumnya anak tantrum.
Dilansir dari American Academy of Pediatrics, anak belajar banyak dari perilaku orang tua. Menunjukkan cara menghadapi rasa frustrasi dengan tenang juga dapat menjadi contoh bagi anak dalam mengelola emosinya.