Fimela.com, Jakarta - Panggung Chanel Summer 2027 di Paris Fashion Week bukan hanya soal koleksi yang memicu perbincangan. Rumah mode ini juga memberi ruang bagi banyak perempuan tampil kuat di pentas global. Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah Rachel Ojuromi, model asal Nigeria yang kehadirannya jadi sorotan.
Beberapa tahun lalu, Rachel hanya membayangkan rasanya hidup di Paris. Pada 2020, ia bahkan membuat video tentang kehidupan yang ia impikan di kota itu. Lima tahun berselang, bayangan tersebut berubah jadi nyata. Bukan sekadar tiba di Paris, ia justru melangkah di salah satu panggung mode paling prestisius sebagai model runway Chanel Spring/Summer 2027.
Yang membuat pencapaian ini kian menarik, rute Rachel menuju Grand Palais tidak berawal dari agensi model besar atau jalur konvensional industri. Namanya tumbuh dari jalanan Lagos, konsistensi berkarya di media sosial, dan kecintaannya pada fashion.
Perempuan 22 tahun ini sebelumnya dikenal sebagai creative director, filmmaker, dan storyteller, sekaligus pendiri platform seni dan budaya The Process Africa. Dunia modeling baru ia eksplorasi belakangan, setelah cukup lama berkarya di balik layar.
Jalanan Lagos Jadi Panggung Pribadi
Berdua dengan sahabatnya, Debby Fasingha—seorang stylist sekaligus designer—Rachel mulai meracik video fashion yang mempertemukan high fashion dengan keseharian di Lagos. Dalam video-video yang kemudian viral itu, ia tampil penuh warna dan berkarakter kuat sambil melakukan aktivitas amat biasa: pergi ke pasar membeli sayuran, mengambil koran, hingga membawa sekeranjang pisang di atas kepala.
Pilihan busananya pun berani: rok fringe warna fuchsia, animal print, tailored suit, corset dress, hingga beragam kombinasi layering. Jalanan Lagos menjadi latar, dan di sanalah Rachel menjadikannya runway personal. Dengan konsep yang sederhana namun kontras, fashion hadir di tengah kehidupan sehari-hari—bukan hanya di studio atau atas panggung pertunjukan.
Di balik penampilan yang terlihat effortless, Rachel memiliki pengetahuan fashion yang mendalam. Dalam wawancara dengan Models.com, ia menuturkan ketertarikannya pada sejarah fashion serta berbagai koleksi lintas era. Salah satu runway yang sangat memengaruhinya adalah Prada Fall 1988, sementara koleksi Mugler dari era 1990-an juga menjadi referensi penting dalam cara ia memahami fashion.
Menariknya, Rachel baru mulai mengenakan high heels pada 2025. Ia tidak pernah menciptakan gaya catwalk khusus untuk video-videonya. Cara berjalan yang kemudian dianggap memiliki “model energy” sejatinya adalah gaya berjalannya sendiri. Bagi Rachel, yang utama bukan meniru langkah model tertentu, melainkan menyampaikan rasa dan karakter melalui gerak tubuh.
Momen Penentu Bersama Chanel
Kedekatan Rachel dengan Chanel terjalin sebelum ia benar-benar menjejak runway rumah mode itu. Salah satu video yang paling mengubah langkah kariernya adalah interpretasi ulang yang ia dan Debby buat terhadap Chanel Métiers d’Art show.
Alih-alih menyalin koleksi secara persis, keduanya menerjemahkan kode-kode busana Matthieu Blazy menggunakan pakaian yang mereka miliki—termasuk item thrift—lalu membawanya ke jalanan Lagos. Video tersebut viral dan menarik perhatian Blazy sendiri.
Rachel menyebut video itu sebagai kendaraan yang membawanya sampai di titik ini. Meski begitu, ia tidak melihat perjalanannya sebagai tonggak yang terjadi dalam semalam.
"It's a series of compounding events. It's never overnight," ujar Rachel kepada Vogue.
Ini adalah serangkaian peristiwa yang saling mengakumulasi. Hal ini tidak pernah terjadi dalam semalam.
Menurut Rachel, momen besar yang tampak di permukaan sejatinya merupakan buah dari banyak hal yang telah ia kerjakan dan bangun selama bertahun-tahun.
Langkah Perdana di Grand Palais
Pada 5 Oktober 2026, semua proses itu berujung pada momen yang dulu sulit dibayangkan. Rachel berjalan di show Chanel Spring/Summer 2027 karya Matthieu Blazy yang digelar di Grand Palais, Paris.
Untuk debutnya, ia mengenakan set tweed abu-abu dan kuning yang terdiri dari atasan bergaya shirt dan rok midi. Warna kuning tersebut punya makna personal karena merupakan warna favorit Debby Fasingha, sahabat sekaligus partner kreatif yang turut membersamai perjalanan fashion Rachel.
Look itu terasa pas: menghadirkan salah satu kode klasik Chanel melalui tweed, tetapi dengan interpretasi yang lebih muda dan effortless. Rambutnya dikepang dan ditarik rapi ke belakang, sementara makeup dibuat glowing dan natural. Rachel pun mengapresiasi keputusan tim Chanel untuk mempertahankan penampilannya tetap dekat dengan dirinya sendiri.
Menjelang naik runway, rasa gugup sempat muncul. Ia berlatih berjalan dan mengaku khawatir tersandung di atas panggung. Dukungan dari model-model yang lebih berpengalaman—termasuk Anok Yai dan Bhavitha Mandava—membantunya lebih tenang dan mengingatkan bahwa ia memang pantas berada di sana. Ketika akhirnya melangkah di runway Chanel, Rachel bisa menikmati momen tersebut.
Cita-cita Kreatif Melewati Modeling
Walau debut di Chanel membuat namanya kian dikenal sebagai model, Rachel tidak melihat modeling sebagai satu-satunya tujuan. Baginya, fashion adalah bagian dari ekosistem kreatif yang lebih luas.
Melalui The Process Africa, ia ingin mendokumentasikan perjalanan para kreator muda Afrika sejak awal—bukan hanya saat mereka sudah mendapat pengakuan internasional. Rachel juga membawa perspektif kolektif dalam kariernya. Ia bertanya, apakah sebuah kesuksesan sungguh berarti bila hanya dirinya yang mendapat kesempatan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Kini, dari jalanan Lagos menuju Grand Palais, Rachel Ojuromi memperlihatkan bahwa runway tidak selalu menjadi tempat pertama seorang model menemukan dirinya. Ada kalanya, runway justru hadir setelah seseorang berani membangun panggungnya sendiri.
Mungkin inilah yang membuat debut Chanel Rachel terasa istimewa: ia tidak menunggu dunia fashion menemukannya. Ia lebih dulu menciptakan dunianya sendiri, hingga akhirnya dunia fashion datang menghampiri.