Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, ada perjalanan yang melampaui panjangnya lintasan runway. Bagi Mirelle Aurellia, langkah itu berawal dari Yogyakarta, berlanjut ke Jakarta, lalu membawanya ke Paris hingga berdiri di bawah sorot lampu panggung Chanel.
Model asal Indonesia tersebut tampil untuk koleksi Spring/Summer 2027 di Paris Fashion Week, ketika sejarah panjang rumah mode Prancis bersentuhan dengan visi baru Matthieu Blazy, melansir WWD, Selasa (6/10/2026).
Pada Senin, 5 Oktober 2026, Grand Palais menjadi lokasi Chanel mempersembahkan 83 look yang sekaligus menandai satu tahun Blazy memegang kendali kreatif. Mirelle menjadi salah satu wajah yang menerjemahkan gagasan Blazy di atas runway.
Di balik kehadirannya, IMG Models Paris menaungi perjalanan kariernya di kancah mode internasional, merujuk laman resminya. Dengan tinggi sekitar 177 sentimeter dan karakter wajah yang tegas, ia perlahan menemukan tempat di panggung global.
Ia pindah ke Jakarta saat berusia 17 tahun, sementara Yogyakarta tetap menjadi rumah tempatnya kembali. Di sela ritme ibu kota, waktu bersama keluarga dan menikmati makanan lokal menjadi caranya mengisi ulang energi.
Kenangan masa kecilnya juga lekat pada alam, termasuk momen di pegunungan saat menghirup udara segar bersama keluarga. Nuansa Indonesia tampak kian terasa pada langkah profesionalnya melalui editorial Vogue Philippines edisi Agustus 2026.
Mirelle menjadi model utama fashion story yang dipotret Kenza Le Bas di Bali untuk Vogue Philippines edisi Agustus 2026. Dalam editorial tersebut, ia mengenakan rancangan dari rumah mode internasional seperti Elie Saab, Givenchy, Balenciaga, Hermès, dan Zuhair Murad, memperlihatkan tampilan yang beragam.
Fashion Story Mirelle Aurellia di Tanah Air
Sebelum menjejak panggung mode internasional, Mirelle membangun portofolio di industri fashion Indonesia. Wajahnya telah hadir dalam karya desainer Tanah Air, termasuk Sapto Djojokartiko, Monica Ivena, Lisa Ju, Sebastian Gunawan, dan Denny Wirawan.
Paris kemudian menjadi panggung berikutnya. Untuk Chanel, Mirelle tampil dalam setelan tweed berupa blazer abu-abu bermotif zig-zag merah. Belt bernuansa croco emas melingkari pinggangnya, sementara shoulder bag cokelat Chanel melengkapi penampilan.
Sepasang anting berbentuk persegi panjang menambah aksen tegas pada keseluruhan look. Di balik presentasi kali ini, Blazy membawa Chanel memasuki fase yang terasa lebih bebas.
Setahun setelah debut sebagai creative director, ia merangkum berbagai kode yang dibangun sepanjang 12 bulan terakhir, sekaligus membuka arah baru bagi rumah mode tersebut.
Babak Chanel yang Lebih Bebas di Era Blazy
Inspirasi utama kembali pada Gabrielle "Coco" Chanel. Foto-foto sang pendiri memenuhi mood board Blazy: perjalanan gaya Chanel dari tailoring Edwardian yang kaku, ketertarikannya mengenakan pakaian para kekasih, hingga lahirnya tweed suit yang kemudian menjadi ikon rumah mode.
Blazy menerjemahkan gagasan tentang perempuan dengan banyak sisi. Siluet boxy khasnya dihadirkan berdampingan dengan busana yang mengikuti lekuk tubuh, mulai dari knit transparan hingga corset top berhias mutiara yang dipadukan dengan celana hitam maskulin.
Jaket tampil dalam aneka rupa, dari potongan cropped bermotif grafis hingga patchwork dan detail menyerupai korset. Ada juga gaun coat warna ivory yang menawarkan kesan minimalis, sementara permainan motif yang saling bertabrakan memberi napas lebih berani.
Rangkaian siluet yang dihadirkan mencakup tutu, gaun parachute bermotif awan, hingga busana berkilau yang mengingatkan pada langit malam. Ada pula interpretasi baru Chanel suit menggunakan material stretch yang mempertahankan tampilan tweed sekaligus memberi kenyamanan ala sportswear.